SPBU Tegalsari Curangi Konsumen, Masih Tetap Beroperasi


SUARABAYA | AP.COM – Masyarakat harap waspada dan cermat saat melakukan pembelian/pengisian BBM pada kendaraannya. Pasalnya, salah satu SPBU nakal di Jl. Tegalsari beberapa Hari yang lalu terbongkar kedoknya oleh Satreskrim Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim.
Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi pada SPBU di tempat yang lain.
Dari hasil pengungkapan dugaan penipuan ini, Polisi menetapkan dua orang tersangka yakni, EP (39), selaku sopir truk BBM, dan IH (33) selaku pengawas SPBU.
Modus operandi yang dilakukan di SPBU milik PT. JM ini dengan cara, BBM dari tangki mobil dimasukan ke dalam dombak atau tandon penimbunan yang tidak sesuai. Contohnya, Premium dan Pertalite ditimbun dalam tandin Pertamax.
“Sehingga, ketika pengguna kendaraan mengisi Pertamax, sebenarnya yang masuk adalah Premium atau Pertalite.” Ungkap Kasubdit IV Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Rofiq Ripto Himawan, Selasa (27/2) kepada, analisapublik.com
Praktik curang ini sudah dilakukan selama kurang lebih tiga tahun. Hal ini dilakukan, agar supaya pihak SPBU meraup keuntungan yang lebih besar.
Selain itu, SPBU ini juga diduga juga melakukan penipuan jenis Dexlite dan Bio Solar.
Ketika konsumen membeli Dexlite akan memperoleh Bio Solar.
Keuntungan setiap orang dalam satu bulan diperkirakan mencapai Rp 18 juta. “Dan ini merupakan kasus yang cukup serius, karena sangat meresahkan masyarakat.
“Kasus dugaan ini kami anggap cukup serius karena meresahkan masyarakat. Kami akan serius mengusut perkara ini,” terang Rofiq.
Masih kata Rofiq, Anggota Kami juga menemukan bahwa, BBM yang dijual di SPBU Tegalsari ini adalah BBM untuk daerah lain di luar Surabaya. Caranya, sebelum BBM dari PT Pertamina didistribusikan ke luar daerah,  dituangkan dulu sebagian di SPBU tersebut. Jumlahnya  diperkirakan dalam sehari mencapai 1,8 ton. Dan kasus ini tetap Kami kembangkan, kemungkinan ada tersangka lainnya” imbuhnya.
“Sementara itu, Unit Manager Communication and CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Jatim, Bali dan Nusa Tenggara (Nusra), Rifky Rakhman Yusuf mengaku, menyerahkan sepenuhnya kasus ini pada pihak Kepolisian. Pihaknya mendukung agar tersangka ditangani sesuai dengan proses hukum yang berlaku.
Menurut Yusuf, perbuatan tersangka tidak hanya merugikan nama baik Pertamina, tapi juga merugikan konsumen. “Kami memandang bahwa tindakan kepolisian dalam mengungkap perilaku tersangka merupakan sebuah langkah yang positif,” katanya.
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 55 UU RI No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Jo Perpres RI No 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM. Dengan ancaman pidana maksimal enam tahun penjara dan denda maksimal Rp 60 miliar. (SUPRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *