Bermain Baby Lobster, 2 Pria Diamankan Aparat


BANYUWANGI | AP.COM – Dua orang pria, Berinisial JR (69) warga Dusun Banjar Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, dan MR (30) warga Desa Sumberkima Kecamatan Gerokgak, Buleleng-Bali harus menjalani pemeriksaan kepolisian lantaran diduga melakukan tidak pidana terkait baby lobster.

“dua tersangka kembali berhasil diamankan karena diduga dengan sengaja turut serta dan atau membantu mengedarkan dan atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat dan atau melakukan usaha perikanan dibidang pengangkutan yang tidak memiliki surat ijin usaha perikanan (SIUP),” ungkap Kapolres Banyuwangi, AKBP Dony Adityawarman S.I.k., Jumat (11/5/2018).

Penangkapan tersebut, lanjut Dony, berawal dari petugas unit Polsek yang mendapat informasi adanya aktifitas peredaran bibit lobster.

“Awalnya anggota jajaran kami mendapat informasi bahwa adanya aktifitas yang diduga tindak pindana terkait bibit/baby lobster. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata benar ada kegiatan pengemasan/packing baby lobster jenis pasir dan mutiara disalah satu rumah yang berlokasi di Dusun Pancoan Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, yang dilakukan oleh kedua tersangka.selanjutnya kedua tersangka dibawa ke Mapolres Banyuwangi guna dilakukan penyidikan lebih lanjut,” beber Dony.

Dia menambahkan, dari penangkapan tersebut, berhasil diamankan barang bukti 17.229 ekor benih lobster beserta semua perlengkapan alat packing/pengemasan.

“Dari perbuatan tersangka, kerugian negara diperkirakan sekitar Rp. 170 juta rupiah sampai Rp. 850 juta. Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 88 dan atau pasal 92 UU nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan UU nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan Jo pasal 2 dan pasal 7 peraturan Menteri Kelautan dan perikanan Republik Indonesia nomor 56/PERMEN-KP/2016 tentang larangan penangkapan dan atau pengeluaran lobster (panulirus spp), kepiting (scylla spp) dan rajungan (portunus pelagicus spp) dari wilayah Negara Republik Indonesia Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan ancaman penjara maksimal 6 tahun dan denda paling banyak 1,5 Miliard ,” imbuhnya. (BD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *