Fenomena Gunung Es Percaloan Aparatur Sipil Negara

BLORA | AP.COM – Terkuaknya percaloan ASN (Aparatur Sipil Negara) di Blora yang dimuat beberapa media cetak merupakan sebuah fenomena gunung ES. Tidak hanya kemungkinan jumlah korban yang dapat bertambah, terkuaknya pelaku-pelaku lain tetapi juga menguak fenomena mentalitas destruktif yang dapat mendegradasi peran dan tujuan birokrasi.

Mentalitas destruktif dapat berasal dari orang-orang yang ada dalam birokrasi maupun masyarakat terutama yang berkeinginan masuk dalam struktur birokrasi. Dari kedua pihak tersebut paling tidak terdapat sebuah kesalahan mendasar dalam mempersepsikan posisi dan peran birokrasi.

Birokrasi dipersepsikan sebagai lahan ekonomi dan untuk masuk ke dalamnya diperlakukan dengan transaksi keuangan layaknya proses jual beli. Dalam jual beli maka adakalanya muncul makelar dan calo yang menjadi perantara antara masyarakat dengan orang kuat dalam birokrasi yang merasa berhak menggunakan kekuasaanya melampaui sistem rekrutmen yang standar dalam memilih siapa yang berhak mengisi sebuah posisi di jajaran birokrasi.

Dalam peristiwa ini birokrasi masuk menjadi wilayah personal yang kadangkala mengabaikan pronsip rasionalitas dalam pengelolaan personal birokrasi. Akibatnya struktur birokrasi akan menyerap orang-orang yang tidak profesional sesuai bidang dan tugasnya.

Prinsip profesionalitas yang terabaikan akan menjadikan sistem berjalan dengan lambat karena terbebani orang-orang yang tidak berkompeten. Akibatnya birokrasi menjadi beban karena tidak mampu berkontribusi mengatasi masalah bahkan adakalanya menjadi beban masalah itu sendiri. Maraknya fenomena percaloan ASN di sisi masyarakat juga menunjukkan bahwa menjadi ASN masih menjadi idola untuk mencapai kemakmuran. Pengeluaran sejumlah uang untuk menjadi ASN juga menunjukkan fenomena lemahnya orientasi entrepreneur dalam masyarakat kita.

Ratusan juta uang lebih mudah dikeluarkan untuk suap daripada untuk membuka usaha. Atau memang iklim usaha yang yang ada saat ini memang benar-benar tidak kondusif sehingga masyarakat kita masih cukup banyak menunjukkan kultur main terabas untuk mencapai tujuannya. Fenomena calo ASN tentu saja harus diperbaiki di kedua sisi baik mereka yang berada dalam birokrasi maupun masyarakat itu sendiri.

Profesionalisme harus menjadi syarat terpenting untuk masuk dalam birokrasi dan prinsip meritokrasi harus menjadi standar pertama dalam mobilitas hierarki untuk menentukan kenaikan posisi. Sayangnya kedua prinsip itu kadang masih jauh panggang dari api.

Terakhir, mungkin perlu direnungkan kembali makna birokrasi yang dijabarkan Max Weber sebagai Bapak Birokrasi Modern. Menurut Weber birokrasi merupakan organisasi hierarki yang ditugaskan secara rasional untuk mengkoordinasikan orang-orang yang ditetapkan mengurusi administrasi tertentu. Maka menjadi sangat jelas untuk masuk dalam birokrasi sama sekali tidak berkaitan dengan uang. (Red-ADN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *