Silaturahmi BEM Nusantara Selenggarakan Kuliah Kebangsaan Sebagai Respon Aksi Terorisme Surabaya

SURABAYA – AP.COM – “Momentum kuliah kebangsaan yang mengupas 4 pilar kebangsaan harusnya bisa dijadikan sebagai sarana edukasi bagi mahasiswa”, tegas Ahmad Noor Fuadi, Koordinator Forum Silaturahmi BEM Nusantara saat diwawancarai dalam acara kuliah kebangsaan di Universitas Negeri Surabaya.

Menurutnya cara yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi BEM Nusantara bersama dengan BEM Fakultas Ekonomi Unesa tersebut, memang diorientasikan untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Mahasiswa sebagai rule model dikalangan pemuda harus paham benar mengenai 4 pilar kebangsaan ini. “Pemuda adalah sosok penggerak yang harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang ada pada 4 pilar tersebut dalam setiap geraknya”, lanjut Ahmad Noor Fuadi, kamis (31/5)

Kemampuan dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan tersebut diharapkan dapat meminimalisir munculnya paham-paham yang bersifat merusak persatuan NKRI.

“Kalau kita melihat kembali aksi terorisme yang terjadi di Surabaya pada beberapa waktu yang lalu, tentu kita akan diingatkan bagaimana satu keluarga melibatkan seluruh anggotanya untuk melakukan aksi terorisme. Disini kita bisa melihat bagamana paham itu ditanamkan”, tuturnya

Selain untuk memaksimalkan kemampuan mahasiswa dalam mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan, kuliah kebangsaan tersebut merupakan bentuk respon atas tindakan aksi terorisme yang terjadi di Surabaya dengan mengatasnamakan suatu paham.

“Kita menganggap penyelenggaraan kuliah kebangsaan ini adalah bentuk kesiapan Forum Silaturahmi BEM Nusantara dalam mengawal kesatuan NKRI”, jelas Ahmad Noor Fuadi, ketika menyampaikan kesiapan Forum Silaturahmi BEM Nusantara dalam mendukung dan mengawal penciptaan iklim kondusif dengan semangat kebangsaan di seluruh wilayah NKRI.

Sejalan dengan yang disampaikan oleh Ahmad Noor Fuadi, Dr. Ahmad Basrah, MH, juga mengungkapkan dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan semangat kebangsaan pendekatan secara edukatif penting untuk dilakukan. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menciptakan paham tandingan bagi paham yang bersifat merusak NKRI.

Sehingga ketika semangat kebangsaan ini sudah merasuk dalam jiwa masyarakat maka tidak akan ada lagi tindakan amoral yang melibatkan suatu paham.

“Ketika seorang individu didik maka apa yang didapatkan pada proses pendidikan itu akan menjadi modal dalam melakukan tindakan dalam kehidupan sehari-harinya. Aksi terorisme yang terjadi di Surabaya beberapa saat lalu sudah melibatkan ranah doktrin sehingga melibatkan anak-anak dalam aksi terorisme tersebut”, tandasnya.

Dr. Ahmad Basarah, MH mengungkapkan sejak runtuhnya kekuasaan rezim Orde Baru oleh propaganda Reformasi yang memuncak dipertengahan Mei 1998 lalu, Pancasila memang nyaris terkubur  dari ingatan kindertagesstätte sendiri. Dihapusnya mata pelajaran pengamalan pancasila seperti PMP yang belum tergantikan oleh program lain membuat pancasila hampir luput dari ingatan warga negara Indonesia.

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan edukasi tentang pentingnya mendalami identitas bangsa maka pada 22 Februari tahun 2012 yang lalu ketua MPR RI Taufik Kiemas meluncurkan buku yang berjudul Empat Pilar untuk Satu Indonesia : Visi Kebangsaan dan Pluralisme Taufik Kiemas. Kemudian setelah itu sosialisasi tentang 4 pilar kebangsaan mulai sering dilakukan sampai sekarang. (Wwn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *