Padepokan Berlogo Winongo Dirusak Massa

AP.COM | JEMBER – Sebuah padepokan di Dusun Krajan, Desa Bagorejo, Gumukmas digeruduk puluhan warga, Kamis (31/5) malam. Meski tak sampai menimbulkan korban, namun massa yang diduga berasal dari perguruan silat tersebut merusak gapura yang berlogo mirip perguruan silat asal Madiun dan bertuliskan “Tunas Muda Winongo”.

Pemimpin Padepokan Kusnasum Sadid Abdullah Shiddiq mengatakan, serangan itu terjadi sekitar pukul 21.00 ketika sejumlah orang sedang tadarus. Menurut dia, sebelum massa yang diperkirakan berjumlah 40 orang itu merusak gapura, ada tiga orang yang mendatangi rumahnya. Salah satu di antaranya mengaku bernama Kirun. Mereka meminta agar logo Tunas Muda Winongo yang berada di gapura padepokan dihapus.

“Satu dari tiga orang itu juga membawa senapan angin. Bahkan semalam sempat tertinggal di sini,” katanya, saat ditemui kemarin. Dia menyanggah tempatnya tersebut disebut padepokan, melainkan Pondok Pesantren Tholabul Ulum. Dirinya juga mengaku memiliki belasan santri dari sejumlah daerah dan menampik ada kegiatan silat di pesantrennya.

Sebelum aksi perusakan itu terjadi, Kusnasum sempat berbincang dengan ketiga tamu asingnya itu. Namun, tak berselang lama, ada suara gaduh di luar pesantren. Dia pun keluar dan mengunci para tamunya di dalam rumah. Ternyata suara gaduh itu berasal dari puluhan massa yang telah bergerombol dan merusak gapura.

“Saya tidak tahu kenapa massa meminta kami menghapus logo Winongo itu,” ungkapnya. Pria berambut gondrong itu juga mengaku sempat meminta pertanggungjawaban kepada tamu yang dianggapnya sebagai pimpinan massa yang merusak gapura tersebut dan meminta nomor ponsel mereka.

Rupanya aksi perusakan ini tak berhenti sampai di situ. Kusnasum mengutarakan, dua jam kemudian atau sekitar pukul 23.00, segerombolan massa yang diduga berasal dari perguruan silat yang sama kembali datang. Kali ini, jumlah mereka tak sebanyak sebelumnya, hanya sekitar 10 orang.

Tanpa banyak cakap, Kusnasum bercerita, mereka langsung mengeluarkan cat dan menyemprotkannya ke logo yang terbuat dari semen tersebut. “Saat itu, anak-anak saya minta tidak bertindak untuk menghindari kisruh. Kemudian kasus ini saya laporkan ke kepolisian,” ujarnya.

Pantauan wartawan ap.com Jember, logo Winongo itu tertutup semprotan cat berwarna hitam dengan pola menyilang. Tulisan Tunas Muda Winongo juga samar sementara di kanan dan kiri logo ada bekas perusakan. Pecahan material juga berserakan di bawah bangunan yang bergambar logo tersebut.

Sementara Kepala Polsek Gumukmas Iptu Sucahyo mengatakan, menurutnya, yang dirusak bukanlah gapura pesantren melainkan padepokan. Dia menyebut padepokan, karena di dalamnya hanya ada empat orang yang diklaim sebagai santri. Selain itu, kata dia, suasananya juga lebih mirip padepokan bukan pesantren.

“Kami sudah menerima laporannya. Sebagai tindak lanjut, kami akan menyelidiki untuk menemukan siapa pelakunya,” jelasnya. Karena melibatkan dua kelompok massa, mantan Kanit Provos Polres Jember ini meminta masyarakat untuk tetap tenang, dan menyerahkan kasusnya ke polisi.

Sucahyo juga mengimbau, warga tak mudah terpancing dengan isu-isu yang dapat memprovokasi, maupun yang justru membuat suasana kian memanas. Oleh karenanya, jika ada informasi tambahan mengenai kasus ini, dia meminta masyarakat segera melaporkan ke polisi untuk diselidiki lebih lanjut. “Sehingga penyelidikan yang kami lakukan bisa berhasil secara maksimal,” tandasnya. (Nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *