Kesiapan Jajaran Dirpolair Dalam Rangka Melaksanakan Ops Ketupat 2018

JAKARTA | AP.COM – Perairan dan udara merupakan pelaksana tugas pokok dan fungsi Polri di wilayah perairan dan udara Indonesia yang memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat, pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat serta penegakkan hukum yang tersebar dari tingkat kewilayahan hingga tingkat Mabes Polri.

Maka dalam hal ini Direktorat Polisi Air Baharkam Polri akan melaksanakan Operasi Ketupat yang akan digelar jelang Hari Raya Idul Fitri 2018 nanti.

Dan Dirpolair menerjunkan tiga unit kapal yang bertugas di tiga daerah tersebut. ”Diantaranya satu kapal polisi Albatros – 3001 di pelabuhan penyeberangan Merak -Bakauheni, satu kapal polisi Kolibri 4015 di wilayah Teluk Jakarta, dan kapal polisi Gagak – 3011 di pelabuhan penyeberangan Ketapang -Gilimanuk, “kata Dirpolair Korpolairud Barhakam Polri Brigjen Pol Lotharia Latif saat memberi keterangan persnya kepada awak media di Markas Korpolairud Barhakam Polri, jl. RE. Martadinata, Jakarta-Utara, Senin, ( 4/6/2018).

Menurut dirinya pihak Polair nantinya akan melakukan patroli di perairan untuk mengantisipasi terorisme dan bekerja sama dengan kewilayahan, baik di tempat-tempat publik, di sekitar pelabuhan. “Dan nantinya kami juga akan giat melakukan patroli-patroli di peraitan kita, di laut kita untuk mengantisipasi hal itu, ” ujar Latif.

Dan Latif juga menegaskan bahwa pihaknya selalu melakukan kegiatan rutin untuk mencegah pencurian di perairan Indonesia.”Setidaknya ada sepuluh titik rawan pencurian. Di antaranya, di perairan Belawan, Dumai, Pulau Nipah, Tanjung Priok, Gersik, Taboneo, dan Samarinda atau Muara Berau. Ada pula di Teluk Adang, Balikpapan, dan Tanjung Berakit,”ungkapnya.

Kendati demikian Dirpolair Baharkam Polri periode 1 Januari -31 Mei 2018 berhasil menangkap 13 kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia. Mayoritas kapal-kapal tersebut berbendera Vietnam dan Malaysia.

Dan terakhir, Dirpolair berhasil mengungkap penyelundupan baby lobster di perairan Jawa Timur, Riau, Jawa Barat, NTB, Jambi dan Bali. Diantaranya kasus baby lobster sebanyak lima kasus yang jumlahnya 200.407 ekor.

Lotharia Latif juga menjelaskan tindak pidana penyelundupan dan tindak pidana di luar kepabeanan di wilayah perairan Sumatera Barat, Kepri, Riau, Bangka Belitung, Jambu, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Sumatera-Utara. “Dan ada 62 kasus dengan tafsiran kerugian negara sebesar Rp 1,5 miliar, “terangnya seraya menambahkan
Mereka juga menangkap kapal ikan yang menggunakan bom ikan ( bahan peledak), Dan ini terjadi di wilayah perairan Jawa Timur, NTT, NTB, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Lampung dan Bali. “Dimana ada sebelas kasus, juga beberapa bahan peledak seperti amonium nitrat atau pupuk matahari dan detonator didapat secara ilegal dari Malaysia, “pungkasnya.(Why)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *