Brokohan KLHS Kendeng, Do’a Keselamatan Alam Seisinya

PATI – ANALISAPUBLIK.COM – Tembang Pocung dilantunkan dengan khidmat oleh kelompok klenengan Wiji Kendeng yang terdiri dari 14 generasi muda penerus ajaran Samin Surosentiko, membuka acara brokohan (selamatan) Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dari 7 kabupaten yang bertempat di Omah Kendeng, Sukolilo, Rabu (20/6).

“Nadyan watu, mung mangkono kang kadulu, ning tetep piguna, tumrap gesang kita niki, awit dadi omah banyu, ingkang nyata (Walau batu, hanya seperti itu yang terlihat, tapi tetap berguna, untuk hidup kita ini, karena jadi rumah air, yang nyata),” kata Tantri (46), pendamping belajar anak-anak sedulur Sikep Sukolilo menjelaskan syair tembang yang dilantunkan oleh kelompok klenengan generasi muda Sedulur Sikep “Wiji Kendeng”.

Siang hari itu sekitar pukul 11.00 WIB, satu persatu para narasumber menyampaikan paparannya terkait dengan KLHS Pegunungan Kendeng yang keduanya sudah keluar. Kalau KLHS Tahap I hanya mengkaji zona Rembang (CAT Watuputih), di KLHS Tahap II ini mengkaji seluruh Pegunungan Kendeng Utara di tujuh kabupaten, meliputi Grobogan, Blora, Rembang dan Pati (Jawa Tengah) serta Bojonegoro, Tuban dan Lamongan (Jawa Timur).

“Kalau dilihat dalam luasan yang kurang lebih 32 kilometer persegi ada sekitar 23 perusahaan tambang di Watuputih Rembang, maka bisa dikatakan bahwa penyebab utama kerusakan lingkungannya adalah tambang. Untuk di wilayah lain, ini dikarenakan terbitnya peraturan baru, seperti untuk infrakstruktur, perumahan, dan lain-lain,” ujar Dr. Soeryo Adiwibowo, koordinator tim KLHS mengawali sesi pemaparan.

Disebutkan dalam dokumen tertulis KLHS II ini bahwa Kabupaten Blora akan terkena dampak jika pabrik Semen Indonesia dibangun. Kecamatan yang akan terkena dampak adalah Blora Kota, Tunjungan, Bogorejo dan Jepon, dan total jumlah penduduk yang diduga kuat akan terpapar debu pabrik tersebut sejumlah 50 persen dari total penduduk yang berada di radius 500 meter – 3 kilometer,
yaitu 7.149 jiwa.

“Rekomendasi KLHS menetapkan agar tidak mengubah lanskap. Ini tentunya tidak pada pertambangan. Kalau yang di KLHS Tahap I lokasi yang krusial adalah di Watuputih. Untuk yang KLHS Tahap II ini yang krusial adalah di Tambakromo dan Kayen,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan oleh Prof. Sudharto P. Hadi, MES, Ph. D. selaku penanggungjawab tim panel pakar penguji hasil KLHS yang menyatakan pegunungan Kendeng yang ada sebetulnya sudah melewati daya dukung lingkungan.

“Bukti-bukti di antaranya adalah terjadinya banjir, kekeringan dan tanah longsor. Sehingga peruntukannya jangan untuk pertambangan,” jelas Prof. Sudharto.

“Tindak lanjut jangka pendek dari rekomendasi KLHS yang ada adalah penegakan hukum. Jangka panjangnya adalah tata ruang,” imbuhnya.

Setelah dialog, acara dilanjutkan dengan brokohan. Selamatan ini bertujuan semoga dengan telah terbitnya KLHS Tahap I dan II akan membawa kebaikan dan kelestarian bagi alam seisinya.

“Brokohan KLHS. Saya memaknainya brokohan Kendeng, selamatan alam,” pungkas KH. Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem, pengelola Pondok Pesantren Kauman, Lasem.

Di sela-sela workshop sablon kaos Roemah Goegah, acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan lagu-lagu perjuangan dari band-band seperti Kepal SPI (Keluarga Seni Pinggiran Anti Kapitalisasi – Serikat Pengamen Indonesia), Sisir Tanah (Bantul), Navicula (Bali) dan juga Marjinal (Jakarta). (ADN/Eko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *