Masyarakat Jaman Dulu Merayakan Lebaran

Caption : Ilustrasi anak kecil sholat ied.

LAMONGAN – ANALISAPUBLIK.COM – Salah satu hal yang tak disukai kaum single selama silaturahmi Lebaran adalah pertanyaan soal jodoh.

Tradisi mengaitkan momentum Lebaran dengan jodoh bisa jadi akarnya memang ada dalam kebiasaan masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah, sekitar seabad lalu, Lebaran menjadi momentum masyarakat mencari jodoh.

Berikut ini cara orang merayakan lebaran sekira hingga saat lampau di berbagai kota.

Lamongan, Jawa Timur

Bunyi letusan Petasan (Mercon) terdengar saat lepas magrib, sehari menjelang Lebaran. Tanda bahwa puasa telah berakhir. Setelah itu, suara takbir keluar dari masjid dan langgar-langgar. Sejumlah orang tua dan anak – anak pergi ke Masjid.

Pada malam lebaran, Bapak – bapak di pelosok kampung mengundang ke rumah untuk mereka yang baru lepas dari takbiran. Sekadar menikmati hidangan, Lontong sayur Lodeh,gulai ayam, apem, serabi, wedang, dan roti kukus yang lezat. “Selamatan ini dimaksud untuk malam penutup,” Menjelang Hari Raya ied

Pada pagi hari lebaran, masyarakat Lamongan beribadah seperti umat Islam lainnya. Selepas sembahyang lebaran, mereka ke luar rumah untuk bersilaturrahmi. Anak-anak kecil berharap memperoleh isi untuk kantong celananya. Orang dewasa memberi anak kecil itu beberapa picis uang. Cukup untuk membuat riang hati anak-anak kecil.

Tanjung Kodok yang sekarang menjadi WNL wisata Bahari Lamongan penuh oleh pengunjung. Sebab “untuk penduduk Lamongan, satu-satunya tempat tamasya cuma Tanjung Kodok (WBL),”. Mereka bertumpukan seperti ikan pindang, bercampuran dengan copet dan pengemis yang coba mengais sedikit peruntungan di hari Lebaran.

Terdengar pula suara bumbung pelontar mercon. Bumbung terbuat dari bambu tua sepanjang satu meteran. Ada lubang di punggung pangkalnya untuk diisi karbit. Orang lalu menyulut karbit itu dengan api, lalu melontarlah mercon itu dari mulut bumbung. “Bunyinya kelu, macam bunyi meriam zaman purba,”.

Orang Lamongan menyalakan bumbung untuk dua alasan: merayakan lebaran dan berlomba. Bumbung siapa paling kencang, dialah pemenang. Yang bunyinya mendem, harus siap menerima ejekan di hari kemenangan. (Nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *