Panarub Industry Juara Gerakan Sayang Ibu, GSBI Tangerang : Ini Penghinaan bagi Buruh Perempuan

Caption : Demo buruh panarub dwikarya (panarub group) menuntut kejelasan status PHK yang dilakukan pihak perushaan

TANGERANG – ANALISAPUBLIK.COM – PT. Panarub Industry terpilih sebagai JUARA 1 Lomba Gerakan Sayang Ibu (GSI) tingkat Kota Tangerang 2018 dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3 AP2 KB), Disnaker dan Forum Kota Tangerang Sehat (FKTP) menganugerahi PT Panarub Industry sebagai Kategori Perusahaan Pembina Terbaik Tenaga Kerja Perempuan (PPTTKP) dalam lomba bertema, Gerakan Sayang Ibu (GSI).


Lomba dilaksanakan setingkat Kota Tangerang dari 20 Maret 2018 sampai dengan 31 Mei 2018.

Namun lomba tersebut menuai kritik dari para aktivis buruh Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) tangerang raya.

Seperti yang diungkapkan kokom komalawati sekertaris DPC GSBI Tangerang

“Bagaimana Pemkot Tangerang bisa memberikan penghargaan kepada perusahaan, dengan kategori pembina tenaga kerja perempuan terbaik, sementara kekerasan terhadap buruh perempuan Panarub Industry dialami setiap hari? ” Kata Kokom Komalawati sekretaris DPC GSBI Tangerang,Sabtu (23/6/2018).

Kokom komalawati, memamparkan beberapa fakta-fakta terkait persoalan buruh PT.Panarub Industry (Panarub Group)

1. Panarub Industry merupakan salah satu anak usaha Panarub Group. Anak usaha lainnya adalah Panarub Dwikarya Cikupa, Bintang Indokarya Gemilang dan Panarub Dwikarya Benoa. Panarub Group mendapatkan order dari Adidas dan Mizuno. Perlu diketahui, buruh-buruh Panarub Dwikarya Benoa, 90% perempuan, kasusnya belum diselesaikan. Panarub Group cuci tangan untuk menyelesaikan kasus.

2. Panarub Indusrtry mempekerjakan 8000 buruh dengan 90 persen perempuan. Di dalamnya memang ada ruang laktasi, tapi nyaris tidak dapat dipergunakan. Karena para buruh tidak memiliki waktu untuk mengakses ruang tersebut akibat target kerja yang diluar batas manusia. Buruh perempuan di Panarub Industry bekerja seperti kuda: dipecut dan dibentak.

3. Kekerasan verbal dan psikis sebagai tindakan harian. Untuk mencapai target para mandor dan supervisor seringkali membentak, mengintimidasi dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada operator. Para operator adalah buruh perempuan dimana kondisi tersebut membuat mereka tidak nyaman sehingga banyak yang memilih keluar dari pekerjaan, walaupun secara ekonomi masih membutuhkan pekerjaan.

4. Untuk mencapai target seringkali jam kerja yang dilalui buruh perempuan di atas jam normal.

5. Cuti haid hanya menjadi hiasan di PKB . Di atas kertas memang diakui cuti haid, namun tidak mungkin diambil karena bukan proses yang mudah untuk mengambil hak cuti haid. Sehingga buruh-buruh perempuan di Panarub Industry harus bekerja dalam keadaan haid.

6. Buruh perempuan yang hamil masih bekerja diatas 8 jam,mengoperasikan mesin bahkan bekerja ditempat yang terpapar bahan kimia. Selain itu perlakuan atasan kepada buruh perempuan yang hamil tidak menghargai  kondisi kehamilannya, buruh perempuan hamil seringkali dipindah-pindah posisi kerja karena dianggap tidak produktif.

“Perlakuan yang sama tidak hanya berlaku bagi buruh yang hamil,tetapi buruh yang sedang dalam kondisi sakit dan buruh yang sudah tua. Buruh dengan kondisi sakit dan tua harus siap untuk dipindah kemana saja karena dianggap tidak produktif dan tentu kondisi seperti itu membuat tidak nyaman dalam bekerja.” Ungkapnya.

7. Walaupun secara aturan jam istirahat satu jam tetapi dalam prakteknya buruh tidak bisa menikmati waktu istirahat dengan leluasa, pada saat jam istirahat buruh kesulitan mendapat akses air bersih. Jam istirahat harus digunakan buruh untuk menampung air bersih agar bisa digunakan untuk wudhu dll.

“Ketujuh  fakta di atas hanya sebagian dari kekerasan yang dialami perempuan-perempuan yang bekerja di PT Panarub Industry” Bebernya.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah ada kasus PHK terhadap 1300 buruh PDK ( masih satu managemen dalam Panarub Grup )yang melakukan aksi dibulan Juli 2012, dimana salah satu latar belakang buruh melakukan aksi adalah karena tidak ada perlindungan bagi buruh perempuan.

“Kasus PHK buruh PDK sudah berjalan enam tahun dan belum selesai, tetapi waktu yang lama tidak akan membuat buruh lupa atas perlakukan managemen Panarub terhadap buruh perempuan PT Panarub Dwikarya. Selain yang disebutkan diatas masih banyak lagi fakta-fakta lain yang tidak bisa disebutkan” Jelasnya.

Terkait hal tersebut DPC GSBI tangerang menyatakan Bahwa

1. Panarub Industry tidak layak mendapatkan penghargaan sebagai pembina tenaga kerja perempuan terbaik. Penghargaan tersebut harus segera dicabut karena menyakiti perempuan.

2. Perbaiki dan penuhi hak-hak perempuan orang yang bekerja di PT Panarub Industry dengan mengurangi target kerja, mempermudah hak cuti haid, berikan kondisi kerja yang nyaman dan sebagainya.(Marsan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *