Pekerjaan Jembatan Timbang di Pelabuhan Boom Banyuwangi Diduga Asal – Asalan

BANYUWANGI – ANALISAPUBLIK.COM – Pelaksanaan pekerjaan jembatan timbang di pelabuhan Boom kabupaten Banyuwangi diduga dikerjakan secara asal-asalan. Hal tersebut lantaran diareal jembatan timbang terlihat masih kotor terutama dibagian sensor timbangan yang belum beroperasi tetapi sudah terkena kotoran limbah beton.

“Seharusnya, mengingat ini adalah alat yang digunakan dalam jangka panjang maka perlu diperhatikan lokasi disekitar jembatan timbang harus benar-benar siap dan bersih dengan catatan sudah diratakan serta dirapikan dengan finishing aspal atau beton. Bila hal tersebut tidak dilakukan, maka pasir, tanah dan debu akan mudah masuk, sehingga akan merusak system pada timbangan bahkan kedepan akan mempersulit proses maintenance (perawatan dan servis),” ungkap seorang lelaki berprofesi sebagai Design build plus Pengerjaan Proyek, yang namanya tidak mau disebutkan dalam berita, Kamis (21/6/2018).

Tak hanya itu, dalam proses pekerjaan baja, seharusnya sebelum baja terpasang harus dicat untuk mencegah korosi atau karat.

“Fakta di lapangan, nampak terlihat fisik plat baja dan WF sudah berkarat, hal tersebut bisa jadi karena system pengecatannya kurang maksimal, terlihat dari baja yang masih terlihat belum dicat ulang setelah ada proses sambungan las pada baja. Bila korosi terjadi, maka hal tersebut akan berpengaruh pada kekuatan baja”, jelasnya, yang diketahui sudah tujuh tahun menggeluti profesinya.

Selanjutnya, untuk bantalan beton timbangan juga diperlukan kualitas beton yang baik agar tidak mudah rusak, dikarenakan muatan pada kendaraan adalah muatan bertonase berat.

“Pekerjaan beton terlihat adanya pelapisan ulang. Untuk menganalisa kualitas beton, kita dapat melihat secara kasat mata. Bila kualitas beton semakin kuat, maka akan terlihat semakin gelap warna beton sehingga warnanya seperti hijau lumut. Dan bila semakin buruk mutu beton maka warnanya semakin pucat. Untuk lebih detailnya maka diperlukan pengujian terhadap beton itu sendiri apabila warna pucatnya karena adanya tambahan zat kimia”, lanjutnya.

Selain itu, lelaki yang juga pernah mengerjakan proyek di luar negeri itu juga menambahkan, bila peran pengawasan pelaksanaan project sangat penting dalam keberhasilan pengerjaan proyek. Oleh karenanya dibutuhkan adanya desain perencana, schedule pelaksanaan dan pengawasan untuk hasil yang bagus.

“Kalau kita perhatikan dengan adanya dugaan banyaknya kekurangan dalam pengerjaan proses tersebut, maka hal tersebut bisa dikarenakan adanya dugaan kecerobohan pengawasan,” imbuhnya.

Diketahui, pekerjaan jembatan timbang tersebut masuk dalam item pekerjaan pembangunan pelabuhan Boom tahun 2018 yang dilaksanakan oleh PT. Inti Jawa Teknik dengan total anggaran senilai Rp. 12.002.198.000,- rupiah. Proyek tersebut dibawah pengawasan pemerintah daerah Provinsi Jawa Timur satuan kerja Dinas Perhubungan.

Sayangnya Dinas Perhubungan Propinsi Jawa Timur melalui Nyono selaku Kuasa Pengguna Anggaran Bidang Perhubungan Laut, beberapa kali dikonfirmasi melalui whatshapnya di nomor 08214996xxxx terkesan tertutup, bahkan tidak mau memberikan tanggapannya.

Padahal sebelumnya, sempat memberitakan juga terkait pengerjaan pembangunan proyek tersebut yang tidak terpasang papan nama (plang informasi proyek). Dan setelah adanya berita, barulah pihak pelaksana proyek memasang papan nama, padahal proyek tersebut diketahui sudah berjalan sekitar 1 bulan tanpa papan nama.(bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *