Waduk Bersejarah Peninggalan Belanda di Lamongan

ANALISAPUBLIK.COM – LAMONGAN – Hari ini Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda Stephanus Abraham Blok berkunjung ke Jawa Timur Rabu (04/07/2018). Waduk Prijetan (Pridjetan) adalah lokasi yang akan dikunjungi Stef panggilan akrab dari Stephanus Abraham Blok. Dan tak banyak yang tahu bahwa Lamongan menyimpan peninggalan era kolonial tersebut yang monumental. Bangunan kolonial peninggalan Belanda itu masih digunakan hingga hari ini.

Waduk Prijetan ini dibangun Belanda kala itu mulai tahun 1910 sampai dengan 1916 dan diresmikan pada tahun 1917. Salah satu insinyur yang turut serta dalam pembangunan waduk ini adalah kakek buyut dari Stef
Itu adalah salah satu alasan Stephanus Abraham Blok mengunjungi waduk tertua di Indonesia tersebut. Selain itu, dia menyampaikan pemerintah Kerajaan Belanda juga menyediakan beasiswa bagi masyarakat Indonesia untuk belajar di Belanda, khususnya terkait sumber daya air.

“Kakek buyut saya dulu bekerja sebagai insinyur dalam pembangunan waduk ini. Ini adalah salah satu contoh, hubungan erat masyarakat Belanda dan Indonesia, serta antara pemerintah Belanda dan Indonesia, “ ujarnya.
Waduk Prijetan berlokasi di dua kecamatan di Lamongan, tepatnya di Desa Girik, Kecamatan Ngimbang, Desa Tenggerejo dan Desa Mlati, Kecamatan Kedungpring. Waduk yang memiliki 6 anak sungai ini memiliki luas 231 hektar dengan kapasitas awal 12 juta meter kubik.

DiWaduk tersebut ada 4 nama yang disebut sebagai pelaksana proyek pembangunan waduk, yakni Tuan Birman, Tuan Delos, Tuan Trong, dan Tuan Dliger (Mevr JF A Dligoor).

Selain itu dilokasi waduk terdapat Makam Tua yang diduga merupakan buyut stef, Di nisannya tertulis nama Mevr. JF A Dligoor yang lahir pada tahun 1860 dan meninggal pada tahun 1930. Makam itu, berada di sisi barat pintu air waduk sekitar 100 meter. Nama terakhir ini diduga adalah buyut dari Menlu Belanda saat ini, Stefanus Abraham Blok.Tetapi yang masih menjadi teka-teki adalah warga Belanda yang bernama Dligoor ini adalah seorang lelaki, tapi mengapa makamnya tertulis Mevr yang berarti perempuan.

“ketika waduk sudah beroperasi, Dligoor masih tinggal di sana hingga meninggal dunia,” Dan lokasi makam Dligoor ini kini digunakan sebagai lokasi sedekah bumi untuk menghormati jasa pendahulu yang telah membangun waduk.
Dari sebanyak 224 bendungan yang ada di Indonesia, empat diantaranya sudah berusia di atas 100 tahun. Salah satu yang tertua adalah Waduk Prijetan di Kecamatan Kedungpring, Lamongan. ini disampaikan Sekretaris Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) M Arsadi saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda Stephanus Abraham Blok dia Waduk Prijetan
Sementara Bupati Lamongan Fadeli menyebutkan, kapasitas awal Waduk Prijetan mencapai 12 juta meter kubik. Namun akibat sedimentasi, kapasitas saat ini menyisakan 9,7 juta meter kubik. Dan Waduk tersebut selama ini mengairi 4.513 hektare sawah di 33 desa yang berada di 3 kecamatan. Yakni Kecamatan Kedungpring, Sugio dan Modo.

Untuk mendukung fungsi irigasinya, Waduk Prijetaan didukung saluran primer yang mencapai 5.176 meter dan saluran sekunder sepanjang 21.594 meter.

Kunjungan di tengah kawasan hutan jati itu juga dihadiri Duta Besar Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol bersama Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Charizal A Manu.(Rend-Nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *