Melihat Kedekatan Kang Marhaen Dengan Rakyat Nganjuk

NGANJUK – ANALISAPUBLIK.COM – Rabu, 27 Juni 2018 kemarin merupakan hari dimana masyarakat di sejumlah daerah telah menentukan calon pemimpin yang bisa diandalkan. Tak hanya sekadar menerapkan kebijakan, calon pemimpin ini juga diharapkan mampu memahami kondisi rakyatnya nanti jika terpilih.

Nah, salah satu cara untuk memahami kondisi rakyat di daerah yang dipimpin adalah dengan turun ke lapangan. Hal tersebut sama seperti apa yang dilakukan oleh Calon Wakil Bupati Nganjuk, Marhaen Jumadi ketika membaur bersama masyarakat di acara pentas wayang kulit dalam rangka bersih Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.

“Wayang kulit merupakan kekayaan nusantara yang lahir dari budaya asli masyarakat Indonesia yang mencintai kesenian. Setiap bagian dalam pementasan wayang mempunyai simbol dan makna filosofis yang kuat. Apalagi dari segi isi, cerita pewayangan selalu mengajarkan budi pekerti yang luhur, saling mencintai dan menghormati, sambil terkadang diselipkan kritik sosial dan peran lucu,” ujarnya.

Lebih lanjut Kang Marhaen juga menyampaikan bahwa wayang merupakan warisan kekayaan budaya Indonesia yang bernilai adiluhung, bahkan UNESCO juga mengakuinya.

Oleh karena itu, Kang Marhaen berharap semua komponen yang ada di Nganjuk ikut serta dalam melestarikan budaya adiluhung yang sarat pelajaran budi pekerti ini.

“Selain pemerintah, lembaga maupun dukungan masyarakat diharapkan ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya seperti wayang kulit. Karena, wayang sendiri penuh dengan makna positif dalam mengajarkan generasi muda terhadap budi pekerti serta adat budaya negeri,” ungkapnya.

Menurut Kang Marhaen, di Nganjuk banyak sekali budaya warisan nenek moyang yang kini masih diuri-uri atau dilestarikan hingga kini, karena banyaknya warga yang mendalami berbagai kesenian.

“Dilihat dari kultur budaya, Kabupaten Nganjuk memiliki seni tradisi, adat istiadat, pola kehidupan sehari-hari dan religi. Banyak jenis adat budaya tradisi yang masih berkembang subur dan tetap mendapat tempat di hati masyarakat, di antaranya wayang kulit,” cetusnya.

Politisi asal PDI Perjuangan ini menegaskan, masyarakat Nganjuk sebagai pecinta wayang kulit lebih cenderung pada pakeliran yang mengacu kepada pakem tradisi yang penuh dengan ajaran budi luhur dan jauh dari hura-hura.

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Nganjuk masih memegang teguh adat budaya tradisi dan kesenian wayang kulit yang selalu diapresiasi secara positif. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nganjuk masih kokoh memegang teguh jati dirinya,” tandasnya. (Komarudin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *