Oknum Kades Dipolisikan Warga Gara-gara Cekcok Pengukuran Tanah

PASURUAN | ANALISAPUBLIK.COM – Pengukuran batas tanah antarwarga di salah satu desa di Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, Senin (9/7), berbuntut. Setelah sempat terjadi keributan, kini oknum kepala desa setempat berinisial SP itu dilaporkan warganya ke Polres Pasuruan Kota.

keributan itu terjadi di lahan milik Zainul Alim. Semula, Alim bermaksud mengukur tanah yang akan dibangun sebagai tempat bimbingan belajar kaum duafa. Sehari sebelumnya, Alim memang sudah memangkasi bambu yang ada di lahan tersebut.

“Karena saya mau magari tanah saya, pohon-pohon bambu itu sudah dibersihkan mulai Minggu. Kemudian hari Senin saya datangi keluarga Pak Kades, minta izin untuk mengukur tanah. Sebab, tanah saya berbatasan dengan tanah keluarga Pak Kades. Sekaligus meminta kejelasan batas tanah saya dan milik mereka,” katanya.

Kepada media ini, Alim mengaku sudah mendapat kesepakatan dari hasil pertemuan itu. Memang, dalam pertemuan itu SP tidak hadir. Ia pun sempat bertanya kenapa SP tidak hadir. Namun saat itu, keluarga SP menjawab tidak akan ada persoalan. Sehingga, Alim pun melanjutkan pengukuran batas tanah.

“Saat diukur itu pun saya tidak memberi patok sesuai dengan batasan tanah saya. Melainkan saya lebihkan sedikit untuk diberikan ke tanah milik keluarga Pak Kades,” terangnya.

Namun, saat pengukuran tanah berlangsung, tiba-tiba Kepala Desa SP datang. Menurut Alim, SP datang dan langsung marah-marah serta meminta pengukuran tanah itu dihentikan. Hal itu kemudian diikuti oleh sebagian keluarga SP yang sebelumnya menyepakati pengukuran tanah itu dilakukan.

“Istri saya memang merekam video saat Abah saya dimaki-maki oleh Pak Kades. Saya berusaha meredam. Bahkan, Pak Kades sempat memukul adik saya dan istri saya,” jelasnya.

Situasi pun terus memanas hingga akhirnya, HD yang merupakan keponakan SP membawa wadung sepanjang 1 meter. Alim menyebut, HD saat itu mengancam keluarganya. “Kalau mendekat selangkah akan dibacok katanya. Akhirnya keluarga kami lari untuk menenangkan Abah. Hari itu juga saya lapor ke polisi,” ungkapnya.

Terpisah, SP mengaku apa yang diutarakan Alim tak sepenuhnya benar. Menurutnya, dia datang dan hanya menanyakan kejelasan luasan tanah. Sebab, ia pun tak mengetahui persis luasan tanah milik ibunya tersebut.

“Saya datang dan tanya baik-baik. Mereka kan mengaku sudah berunding dengan ibu saya. Namun, ternyata saya dengar bahwa ibu saya belum tahu. Hanya disampaikan melalui keponakan saya. Saat itu, istrinya Alim merekam video. Saya tanya ke dia, nduk buat apa direkam. Tapi dijawab, buat bukti,” urai SP.

Lebih lanjut, SP juga membantah jika sempat terjadi pengeroyokan ataupun pemukulan terhadap keluarga Alim. Ia menyebut, keributan yang terjadi hanya sebatas adu mulut semata.

“Namun memang kebetulan ada kapak. Keponakan saya malu karena ribut-ribut. Maka dari itu, ditakut-takuti dengan kapak agar semua membubarkan diri,” jelasnya.

Soal laporan yang ditujukan kepadanya, SP mengaku pasrah. “Saya siap menghadapinya, wong saya tidak ada tujuan lain selain menanyakan batas tanah. Saya tidak merasa benar, silakan kalau memang dilaporkan ke polisi. Memang mereka yang lebih pintar. Semua saya pasrahkan kepada Allah,” ucapnya.

Sementara itu, KBO Satreskrim Polres Pasuruan Kota Iptu Jayadi mengaku, pihaknya sudah menerima laporan dari Alim. “Sudah kami terima. Laporannya terkait dugaan perbuatan tidak menyenangkan. Terlapor memang oknum kepala desa,” terangnya.

Jayadi menyebut, pihaknya sudah mengamankan barang bukti yakni sebilah kapak dan rekaman video saat keributan terjadi. Ia menyampaikan pihaknya masih menyelidiki kasus itu. Selain itu, petugas telah melakukan olah TKP sebanyak dua kali.

“Setelah ada laporan kami langsung ke TKP. Kemudian Sabtu kemarin dilakukan olah TKP kedua untuk mempertegas. Nanti akan kami panggil beberapa saksi dan dilanjutkan dengan gelar perkara”jelasnya. (Nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *