Kinerja PU Binamarga Banyuwangi Jadi Pergunjingan Netizen

BANYUWANGI | ANALISAPUBLIK.COM – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Cipta Karya dan Penataan Ruang (BMCKPR) Banyuwangi, Jawa Timur, jadi sasaran kritik netizen. Instansi pemerintah ini dianggap hanya menghamburkan uang negara.

Serta tidak pro pemerataan pembangunan.

“Trotoar apik2 di bongkar, ngono iku dianggep waras? ,” tulis aktivis dan akademisi Banyuwangi, Fajar Isnaini, melalui akun Facebook(FB) nya.

Kritikan pedas tersebut bermula dari unggahan status FB bernama Kaukus Muda Banyuwangi. Disitu diceritakan terkait pembangunan trotoar disalah satu sudut kota.

“Bongkar Trotoar Yang Masih Bagus, Emang PU Gak Ada Kerjaan Lainkah? Atau Sedemikian Urgen Di Banding Memperbaiki Jalan Produksi Pertanian? Pak Kadis Sehat?,” begitu bunyi statusnya.

Isi status yang genit dan menggelitik, spontan memancing reaksi peselancar dunia maya Bumi Blambangan.

“Itulah hebatnya pemerintah daerah kita. Pembangunan hanya berorientasi pada penyerapan dan habisnya anggaran saja bukannya pemerataan dan kebutuhan. Kesmpulannya berlomba lomb NGOLET ALEM kata wong banyuwangi,” tulis akun Kang Hasyiem.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Penataan Ruang, Dinas PU BMCKPR Banyuwangi, Bayu Hadiyanto ST, membantah jika pekerjaan proyek pembangunan trotoar dibawah naungannya hanya menghamburkan uang negara. Karena pembongkaran dilakukan guna penambahan jalur difabel. Meskipun trotoar yang dibongkar, sebagian masih dalam kondisi baik dan layak.

“Dasarnya, Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 6 Tahun 2017 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas,” katanya, Sabtu (28/7/2018).

Termasuk, masih Bayu, untuk mendukung estetika City Tour kunjungan pariwisata di Banyuwangi.

“Kalau sesuai standar, 2 tahun ada pemeliharaan rutin dan 5 tahun pemeliharaan berkala,” pungkas Bayu.

Namun, penjelasan Kabid Bina Marga tersebut terkesan bertolak belakang dengan yang terjadi dilapangan. Pasalnya sampai saat ini masih ada trotoar di wilayah kota Banyuwangi, tepatnya di Lingkungan Gentengan, Kelurahan Pengantigan, dibiarkan menganga tanpa penutup.

Padahal, selain membahayakan warga sekitar, trotoar dilokasi setempat adalah perlintasan para wisatawan asing. Lalu sejauh mana dukungan terhadap sektor pariwisata Banyuwangi?.

Terkait hal tersebut, Bayu pun menambahkan bila bukan hanya tempat tersebut, banyak juga lokasi yang belum tertangani. Sedangkan pihaknya melakukan action dengan mengacu terhadap anggaran dan lokasi.

“kita juga sudah mengajukan penganggaran APBD, namun karena keterbatasan anggaran yang disetujui masih prioritas jalan poros. kita juga menyampaikan ke pihak wilayah baik kecamatan dan kelurahan/desa untuk berperan serta”, imbuhnya. (Bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *