Pro Kontra Pemahaman Tentang Bendera VOC Dalam Festival Gandrung Sewu 2018

Kadis Disbudpar Banyuwangi dan Dandim 0825. Memberikan informasi yang utuh, agar tidak menimbulkan multi tafsir.

 

BANYUWANGI | ANALISAPUBLIK.COM – Ramainya perbincangan pro kontra pemahaman di sosial media (sosmed) terkait adanya bendera VOC yang berkibar dalam pagelaran Festival Gandrung Sewu (GS) 2018, membuat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, angkat bicara.

Menurutnya, semua yang ada dipagelaran GS hanya properti yang ingin ditunjukan oleh kreator/ sutradara, agar penonton berada pada suasana saat itu.

“Mas alit selaku bupati pertama, naik kapal VOC dan hilang oleh perompak-perampok itu bagaimana kemudian ceritanya akan tersambung dlm GS 2019,” ungkap Bram, panggilan akrabnya, melalui Whatshapp (WA) pribadinya, Minggu (21/10).

Bram menjelaskan bila Gandrung itu ada sejak tahun 1700-an tepatnya tahun 1774 dan diciptakan sebagai siasat atau kode untuk melawan penjajah dalam hal ini VOC.

“Kok ada gambar bendera Belanda dalam Festival Gandrung Sewu 2018? Itu adalah bendera VOC yang ada di replika kapal VOC. Gandrung Sewu 2018 ini kan menceritakan perlawanan rakyat Banyuwangi kepada VOC pada saat bupati pertama Mas Alit th 1774,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menerangkan bila Tema Gandrung Sewu 2018 adalah Layar Kumendung yang artinya Kesedihan di atas kapal yaitu Kapal VOC tersebut yang mana banyak masyarakat Banyuwangi yang dibantai dan disiksa.

“Ada yang tanya kenapa dalam akhir cerita kok tidak dirobek birunya? Mau dirobek gimana? Itu peristiwa tahun 1700-an. Indonesia merdeka 1945, artinya sebelum tahun 1945 itu masih negara jajahan,” lanjutnya.

Kemudian saat ada yang tanya kenapa itu kok bukan bendera Indonesia? “Pakai logika aja, tahun 1700-an mana ada kapal berbendera Indonesia, sedangkan Indonesia merdeka tahun 1945,” tegasnya.

Bram pun menambahkan, “Mari uri-uri budaya sendiri, jangan cuma bisanya protes ketika diklaim daerah atau negara lain sedangkan kita sendiri acuh dan tidak tahu sejarah budaya kita,” imbuhnya.

Selanjutnya, ditempat terpisah, Dandim 0825 Banyuwangi, Letkol (Inf) Ruli Nuryanto, saat dikonfirmasi analisapublik.com melalui handphone nya, dirinya hanya memberikan pesan ajakan untuk masyarakat Banyuwangi, agar memberikan informasi yang utuh agar tidak menimbulkan multi tafsir.

“Silahkan diberikan info kepada publik secara jelas dan gamblang agar tidak terjadi perdebatan yang dapat menimbulkan perpecahan dalam keluarga besar rakyat banyuwangi dan jangan memberikan informasi sepotong-potong sehingga menimbulkan salah penafsiran,” katanya, Minggu (21/10).

Dia pun berterimakasih kepada masyarakat Banyuwangi yang sudah peduli dengan kedaulatan merah putih dibumi pertiwi.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Disbudpar Banyuwangi menyelenggarakan pagelaran Festival Gandrung Sewu, sabtu (20/10/2018), di pantai Boom Banyuwangi.

Nampak hadir dalam acara tersebut Menteri Pariwisata, Ir. H. Arif yahya MSi beserta istri, pejabat pendamping dari Kementrian Pariwisata Indonesia, wakil gurbernur Jatim Drs. Saipullah Yusuf beserta istri, Bupati Banyuwangi Abdullah azwar Anas MSi beserta istri, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiatmoko S.Sos. bersama istri, Ketua dan wakil ketua DPRD Banyuwangi, segenap jajaran Forum kordinasi pimpinan daerah Banyuwangi, Sekretaris daerah Banyuwangi.

Selain itu, hadir pula tamu undangan istimewa, seperti Rusmaya hadi selaku Anggota dewan gubernur BI, Kepala perwakilan Bank Indonesia propinsi jawa timur, Kepala perwakilan BI Jember, tokoh yang menginspirasi Prof. Renard Kasali, BSC komisaris utama PT. Angkasa Pura Dua, Direktur utama Bank Jatim Raden Suroso, Direktur managemet resiko Bank Jatim Risana Mirda, Pemimpin Devisi perencanaan strategis dan management kinerja Bank Jatim Revi Adiana Silawati, Bupati dan wakil Bupati Gresik, Bupati Belitung timur Yuslih Isha Mahendra, Ada juga dari Jember Kepala Bakorwil lima Jember, Kepala OJK Jember, Presiden Direktur CMB Niaga dan jajaranya, juga hadir dari Pelindo Properti Indonesia, Mantan Kapolri Periode 1998-2000 Jendral polisi Purnawirawan Rusman hadi bersama istri, Irjenpol Rahmad Muliana, Deni Malik Koriografer Asian Game 2018, beserta orang orang penting lainya.

Kemudian, tak lama setelah acara selesai terselenggara, ramai beredar foto dan vidio baik digoup WA maupun sosmed facebook yang melihatkan adanya bendera VOC yang berkibar ditengah-tengah acara tersebut. Hal itu sontak membuat banyak pihak langsung memberikan komentar. Dalam komentarnya, ada pihak yang pro dan ada pihak yang kontra terhadap kejadian tersebut. (BUD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *