Dibalik Kesuksesannya, Inilah Sejarah Kehidupan Sosok Pria Bertalenta

BANYUWANGI | ANALISAPUBLIK.COM – Saat ini, siapa yang tidak mengenal Michael Edy Hariyanto, SH, selain sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Banyuwangi, dia juga dikenal sebagai pengusaha sukses ternama di Kabupaten Banyuwangi, serta dikenal juga sebagai pemilik tempat wisata Alam Indah Lestari (AIL).

Akan tetapi, dibalik kesuksesannya itu, mungkin hanya segelintir orang yang tau bagaimana sejarah perjuangan kehidupannya sebelum menjadi sukses seperti saat ini.

Kepada analisapublik.com, Michael panggilan akrabnya, bercerita bila dirinya lahir pada 12 Maret 1970 di Desa Badean Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kala itu, karena orang tua nya tergolong keluarga yang kurang mampu, maka ia pun dilahirkan disebuah rumah milik orangnya tuanya. “Kedua orang tua saya bercerita kepada saya bila karena faktor ekonomi dengan tidak memiliki biaya, saya terpaksa dilahirkan tidak dirumah sakit,” ungkapnya, Kamis (8/11/2018).

Selain itu, dia pun bercerita bila dimasa kecilnya, layaknya anak yang terlahir dari desa, ia bermain bersama dengan anak-anak lainya tanpa ada sekat atau batasan. Mandi disungai bersama anak-anak lainya, hujan-hujanan, dan bermain ala tradisional itu sudah menjadi hal biasa kala itu. “Saya Sekolah Dasar (SD) nya di Badean,” terangnya.

Kemudian, menginjak pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), karena faktor keterbatasan ekonomi orang tuanya, Michael dititipkan ke pamannya yang bertempat di Rogojampi. “Agar saya bisa tetap bersekolah, saya dititipkan ke paman saya saat sekolah SMP. Disana saat usai sekolah, saya membantu paman, karena kebutuhan sehari-hari saya ditanggung oleh paman saya,” kata Michael dengan mata berkaca-kaca karena mengingat kehidupan yang ia alami kala itu.

Tak beda jauh seperti saat SMP, demi kelangsungan pendidikannya, diwaktu sekolah SMA, dia dititipkan ke saudaranya yang ada di daerah Probolinggo. Mulai biaya sekolah sampai kebutuhan sehari-harinya ditanggung oleh saudaranya, sehingga setiap pulang sekolah dirinya selalu membantu manjaga toko milik saudaranya itu.

Tak berhenti disitu, perjuangannya untuk mendapatkan pendidikan pun terus berlanjut, usai lulus SMA, dia nekat masuk ke salah satu Universitas ternama di Surabaya. Setelah diterima menjadi mahasiswa, pada semester pertama, faktor ekonomi keluarganya kembali menghambat kesehariannya sebagai mahasiswa. “6 bulan pertama, uang buat kebutuhan sehari-hari saya tersendat-sendat, karena keluarga juga harus membayar biaya masuk kuliah. Itu aja keluarga besar iuran untuk menyicil/mengangsur biaya masuk kuliah,” jelasnya.

Disemester kedua, lanjutnya, Michael mendapat beasiswa dari kampus sehingga kuliahnya pun digratiskan. “Sejak semester kedua saya mendapat beasiswa. Dan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya disana, sambil berkuliah saya bekerja menjadi guru privat (les),” bebernya.

Selanjutnya, nasib beruntung pun datang kepadanya. Disemester ke-7 dia mendapat beasiswa dari salah satu perusahaan untuk kuliah di Jepang dengan semua biaya ditanggung perusahaan. Dengan berbagai pertimbangan, beasiswa itu pun ia ambil. Michael mengajukan cuti kuliah dan kemudian mengikuti kursus bahasa jepang selama setahun secara gratis.

Tetapi hal itu tak berjalan mulus, dengan adanya kebijakan Negara Jepang dimana saat itu untuk mengantisipasi adanya penyelundupan tenaga asing yang masuk ke negaranya, setiap warga asing yang akan menempuh pendidikan di negaranya harus bisa memberikan jaminan sejumlah uang, itu sebagai bukti bila orang tersebut mampu sehingga datang ke jepang bukan untuk bekerja.

“Saat mau berangkat, Visa saya tidak keluar karena saya tidak memiliki uang untuk jaminan. Sedangkan perusahaan hanya memberikan gratis kuliah beserta kebutuhan sehari-hari. Dari situlah saya tidak jadi kuliah di jepang. Karena saya sudah terlanjur cuti kuliah selama setahun, maka perusahaan memberikan kebijakan dengan memberi kompensasi terhadap saya uang senilai 35 juta rupiah. Itu terjadi di tahun 1992,” paparnya.

Dengan modal uang yang didapat tersebut, Michael memutuskan kembali ke Banyuwangi. Dia memulai usaha dari sektor pertanian. Mulai dari menanam semangka, cabai dan lainya serta menjual hasil pertaniannya sendiri ke luar daerah sudah pernah ia tekuni. Kemudian dia mulai mengembangkan usahanya dengan membuka toko pertanian. Karena kerja keras dan ketekunannya, usahanya pun terus berkembang dan saat ini dia memiliki 5 perusahaan yang cukup besar bahkan ia juga telah mengembangkan usahanya disektor wisata.

Dari serangkaian cerita hidup penuh perjuangan yang dia alami itu, dan dengan pahitnya kehidupan yang pernah ia rasakan, dia pun saat ini bertekad ingin membantu masyarakat agar bisa mendapatkan kehidupan yang sejahtera.

“Menjadi pengusaha saya hanya bisa membantu tetapi tidak bisa menyelesaikan persoalan rakyat tentang kemiskinan dan kesejateraan. Setelah saya belajar politik barulah saya tahu jika hanya melalui jalur politik bisa membantu persoalan rakyat yaitu tentang kesejahteraan. Sehingga saya pun memutuskan masuk ke politik demi masyarakat,” ucapnya.

Oleh karenanya, saat ini Michael dengan penuh semangat dan tekat yang kuat tanpa mengenal lelah, melakukan road sow dari desa ke desa untuk memberikan pendidikan politik yang benar. Karena menurutnya politik jika digunakan sesuai koridornya, maka sangat berperan aktif dalam membantu mensejahterakan masyarakat.

“Lewat politik kita bisa membantu penyerapan anggaran pemerintah untuk kepentingan rakyat. Sehingga rakyat bisa langsung merasakan program-program pemerintah yang diperuntukan untuk rakyat,” imbuhnya.

Michael berjanji bila pada Pemilihan Umum (Pemilu) yang akan digelar pada 2019, ia terpilih sebagai anggota legislatif, maka amanat yang diberikan masyarakat kepadanya tidak akan ia sia-sia kan. Dia akan berjuang semaksimal mungkin untuk rakyat. Sehingga dia akan fokus mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat.

Untuk diketahui, saat ini dirinya turun langsung menjadi Calon Legislatif (Caleg) DPRD Kabupaten Banyuwangi dengan nomor urut 1 di Daftar pilih (Dapil) II (dua) yang meliputi Kecamatan Kabat, Blimbingsari, Rogojampi, Singojuruh dan Songgon. (BUD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *