Kejari Bangka Tahan 2 Pejabat PUPR, Kasus Korupsi Pipa Transmisi Kolong Merawang

ANALISAPUBLIK.COM | Sungailiat – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka akhirnya menahan dua orang pejabat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat SDA Wilayah Sumatera VII Kepulauan Bangka Belitung (Babel), yakni  Abdurroni dan Mulyanto.

Kedua pejabat ini ditahan dalam kasus korupsi proyek rehab tranmisi Kolong Merawang tahun 2016 lalu yang diduga  menyebabkan negara menderita kerugian sekitar Rp 2.9 milyar lebih.

Kepala Kejari Bangka, R Jeffri Huawe melalui Kepala Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Aditia, menyampaikan bahwa selain kedua pejabat tersebut pihaknya juga menahan M Riffani dan Yuda Suara alias Aloi selaku kontraktor yang mengerjakan proyek itu. Kedua kontraktor itu sudah terlebih dahulu dititipkan ke Lapas Tua Tunu di Pangkalpinang.

“Mereka dijerat Pasal 2 Undang-Undang Tipikor jo Pasal 55 KUHP, subsidiair Pasal 3 Undang-Undang Tipikor jo Pasal 55 KUHP.” Ujar Aditia, Jum’at (07/12/2018).

Lebih lanjut Aditia menjelaskan, kegiatan rehab pipa transmisi Kolong Merawang menggunakan dana sebesar Rp 4.761.000.000, dan ditambah dengan pekerjaan pemasangan pipa intake senilai Rp 1.200.000.000, yang dimenangi oleh perusahaan PT Rian Makmur.

Namun pengerjaan proyek tersebut malah dilakukan oleh Yuda Suara Direktur PT Bangka Utama. Ternyata pelaksanaan proyek dikerjakan asal-asalan, sehingga pipa tak berfungsi dengan baik.

“Pipanya banyak  mengalami kebocoran sehingga pipa transmisi tersebut airnya tidak mengalir ke Water Treatment Pump (WTP-red),” ucap Aditia.

Sementara itu Kasi Intel Kejari Bangka, Andre membenarkan informasi terkait  adanya penahanan tersangka pipa Merawang tersebut.

“Betul memang ada penahanan tersangka pipa Merawang. Baru saja usai sekitar jam 16.00 WIB. Perkara ini merupakan pelimpahan dari penyidik Kejati Babel,” ujar Andre.

Ketika ditanya kenapa  penahanan tersangka justru dilakukan pihak kejari Bangka? Bukankah penyelidikan dan penyidikannya dilakukan oleh Kejati Babel?.

Andre katakan jika perkara ini penuntutannya atau jaksanya ada di Kejari Bangka sedangkan penyidik di Kejati Babel hanya melakukan penyelidikan dan penyidikan sedangkan untuk jaksa penuntutnya di Kejari.

Diketahui sebelumnya, perkara kasus dugaan korupsi rehab Pipa Merawang tahun 2016 mulai mencuat saat pimpinan Kejati Babel dijabat oleh Happy Hadiastuty pada tahun 2017 silam. (iskandar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *