Tanggapan Pra Barik Barliyan Suryawiyata, Terkait Kostum Para Pejabat Pemerintah Kabupaten Blora Pada Acara Kirab Budaya

ANALISAPUBLIK.COM | Blora – Berbicara soal budaya, tidak lepas dari sejarah kota tersebut. Bahwa masa dahulu Keraton merupakan Pusat Budaya. Wilayah Kabupaten Blora saat ini merupakan bagian dari Wilayah Keraton Djipang.

Keraton Djipang telah ada pada abad 15, sementara Mataram baru muncul 100 tahun lebih setelah keraton Djipang. Artinya, jauh sebelum adanya Mataram, Blora sudah memiliki budaya, termasuk pakaian.

Dalam memperingati hari jadi ke 269 Kabupaten Blora, prosesi kirab budaya yang dibuka oleh Bupati Blora Letkol. Inf. (Purn) Djoko Nugroho dan Wakil Bupati Arif Rahman, M.Si di Pendopo Kabupaten dan dilanjutkan dengan arak-arakan dengan berjalan kaki yang dilaksanakan pada Selasa (11/12/2018) kemarin.

Dalam peringatan itu, busana kostum para pejabat pemerintah mendapat sorotan dari berbagai pihak masyarakat. Kostum para pejabat dinilai identik dengan warna masing-masing parpol.

Menanggapi hal itu, Pra Barik Barliyan Suryawiyata, SH selaku Pangeran Raja Adipati (PRA) (Raja Jipang) serta anggota Yayasan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara yang anggotanya Keraton Djipang saat dihubungi via telepon oleh kontributor www.analisapublik.com, Kamis (13/12/2018) dikediamannya sekaligus alamat Yayasan Keraton Djipang di jalan Ronggolawe, Cepu, Kab. Blora menjelaskan, pihaknya secara pribadi mengaku prihatin melihat para petinggi Blora tampil dengan pakaian adat ala Mataraman.

“Blora Wis Wayahe Kuncara merupakan semboyan untuk segera kembali _nguri-nguri_ budaya asli Blora. Karena budaya merupakan jati diri bangsa (baca daerah). Jangan lagi jadi plagiator. Kirab budaya dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kabupaten bisa dijadikan tolak ukur sejauh mana upaya kita menampilkan Budaya Blora” ungkapnya.

Gerakan Keraton Jipang adalah sebuah gerakan moral untuk mengingatkan kembali rasa bangga di hati masyarakat Blora akan keberadaan Keraton Djipang miliknya yang mana saat ini telah diakui secara Nasional dan Internasional.

Keberadaannya setara dengan keraton-keraton lainnya di Indonesia.
Secara fisik, Keraton Djipang saat ini memang sudah tidak ada, tapi itu bukan masalah karena sejarah jelas-jelas menyatakan ada, sekaligus sebagai “Pengingat” bahwa Blora memiliki kebudayaan yang jauh lebih tua dari Mataram.

“Ini bukan dimaksudkan untuk membenci Mataram tapi, Blora harus merdeka secara Budaya, tidak menjadi Demak apalagi Mataram” imbuhnya.

Pihaknya juga mencontohkan seperti Bali yang makmur karena budayanya. “Wisatawan dalam dan luar negeri tidak akan datang ke Blora jika Blora tampil sama seperti Mataram, lebih baik mereka ke Jogja dan Solo yang memang asli Mataram” tandasnya.

Kalau soal tampilan, “Selama tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di daerah itu tidak ada masalah, karena sifatnya budaya pun dinamis” tambahnya.

Pihaknya juga berharap agar Keraton Djipang dijadikan icon pariwisata di Blora yang tidak dimiliki oleh daerah lain. (ARF)

Satu tanggapan untuk “Tanggapan Pra Barik Barliyan Suryawiyata, Terkait Kostum Para Pejabat Pemerintah Kabupaten Blora Pada Acara Kirab Budaya

  • Desember 14, 2018 pada 1:40 am
    Permalink

    Angkat kebudayaan asli daerah Blora bisa mengangkat harkat dan martabat daerah itu sendiri

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *