Bupati L.M Rajiun : Siap Jadi Tuan Rumah Satukan Persepsi Pembahasan Kaitan Soal Adat Muna dan Mubar

ANALISAPUBLIK.COM | Muna Barat – Bupati Muna Barat L.M Rajiun Tumada siap menjadi tuan rumah dalam rangka menyatukan persepsi dalam pembahasan kaitan tentang persoalan adat antara Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat sampai hari ini yang masih menjadi persoalan.

Hal ini disampaikan dalam sambutannya saat meresmikan bangunan taman budaya Kab.Mubar, Ini dilakukan untuk mengadakan kajian bersama bukan hanya kajian dari Kab. Mubar akan tetapi dengan kajian dari lembaga adat dari kab. Kab. Muna, Kamis (27/12).

Menurut Rajiun, hal ini penting bagi kita ketika persepsi dan kesepahaman dibangun dengan persoalan adat, karena adat sering permukaan tentang persoalan sosial kemasyarakatan seperti apa yg kita tau bersama bahawa pertikaian yg sering terjadi seperti sering tidak terjadinya perkawinan kadang-kadang muncul perselisihan pendapat.

“Olehnya itu satu kajian yang sangat kita nanti antara lembaga adat Kab. Mubar dan Kab. Muna mari kita untuk menyatukan kembali persepsi dan kita pikirkan bersama-sama tentang persoalan mahar yang biasa disebut dengan boka,” ujarnya.

‘Dan ini jadi pembicaraan kita saya kira ini kesepahaman antara Muna dan Mubar Kuta tindak lanjuti kalau itu dimungkinkan dari sisi budaya sebagai karekteristik sebagai masyarakat suku Muna kalu ini bisa satu nada atau bahasa bersama lebih memudahkan bagi kita, Dan kemudian kalau diadakan perubahan akan kita lalui dan bentuknya satu bahasa satu kesepahaman untuk tidak terjadi masalah yang lebih lanjut,” Urainya.

Saya sengaja munculkan kepermukaan karena ini sangat penting tidak mungkin terjadi sesuatu yang kita inginkan bila satu belah pihak untuk mengkaji ini akan tetapi kedua kabupaten ini membahas bersama-sama persoalan ini yang bertujuan untuk kebaikan bersama.

“Karena saya sering sampaikan bahwa masyarakat Muna terpisah dari sisi administrasi pemerintahan akan tetapi dari sisi adat budaya adalah salah satu kesatuan yang tdik bisa dipisahkan sebagai masyarakat suku Muna yang lahir dari empat pilar besar yaitu fatoghoerano”.

Lanjutnya. Jangan kami didombakan dengan hanya kepentingan sesat jangan kita diadumbokaan dengan kepentingan politik tetapi marilah kita tanamkan persaudaraan silaturahim antara masyarakat Muna dan Mubar.

Makanya saya ingin memikat dan menumbuhkembangkan tradisi kita yang sebenarnya,kita bisa liat pandangan kita dan mengambil contoh dari beberapa daerah lain yang begitu kompak kita ini cukup besar dan cukup dikagumi dan menjadi perhitungan daerah lain,

“Jadi momentum ini yang kita ambil dan yg kita lakukan yang menjadi masalah-masalah yang ada dan terjadi di Muna raya secara keseluruhan”, jelasnya.

Hal ini saya sudah mendengarkan pemikiran lembaga adat dari Kab.Muna bahwa lembaga adat dari Kab.Muna telah berkunjung di Kab.Mubar saya sangat apresiasi sekali pada lembaga adat Kab.Muna yang kemudian untuk mengadakan kajian bersama.

“Kajian ini akan difasilitasi oleh Pemred Muna atau Mubar yang pada dasarnya Kab. Mubar siap menjadi fasilitator dan kajian bersama tentang persoalan adat yang ada di Kab.Muna dan Mubar,” jelasnya.

Kalau kemudian kita rubah berarti ada kesepakatan bersama ini bisa disahkan dan diakui kesepakatan dua organisasi yang diwadahi dengan sebutan lembaga adat itu hanya bisa dilakukan disetujui dan disahkan dari pemerintah Muna dan Mubar kalau ini disatukan persepsi dan kajian bersama-sama m aka tuntas budaya dan adat Muna raya secara keseluruhan. (La Ode Safarudin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *