Budidaya Buah Naga Hasilkan Jutaan Rupiah

ANALISAPUBLIK.COM | Biak Numfor – Budidaya buah naga ternyata sangat menjanjikan, disamping banyak peminat dan pembeli, omzet yang dihasilkan dalam penjualan buah ini lumayan besar, sehingga banyak petani di Kampung Sepse, mencoba usaha ini.

Salah satunya Fredrik Rumkorem (64 th), Warga Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor yang menanam buah naga di hamparan kebun seluas 10000 meter persegi (M2).

Ketika ditemui, Sabtu (29/12), ia mengaku perkebunan tanaman buah naga miliknya di Kampung Sepse, Distrik Biak Timur, usianya sudah 4 tahun sejak 2014 silam. Fredrik mengaku bisa menghasilkan jutaan rupiah saat panen buah naga dan usaha ini sangat menjanjikan.

Ia menjelaskan, dalam proses penanamannya, buah naga membutuhkan waktu hingga satu tahun masa pertumbuhan, setelah itu barulah buah naga siap untuk dipetik hasilnya.

“Saya menanam buah maga secara organik. Saya tidak menggunakan bahan kimia, kalau menanam secara organik kualitas buah lebih enak dan baik untuk kesehatan”, tuturnya.

Setelah melewati masa tanam itu, dalam satu bulan, Fredrik bisa memanem buah naga hingga ratusan kilogram. Dalam masa panen buah naga terkadang juga bisa menghasilkan buah yang lebih banyak. Harga perbuah Rp. 35 ribu hingga Rp. 40 ribu tergantung besarnya buah.

“Dalam suatu waktu, buahnya melimpah ruah, jelas saja omzet bertambah, bisa mencapai belasan juta rupiah. Sementara omzet normal perbulannya Rp 5 juta,” ungkapnya.

Ia juga berbagi ilmu budidaya buah naga yang di dapatkan dengan mengikuti pelatihan di Jogja, dan menyarankan saat memulai usaha tersebut, yang paling penting dilakukan ialah pemilihan bibit dan cara merawatnya.

“Untuk petani, yang perlu diperhatikan cara perawatannya dan itu penting sekali,” katanya.

Fredrik menjelaskan, dalam perawatan keseharian khususnya dalam mengantisipasi kerusakan pohon buah naga, lahan harus bebas dari serangga dan harus diberi tonggak kayu di sekeliling pohon buah naga.

“Soal batas usia tanaman, tergantung perawatannya dan tonggak kayu yang disiapkan, harus kayu pilihan,” ujarnya.

Ia mengingatkan dalam usaha buah naga, juga terjadi proses pohon “ngedrop”, hal itu berdampak pada penurunan hasil buah. Apabila mendapatkan hambatan seperti itu, biasanya pohon tidak mendapat asupan air yang cukup atau terjadi musim kemarau bertutut-turut hingga empat bulan.

“Yang membuat pohon naga kerap berbuah, yaitu seringkali disiram air hujan dan rutinnya penyemprotan hama pada pohon buah, pupuk yang digunakan pupuk kompas yang saya buat sendiri”, tandasnya. (JER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *