Minuman Tradisional Bandrek Semakin Digemari

ANALISAPUBLIK.COM | Bandung – Bandrek salah satu minuman tradisional yang sangat disukai oleh masyarakat Indonesia. Khususnya orang suku sunda, minuman bandrek sangat cocok dicuaca dingin. Suku Sunda sebagian besar penduduk di wilayah lereng gunung atau pegunungan Jawa Barat dalam sejarah Jawa Barat adalah kekuasaan Kerajaan Padjadjaran Sri Baginda Maha Raja Prabu Siliwangi.

Dari 27 Kota dan Kabupaten Jawa Barat mayoritas berbahasa sunda, hanya ada 1 Kabupeten yang berbahasa jawa yaitu Kabupaten Indramayu. Sedangkan wilayah Cirebon menggunakan dua bahasa yaitu Sunda dan Jawa.

Sementara wilayah Banten sebelum memisahkan diri dari wilayah Jawa Barat menjadi provinsi terdapat dua bahasa. Wilayah Serang mayoritas menggungakan bahasa Jawa sedangkan Pandeglang, Lebak, Rangkasbitung, menggunakan bahasa Sunda.

Minuman bandrek itu sendiri dijadikan minuman herbal untuk kesehatan, pencegahan masuk angin dan mendongkrak stamina. Minuman yang terbuat dari bahan jahe merah, gula aren di campur sereh (kami zoro), cabe arai, dan lada hitam.

Akan tetapi sekarang minuman bandrek sudah dikombinasikan campuran susu manis (Bandrek Susu). Lain lagi di wilayah Kabupaten Indramayu, Cirebon dan Majalengka para penjual minuman khas leluhur dinamakan Sudrek (Susu Bandrek). Muhammad Yadi Kabiro Bandung Media Online analisapublik.com, ketika menyambangi pedagang minuman herbal dibeberapa wilayan di Jawa Barat belum lama ini.

Salah satu pedagang minuman herbal Bandrek di wilayah Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung letaknya di jembatan Cikaro (dulu jembatan Cibeet) jalur akses menuju obyek wisata Kamojang. Minggu (27/1/2019) Ibu Cucu Yuliah (ucu) istri dari Mahmud Rahmat (Almarhum). Kabiro Bandung analisapublilk.com menyambangi warung bandrek itu.

Penikmat minuman khas Bandrek memadati warung yang tampak sederhana namun alami ditambah cuaca yang sangat mendukung. Kabiro memesan satu gelas bandrek original dan bandrek susu, bukannya kabiro kehausan melainkan untuk membedakan rasa antara bandrek original dan bandrek campur susu.

“Wau rasa bandreknya cukup membikin badan menjadi segar dan badan terasa hangat”.

Setelah ditinggal suaminya 125 hari yang lalu almarhum Mahmud Rahmat (mang iye). Ibu Ucu melanjutkan usahanya dengan kedua anaknya Rizal Awaludin dan Tuti Sutiana alias Eneng. Setiap hari Sabtu dan Minggu puluhan penikmat minuman bandrek datang dari berbagai wilayah di Bandung.

Menurut pemilik warung bandrek pada Minggu (27/1/2019) mengatakan. “Setelah ditinggal suaminya usaha kuliner dikelola oleh kedua anaknya, Neng masih kuliah tapi Rizal Awaludin (Izal) sudah lulus kuliahnya. Sekarang Izal merintis warung makan, alhamdulillah, ia mengadakan tasyakuran bahwa warung makannya dibuka,” kata Ucu.

Warung bandrek yang dikelola Ibu Ucu, merupakan usaha warisan dari Abah Enin orang tua suaminya. Warung bandrek yang berdiri pada tahun 80-an, sangat terkenal di wilayah Bandung. Berdasarkan sumber masyarakat desa Ibun Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung, warung bandrek Abah Enin memiliki cita rasa yang luar biasa. Bandreknya pun original tanpa campuran baik susu atau yang lainnya.

Abah Enin setelah meninggal dunia menyerahkan kepada anaknya Mahmud Rahmat dan istrinya Cucu Yuliah. Puluhan tahun membuka warung bandrek meneruskan usaha orang tuanya dapat meneruskan biaya pendidikan kedua anaknya sampai perguruan tinggi. (Muhammad Yadi)

Satu tanggapan untuk “Minuman Tradisional Bandrek Semakin Digemari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *