Perluasan TPU Desa Kiajaran Kulon, Harus Gotong Royong

ANALISAPUBLIK.COM | Indramayu – Desa Kiajaran Kulon salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Sebagai desa penyanggah dua wilayah Kecamatan Losarang dan Lelea, sebagian besar warga masyarakat sebagai buruh tani dan bercocok tanam.

Desa Kiajaran Kulon dengan luas wilayah pedesaan seluas 40 hektar sementara pesawahan mencapai 234 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 5.673 jiwa. Desa yang memiliki 9 blok diantaranya blok Desa, blok Pelabuan, blok Telukan, blok Lojok Cilik, blok Lojok Gede, Blok Pasar, blok Sawo dan blok Rengas.

Berdasarkan data memiliki aset terbesar se Kecamatan Lohbener. Aset yang dimiliki seperti tanah bengkok seluas 18 hektar, tanah Titisarah seluas 1,9 hektar dan tanah pangonan seluas 32 hektar sedangkan tanah desa seluas 0,15 hektar. Dilihat dari geografis desa Kiajaran Kulon memiliki potensi sumber perekonomian yang baik jika pemerintahan desa mampu mengelolanya.

Sejak bergulirnya program pemerintah tentang Dana Desa tahun 2015, desa yang semula kumuh. Namun sekarang menjadi desa yang cukup bersih dan indah karena pembangunan insfratuktur dilaksnakan dengan baik. Prihal kurang puasnya masyarakat secara individu itu sudah hal yang wajar dalam berpendapat dan memberikan pandangan.

Program desa secara bergulir terus ditingkatkan agar supaya Desa Kiajaran Kulon bisa dijadikan contoh desa terbaik secara umum dan administrasi. Sindiran itupun bertubi – tubi datang dari orang yang bisa dijadikan tokoh repormasi, bagi Pemerintahan desa sindiran itu merupakan motipasi untuk kinerja pemerintahan desa. Meskipun orang tersebut, kadang membikin kesal namun sangat diharapkan motipasinya.

Salah satu warga masyarakat Desa Kiajaran Kulon yang selalu memberikan masukan bahkan memberikan ide serta mengusulkan program untuk kepentingan masyarakat yakni Romo Abdullah (58). Pada tahun 2018 dia mengusulkan tentang perluasan Tempat Pemakaman Umum (TPU), gagasan itu melihat keberadaan pemakaman umum sudah tumpang tindih.

Ketika ditemui Senin (4/3/2019) pukul 01.25 dini hari di Kiajaran Kulon, ia mengatakan. “Sudah saatnya makam umum (kuburan) harus diperluas, mengingat sudah tumpang tindih kadang sering ditemukan tulang belulang ketika pemakaman. Hal ini sudah saya sampaikan ke Kuwu Abu Darda, agar segera merealisasikan harapan masyarakat Kiajaran Kulon terutama untuk blok Desa dan Telukan,” ungkapnya.

Menyoal lahan yang untuk perluasan TPU Desa Kiajaran Kulon Romo lebih panjut menjelaskan. Menyikapi hal ini tentu saja lahan yang akan dipergunakan untuk perluasan TPU desa yaitu tanah titisarah (sitisarah) dari luas 1,9 hektar yang diusulkan lahan berdekatan dengan TPU yang sudah ada. “Jadi ada dua tempat pemakaman, kemudian diatur pengelolaannya agar bisa tertata rapih dan terurus,” imbuhnya.

Ditegaskan oleh Romo Abdullah (58) berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 4 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Tanah desa adalah barang milik desa berup tanah bengkok, tanah kuburan dan titisarah. Pada dasarnya tanah titisarah dalam peraturan dan perundang – undangan diperbolehkan digunakan untuk kepentingan umum akan tetapi tidak bisa menjadi hak milik atau diperjual belikan terkecuali rislah.

Kepala Desa Kiajaran Kulon Abu Darda S.Ag, perihal gagasan adanya perluasan kuburan atau TPU desa Kiajaran Kulon sangat mengapresiasikan. Pihak pemerintahan desa tidak keberatan jika titisarah dijadikan perluasan kuburan.

“Sangat setuju sekali, akan tetapi menyangkut persoalan anggaran pengurugan pihak pemerintah desa tidak ada anggaran, dalam hal ini silahkan warga masyarakat bergotong royong, kami hanya memfasilitasi sampai prosedur peralihan dan pemanfaatan selesai,” pungkas Kuwu Abu Darda kepada analisapublik.com. (Muh. Yadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *