Harapan Baru, Tangan Terampil

ANALISAPUBLIK.COM | Gayo Lues – Sejak Gayo Lues dimekarkan pada tanggal 10 April 2002 sesuai menurut dasar hukum UU No. 4 Tahun 2002, telah banyak kemajuan baik dari sudut pembangunan, pertanian, pendidikan, kesehatan dan peternakan. Walaupun masih banyak kekurangan disana-sini, tapi masyarakat Gayo Lues sedang berbenah diri untuk mengejar ketertinggalannya dalam pembangunan segala bidang.

Potensi pertanian menjadi prioritas utama pengembangan dalam era pembangunan dibawah kepemimpinan Bupati Defenitiv H Muhammad Amru. Gayo Lues lebih dikenal dengansebutan “ Negeri Seribu Bukit” yang memiliki luas wilayah 5.719Km2 dan terletak pada koordinat 3040’46,13”, 4o16’50,45” LU 96043’15,65” 97055’24,29” BT. Mayoritas Penduduk Gayo Lues adalah 80% berasal dari etnik Gayo, dan ada yang bermukim suku lain seperti Alas, Batak, Aceh Pesisir.

Seperti diketahui, Bupati Gayo Lues yang pertama Pj. Almarhum Ir. H.M. Ali Kasim, MM menjabat sejak tanggal 23 Juli 2003 – 28 Maret 2006, dan ditahun yang sama 29 Maret 2006 di jabat lagi Pj. Dr. H. Aspino Abusamah,M.Kes. Selanjutnya Ibnu Hasim – Firdaus pilihan rakyat pada 27 Maret 2007 – 2012. Hasil pemilihan berikutnya, Ibnu Hasim S Sos MM – Adam SE M. AP, kembali terpilih sebagai Bupati periode 2012 – 2017.
Potensi daerah yang diandalkan seperti Timah di Kecamatan Pining, Emas di Kecamatan Putri Betung, sedangkan komoditas Pertanian yang popular di Kabupaten Gayo Lues, Nilam, Tembakau, Serewangi, Kopi Arabika, Cabe, kini menyusul budi daya jagung. Sedangkan untuk objek wisata, seperti tempat pemandian Air Panas di Serkil, Air Terjun di Akang Siwah, wisata Alam Blangsere, Green Senebuk ( kaki gunung Leuser – Penosan) dan Brawang Tasik, Brawang Lopah, tentu saja masih banyak lagi tempat wisata yang belum kelihatan dan perlu pembenahan oleh tangan-tangan profesional.

Dibawah kepemimpinan H Muhammad Amru selama menjabat sebagai Bupati Gayo Lues, sedikitnya telah tampak perubahan yang signifikan, hal ini tidak lain, karena kebijakan Kepala Daerah, salah satunya program memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan ekonomi, walaupun disana-sini masih banyak terdapat kelemahan-kelemahan dalam program pembangunan.

Perubahan perekonomian masyarakat dipastikan sedikit tidaknya 80 persen, oleh sebab Pemerintah Daerah dengan konsep yang sama dan Pekerjaan Rumah (PR) harus diselesaikan pada periode itu pula, misalnya seperti Pemerintah Daerah membuka diri menjadi pemerintahan yang berwawasan global. Membuka terhadap masuknya sumber daya Global dan berupaya mendapatkannya, tidak peduli dari mana sumber daya tersebut berasal.

Yang jelas mereka membuka diri terhadap Investor asing, perusahaan asing, kepemilikan asing, produk asing, teknologi asing, bahkan orang-orang terbaik asing, sejauh itu semua mempunyai kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.

”Jargon Putra Daerah dalam pembangunan daerah misalnya, sudah waktunya dikesampingkan. Karena Urgensinya disini adalah bagaimana mendapatkan talenta terbaik, terlepas dari mana mereka berasal. Dan, perhatian dalam mencapai target proses pembangunan yang sinergi dan berkesinambungan adalah dengan terus menerus memperbaiki Kesejahteraan, Perekonomian Infrastruktur,” ujar Bupati Gayo Lues Rabu (19/6/2019).

Dikatakan, daerah bisa ditingkatkan dengan menjamin kompetitifnya biaya hidup ( cost of living), memperbaiki fasilitas umum dan layanan publik, menekan angka kriminilatas disamping tentu menciptakan lingkungan yang nyaman. Dengan menyediakan tenaga kerja terampil yang memadai, terus memperbaiki infrastruktur dan fasilitas produksi, menjamin tetap menariknya peluang investasi, akses yang mudah ke pusat-pusat bisnis nasional/ global serta system birokrasi dan regulasi yang kondusif.

Konsep Pembangunan Gayo Lues Kedepan.

H. Muhammad Amru, dalam konsepnya, akan memperbaiki dengan menyediakan fasilitas transportasi dan akomodasi yang kompetitif, terus meng-upgrade dan merevitalisasi tujuan-tujuan wisata yang belum terbenahi di Gayo Lues, membangun kemudahan serta menciptakan suasana aman dan nyaman. Disamping itu, global – pemerintahan juga berupaya keras membangun kemampuan inovasi, kapabilitas operasional dan jaringan berskala global sebagai jembatan bagi mereka untuk dapat berpartisipasi dan mengambil keuntungan maksimal dari terbentuknya ekonomi global.

Konsep manapun dalam proses pembangunan Gayo Lues yang inti tujuannya lebih diarahkan bagi pemberdayaan masyarakat dan peningkatan daya saing daerah, maka yang pertama harus dipersiapkan adalah bagaimana menjadi tuan rumah yang baik bagi berbagai kalangan yang akan terlibat dalam proses pembangunan tersebut, dan untuk menjadi tuan rumah yang baik tentu harus tercipta kolaborasi kohesif antara masyarakat, kalangan bisnis dan pemerintah.

Apalagi saat ini, salah satu kesenian daerah yakni Tarian Saman yang dibanggakan Masyarakat Gayo Lues, telah diakui UNESCO menjadi warisan budaya dunia non benda. Cukup menjadi daya tarik, bila ini dimanfaatkan, oleh tangan-tangan profesional, bisa jadi Gayo Lues akan menjadi lumbung Dollar, dengan sistem membuat semacam yayasan centre saman, kusus tentang saman, mulai dari sejarah hingga segala macam souvenirnya, buat ole-ole pengunjung ke lokasi yang dimaksud (Yayasan).

Gayo Lues juga, berpotensi dijadikan sebagai daerah wisata, agrobisnis, dan ini sangat menjanjikan. Konsep ini menjadi semacam mata rantai yang tidak terpisahkan dan harus dapat saling mengeduksi agar terus menyamakan persepsi dalam rangka mendongkrak produktivitas daerah yang pada gilirannya juga akan mengangkat standar hidup masyarakat.

Melihat konsep yang nyaris mirip dengan pola simbiosis mutualisme itu, maka menjadi hal yang teramat penting untuk selalu menjaga keutuhan dan kesamaan persepsi yang kesemuanya tentu memiliki kepentingan sesuai dengan kapasitas dan urgensinya masing-masing, jika berbicara tentang Gayo Lues, sekilas akan terlintas dibenak betapa Gayo Lues saat ini sudah disesaki oleh ratusan ribu masyarakatnya yang majemuk, pluralitis, heterogen dan multi dimensional, artinya disini tentu begitu banyak kepentingan dan aspirasi yang harus diakomodir secara adil, arif dan bijaksana.

Kendati demikian, ada aspek-aspek mendasar yang menjadi target Otonomi Daerah serta beragam retorika yang ada didalamnya yang tidak boleh dikesampingkan, bahkan harus diletakkan ditempat yang paling prinsipal. Dibalik semua penerapan konsep dan strategi dalam menyiasati persaingan global dan otonomi daerah, mesti terpahami, bahwa semuanya haruslah bermuara pada peningkatan kesejahteraan taraf hidup masyarakat sebagai sebuah tujuan akhir yang paling fundamental dan hakiki.
Perlu diketahui, bahwa pemberian keleluasaan bagi Pemerintah daerah untuk melakukan pengaturan dan pengurusan wilayahnya sendiri berdasarkan asas otonomi bertujuan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam system Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan mengusung konsep kedaulatan rakyat, percepatan pembangunan Gayo Lues selayaknya lebih berorientasi dan mengedepankan kepentingan publik serta bertanggung jawab kepada publik.

Bagaimanapun juga, masyarakat adalah kekuatan sejati yang kritis dan responsif yang memiliki kesadaran akan dirinya, hak-haknya dan kepentingan-kepentingannya. Mereka memiliki keberanian untuk menegaskan eksistensi diri, memperjuangkan pemenuhan hak-haknya, dan mendesak agar kepentingan-kepentingannya terakomodir melalui cara-cara yang prosedural dan demokratis.

(M. Amin Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *