Gelar Konsultasi Publik, DLH Hadirkan Tenaga Ahli

ANALISAPUBLIK.COM | Aceh Tamiang – Dinas Lingkungan Hidup Aceh Tamiang hari ini Jum’at 5 Juli 2019 gelar konsultasi publik bahas tata ruang untuk Kecamatan Kota Kualasimpang dan Kecamatan Karang Baru, Diskusi yang dimulai berkisar pukul 08.00 Wib pagi dini hari pihak Dinas DLH menghadirkan tenaga ahli penyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yaitu DR.Ir. Hairul Basri, M.Sc yang kebetulan Dosen disalah satu perguruan tinggi ternama Unsyiah di Provinsi Aceh.

Pembahasan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di dua kecamatan tersebut dilaksanakan di ruang aula Kominfo Aceh Tamiang pada jum’at (5/7) pagi sekaligus membahas tentang penyusunan KLHS dengan menempatkan delapan isu strategis yang menjadi sekala prioritas salah satunya yakni isu tentang alih funsi pemanfatan lahan.

Selain itu, beberapa Kebijakan Rencana Program (KRP) yang berpotensi memiliki dampak resiko Lingkungan Hidup di Bumi Muda Sedia ini juga masuk dalam pembahasan konsultasi publik yang dikupas lebih detail oleh tenaga ahli penyusun KLHS yakni Hairul Basri dihadapan participan yang hadir pada saat itu.

Dalam bincang – bincang ringan dengan Hairul Basri saat dikonfirmasi menjelaskan, kita memberikan masukan dalam konteks pembanguna berkelanjutan terhadap RDTR yang sudah disusun rencana detil tata ruangnya, RDTR ini kan ada dua yang disusun yang pertama untuk Kecamatan Karang Baru dan Kecamatan Kota Kuala Simpang, nah hari ini tentunya RDTR sudah disusun secara baik, Kemudian kita juga memberikan masukan dalam konteks pembangunan berkelanjutan agar energi air ini dapat diimplementasikan agar ke depan menjadi lebih sempurna, ungkapnya.

“Sebagai contoh misalnya ada kawasan kawasan yang sudah kita kaji yang merupakan kawasan potensi banjir tapi kawasan kawasan tersebut merupakan bagian dari zona perdagangan dan jasa, nah maka kami rekomendasikan bagian – bagian yang masuk ke dalam daerah potensi banjir itu harus dikeluarkan, kenapa? karena potensi banjir tentunya akan menjadi gangguan ke depan dalam pengembangan journal daerah perdagangan dan jasa itu sebagai contoh.”

Hairul Basri juga menambahkan, contoh yang lain adalah misalnya ada kawasan kawasan lindung yang sudah diplotkan dalam rencana tata ruangnya, tapi dikondisi exstremnya yang sekarang ini itu merupakan daerah pemukiman, nah mau kita apakan pemukiman tersebut, tentunya pemukiman ini agar dibatasi jangan sampai berkembang, atau seumpamanya ada solusi misalnya kita mau melakukan relokasi, relokasi itu tentunya harus menguntungkan masyarakat, masyarakat tidak boleh dirugikan dalam hal ini, nah ini barangkali mungkin menjadi catatan, terangnya.

Begitu juga dengan kawasan perkebunan, bagaimana perkebunan ini yang berada di spadan – spadan sungai yang merupakan bagian dari zona lindun setempat, nah ini juga harus diamankan, agar apa? agar potensi banjir yang periode ulangnya di Aceh Tamiang ini lima tahun sekali, itu cukup besar potensi banjirnya, ini bisa kita minimal kan dampaknya, nah hari ini saya bikin masukan – masukan yang bagus, jelas Hairul Basri saat bincang – bincang ringan dengan wartawan analisapublik.

(Dedi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *