Batita Penderita Hidrosefalus, Akhirnya Dirujuk ke RS Elisabeth Semarang

Baznas Blora upayakan bantuan rumah kepada penderita hidrosefalus.

ANALISAPUBLIK.COM | Blora – Bayi bawah tiga tahun (batita) penderita hidrosefalus asal Blora akhirnya dirujuk ke RS Elisabeth Semarang. Pemberangkatan menuju Semarang berlangsung pagi ini, dengan didampingi petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

“Ada dua batita yang kita antar ke Semarang, yakni batita dari Desa Klopoduwur dan dari Desa Bacem Kecamatan Banjarejo,” terang Plt Kepala Dinkes Blora, Lilik Hernanto, sesaat sebelum pemberangkatan di kantor dinas setempat, Selasa (06/08/2019).

Diketahui, Siti Masiroh (6 bulan) merupakan anak pasangan Suparno (54) dan Darsi (48) warga Dusun Wotrangkul RT 04/RW 01 Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo. Sedangkan Surya Adhitama (2 bulan) merupakan anak pasangan Marmin dan Surati, warga Dusun Pengkol RT 04 RW 05 Desa Bacem, Banjarejo.

Terkait pengurusan KIS untuk Siti Masiroh, Lilik mengungkapkan pihaknya telah menyelesaikan pengurusan sejak awal bulan lalu.

“Kartu KIS-nya (untuk Siti Masiroh, red) sudah jadi dan mulai aktif pada tanggal 1 Agustus kemarin. Dua-duanya kita rujuk hari ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Blora terus berupaya memastikan penderita hidrosefalus, Siti Masiroh (6 bulan) tinggal di rumah yang layak. Pasalnya, pihak pembeli rumah enggan membatalkan pembeliannya.

“Pihak pembeli tidak berkenan membatalkan pembelian rumah. Sehingga, kita mengupayakan cara lain,” ungkap Ketua Baznas Blora, KH Ali Muchdlor saat dimintai keterangan dikantornya.

Sebelumnya, Baznas melalui pemerintah desa (Pemdes) Klopoduwur telah melakukan negosiasi dengan pembeli rumah. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

“Kita ada teman yang menjual material bangunan rumah dengan harga terjangkau. InsyaAllah, pembangunan akan kita lakukan setelah pihak pembeli membedol (mengambil_red) rumah itu,” pungkasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, orang tua Siti Masiroh sempat kebingungan lantaran tidak mampu mengobati anaknya lantaran tidak ada biaya, dan belum memiliki KIS. Sedangkan, rumah yang ditempatinya sudah dijual untuk biaya operasi kelahiran anaknya.

(Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *