Sejarah dan Adat Budaya Desa Kedungputri

ANALISAPUBLIK.COM | Ngawi – Desa Kedungputri yang berada di Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi tidak hanya terkenal dengan sungainya yang masih Asri tetapi juga budayanya,yaitu bersih Desa atau Nyadran di Makam punden Mbah Guru yang diadakan setiap menjelang bulan suro Selasa Kliwon.

Dalam rangka kegiatan bersih desa selain doa bersama juga diselanggarakan hiburan seni reog dan wayang krucil bertempat di Punden makam Guru Tirto Kusumo,Selasa (13/8).

Tri Wahyudiono Kades terpilih 2 periode kepada wartawan mengatakan,”bahwa kegiatan ini sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Alloh dimana atas rahmat dan karunianya dalam menjaga alam desa kedungputri yang subur dan makmur,”tuturnya.

Kades Tri Wahyudiono menambahkan,”Doa bersama ini juga sebagai bentuk sujud syukur kepada alloh mudah mudahan desa kedungputri jauh dari malapetaka serta masyarakatnya selalu dalam lindungan alloh swt,” tegasnya.

Sejarah Desa Kedungputri

Sejarah awal berdirinya Desa Kedungputri tidak terlepas dari Kerajaan / Kadipaten Madiun.Desa ini awalnya bernama Desa Jadug,asal mula terjadinya Desa Kedungputri adalah sebagai berikut :

Raja Kerajaan Madiun mempunyai seorang Putri yang sangat cantik dan menawan,beliau mengembara dengan berkuda di beberapa wilayah pelosok dan hutan belantara di daerah kekuasaanya.Pengembaraan Putri tersebut dimulai dari Kerajaan Madiun menyisir ke utara hingga sampai di Desa Melikan ( Sekarang Desa Tempuran ),kemudian ke Desa Paron,Desa Gelung, Desa Ngale,Desa Kebon, Desa Jeblogan,Desa Sirigan,Desa Klegen Kerten ( Sekarang Desa Teguhan ),diteruskan ke Desa Mesem ( Sekarang Desa Semen ) dan selanjutnya sampai / Jedug di Desa Jadug. Di Desa Jadug Beliau mencari persinggahan dan menemukan sebuah Gua yang terletak dipinggir sungai, yang airnya jernih dan udaranya sejuk,akhirnya beliau mandi dan bersenang senang sehingga beliau lupa akan segalanya,

bersamaan itu pula sang Putri tersebut hilang ( Musno ) di Sungai tersebut,karena petilasanya / hilangnya sang Putri di Kedung Sungai tersebut maka Desa Jadug diganti dengan Desa Kedungputri pada masa Kepemimpinan Raja Madiun.

Lurah pada jaman dahulu seumur hidup,adapun lurah yang pernah menjabat di Desa Kedungputri sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut :

1.Den Dayat ( Tahun menjabat tidak diketahui ).

2.Guru Tirto Kusumo .( Tahun menjabat tidak diketahui ).

3.Palang ( Tahun menjabat tidak diketahui ).

4.Setro Karyo ( Tahun menjabat 1861 s/d 1980 ).

5.Kusen ( Tahun menjabat 1880 s/d 1915 ).

6.Sastro Wiyogo ( Tahun menjabat 1915 s/d 1940 ).

7.Ngabdulah ( Tahun menjabat 1940 s/d 1970 ).

8.Marto Ngawiyun ( Tahun menjabat 1970 s/d 1989 ).

9.Suwarso ( Tahun menjabat 1989 s/d 1998 ).

10.Sugiyanto ( Tahun menjabat 1998 s/d 2013 ).

11.Tri Wahyudiono ( Tahun menjabat 2013 s/d sekarang ).

Adapun Desa Kedungputri dibagi menjadi 4 (empat) dusun, yaitu :

Dusun Krajan

Dusun Ngisor

Dusun Kedungmaron

Dusun Kesongo

(Sumber : Perangkat desa Kedungputri/Ari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *