Kasus Penganiayaan Divonis Percobaan, Putusan Hakim Dipertanyakan

ANALISAPUBLIK | Banyuwangi – Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi atas kasus penganiayaan yang menimpa Stefanus, di tempat hiburan Mascot, Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, menuai kritikan.

Hal itu terjadi lantaran Majelis Hakim yang diketuai Heru Setiyadi SH, telah menjatuhkan vonis yang dinilai cukup kontroversial. Dalam sidang putusan yang digelar selasa 8 oktober lalu, Agus Iriyanto alias Aik, selaku terdakwa kasus penganiayaan dengan Nomor Perkara 522/Pid.B/2019/PN Byw, hanya dijatuhi hukuman 5 bulan dengan 10 bulan masa percobaan.

Padahal, dalam catatan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2B Banyuwangi, pada 4 April 2014, Aik pernah dihukum selama 25 hari atas kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“PN Banyuwangi kok memberi putusan masa percobaan ya?. Padahal rata-rata kasus yang serupa selalu divonis kurungan penjara,” ucap Nanang Selamet, SH, aktivis yang juga Advokat Muda di Banyuwangi, Kamis (10/10/2019).

Menurutnya, kondisi seperti ini adalah momentum berharga bagi kalangan pengacara, mahasiswa hingga praktisi hukum di Bumi Blambagan. Yakni kesempatan untuk bersatu membuka ruang diskusi berbasis keilmuan.

Tujuanya bukan melawan keputusan Hakim, tapi berperan serta dalam penegakan supremasi hukum di Indonesia. “Mari semua bersatu, hadir sebagai penyeimbang,” katanya.

Terkait usaha penasehat hukum korban dalam meminta JPU untuk menempuh banding, Nanang mengaku sependapat. Karena itu adalah langkah sesuai prosedur per Undang-Undangan.

Sementara itu, dalam kasus yang menjerat Aik, selaku Owner tempat hiburan Mascot, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Mulyo Santoso SH, juga mengaku akan menempuh banding. Terlebih dalam berkas, dia juga telah melampirkan putusan perkara yang pernah dilakukan terdakwa sebelumnya.

“Putusan (sebelumnya) terlampir diberkas,” jelas Mulyo Santoso, yang juga diketahui sebagai JPU dalam kasus KDRT yang dilakukan AIK terdahulu.

Namun sayang, awak media belum bisa meminta keterangan pada Heru Setiyadi SH, selaku Ketua Majelis Hakim kasus Stefanus. Hingga kini, dasar hukum yang dia gunakan untuk menjatuhkan vonis hukuman percobaan pada Aik, yang mantan Napi masih menjadi misteri.

Diberitakan sebelumnya, Stefanus, korban penganiayaan di tempat hiburan Mascot, mengaku tidak puas dengan putusan hakim PN Banyuwangi. Majelis Hakim yang diketuai Heru Setiyadi SH, dinilai janggal dalam menjatuhkan vonis terhadap Aik, si terdakwa.

(Bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *