Dendam Kesumat ! Kapolres Bandung Perintahkan Dengan Tegas Tembak di Tempat

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Bandung – Paska insiden bentrok antara sekelompok orang dari desa Cigareleng Kecamatan Cikancung dengan warga Kampung Bojong Desa Bojong Kecamatan Majalajaya Kabupaten Bandung Sabtu 16 Pebruari 2019 kemarin masih mencekam.

Beberapa warga Desa Bojong Kecamatan Majalaya mengaku, masih khawatir akan ada keributan terulang. Meskipun aparat kepolisan baik dari Polsek Majalaya dan Polres Bandung menyatakan situasi telah kondusif. “Penyerangan besar – besaran yang dikhawatirkan salah sasaran, itu bisa kami warga yang tidak tau menau menjadi korbannya,” dalih kang Wawan salah satu warga.

Bacaan Lainnya

“Dendam turun Temurun”, itulah kalimat yang diucapkan warga Kampung Bojong Kecamatan Majalaya Senin 18 Pebruari 2019 kepada Analisapublik.com ketika melakukan investigasi di lapangan. Permusuhan antara Kampung Bojong dengan Desa Cigareleng entah kapan berakhir. Bukan hanya desa Cigareleng saja melainkan desa – desa lain di wilayah Kecamatan Majalaya.

Puluhan warga masyarakat berharap kepada pemerintah Kabupaten Bandung agar pertikaian Bojong – Cigarelang disudahi sehingga tidak ada lagi permusuhan. Masyarakat sudah resah adanya insiden kerap terjadi yang dilakukan oleh oknum sekelompok pemuda dan preman. Mereka pun mengharap kepada Kapolda Jawa Barat segera melakukan upaya perdamain kedua belah pihak.

“Jangan hanya perdamaian sesaat, harus dikukuhkan. Kami bosan dengan insiden – insiden yang kerap terjadi. Bayangkan selama beberapa hari kami warga disini tidak tidur karena cemas akan terjadi lagi, minimal patroli polisi terus dilakukan jangan diwaktu adanya pertikaian saja. Kami pun berharap agar para penjual miras di Majalaya benar – benar diberantas,” ungkap mereka.

Berdasarkan investigasi Analisapublik.com di lapangan, sumber masyarakata desa Cigareleng dan Kampung Bojong Desa Bojong Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung Jawa Barat. Rasa cemas masih menyelimuti perasaan mereka. Kedua desa jarak radius puluhan kilometer itu, tentu saja jika terjadi keributan sudah pasti diketahui warga desa lain.

Letak Desa Cigareleng Kecamatan Cikancung dengan Desa Bojong Kecamatan Majalaya sangat berjauhan. Desa Cigareleng arah Jl. Cijapati Garut sementara desa Bojong Jl. Cicalengka – Majalaya. Entah kenapa ke dua desa tersebut menyimpan dendam berkepanjangan.

Desa Cigareleng bersatu padu dengan 4 desa lainnya masih satu kecamatan Cikancung. Begitu juga sebaliknya Desa Bojong menggandeng dengan desa lain untuk perseteruan melawan desa Cigareleng seperti yang terjadi Sabtu kemarin.

Pantauan Analisapublik.com dilapangan, sekitar pukul 00.15 WIB Senin 18 Pebruari 2019 dini hari sepanjang Jl. Cicalengka – Majalaya tampak sepi. Yang biasa para penjajah makanan atau kuliner masih buka, namun pagi itu tidak nampak. Bahkan Indomart dan Alfamart yang buka 24 jam pun tutup. Apalagi pedagang kios roko atau sembako tak terdapat satu pun yang buka. Hal ini mengundang pertanyaan bagi Analisapublik.com, malam itu benar benar terasa hening. Kemanakah patroli polisi atau garnisun?.

Kronologi kejadian

Didapat informasi dari berbagai sumber masyarakat Majalaya, insiden itu terjadi berawal dari peristiwa pemalakan dan terjadi penganiayaan oleh 4 orang preman di Jl. Anyar Bojong Majalaya pada Minggu 10 Pebruari 2019 pada pukul 15.30 siang. Di pertigaan Jl. Anyar memang terdapat Mr. Gopek (pangatur jalan liar) oleh sekelompok orang.

Salah seorang pemuda yang menjadi korban pemalakan dan penganiayan bernama Rizal diketahui oleh pelaku warga Cigareleng. Peristiwa ini ada unsur kesengajaan memicu adanya insiden tersebut. Korban diminta uang oleh Jajang, dengan terus terang korban mengaku tidak punya uang yang mereka minta. Karena terdesak Rizal terpaksa merogoh dompetnya sejumlah uang pun raib. Korban pun kabur menyelamatkan diri dan langsung melaporkan prihal kejadian itu kepada kaka korban bernama Wendi.

Tidak lama kemudian kaka korban mendatangi dimana pelaku berada. Sesampainya di Jalan Anyar kaka korban menanyakan kepada seseorang yang diduga pelaku. Tidak lama kemudian terjadilah pengroyok.

Kaka korban pun babak belur dihajar oleh 4 pelaku sampai akhirnya diselamatkan ke Ramah Sakit Al ihsan Bale endah karena luka serius dibagian punggung terdapat luka bacok cukup parah.

Dari 4 pelaku penganiayaan akhirnya diciduk aparat kepolisian sektor Majalaya yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Majalaya Kompol Kurnia S.sos,. S.H, dan ada yang menyerahkan diri. Masing masing bernama Jajang, Krisna, Jepan dan Jaenudin. Keempat pelaku yaitu warga desa Bojong Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

Berawal dari serangan pembalasan

Secara diam – diam keluarga korban dan rekannya merencanakan pembalasan terhadap Desa Bojong. Timbullah dendam lama, dia harus bisa membalas terhadap pelaku. Puluhan pemuda dari 5 desa berkumpul di Cigareleng. Di hari kedua paska penganiayaan itu, memviralkan bahwa akan melakukan penyerangan ke desa Bojong dengan jumlah cukup besar.

Rencana penyerangan oleh sekelompok pemuda Cigareleng diendus oleh pemuda Desa Bojong.Tak banyak komando ratusan warga berjaga – jaga baik di
rumah masing – masing bahkan sepanjang jalan Cicalengka – Majalaya. Malam itu benar – benar mencekam, sekelompok pemuda berkeliling mengintruksikan kepada warga bakal ada serangan dari Cigareleng. Sontak malam itu para pedagang kaki lima, kios – kios bahkan Indomart dan Alfamart tutup.

Rupanya pemuda desa Bojong ada rencana lain, puluhan orang pemuda dari desa Bojong mengendarai sepeda motor pada Sabtu 16 Pembuari 2019 sekitar pukul 18.30 Wib bertandang ke desa Cigareleng Kecamatan Cigancung Kabupaten Bandung. Ketika berkonvoi salah satu dari mereka memvideo dan mengupload ke media sosial. Mereka bermaksud melakukan serangan balasan terhadap pemuda korban di Cigareleng. Berawal dari rekaman video yang diupload itu, pihak kepolisian Sektor Majalaya menurunkan pasukan bersama Brimob Polres Bandung.

Berita simpang siur

Sumber lain Dadang Anggara menceritakan, setiap insiden pasti ada jeda waktu berkisar 1 minggu kedepan. Itu sudah biasa dilakukan oleh sekelompok pemuda Cigareleng melakukan pembalasan. Seingatnya peristiwa demi peristiwa pada tahun 2015 dan 2018 mirip kejadiannya. Akan tetapi pemicunya tetap sekelompok pemuda dari kampung Bojong.

Kampung Bojong bagi warga Majalaya, Paseh, Ibun, Ciparai, Cigareleng, Cijapati, bahkan sewilayah Bandung sudah sangat terkenal akan kenakalan, brutal dan sadis. Pasar Majalaya pun dikuasi oleh sekelompok pemuda asal Bojong. Mereka biasa jika berkerumun dimalam hari ketika Para pedagang melakukan aktipitasnya dibelakang pos polisi Sambilalu.

Kerap kali mereka memalak para pedagang dengan cara paksa. Bagu para pedagang di Pasar Baru, Sambilalu dan Pasar Bingung Majalaya tidak banyak berbuat apa – apa. Perkataan kasar keluar dari mulutnya dan tercium bau aroma miras. Mau tidak mau, pedagang yang dipalak menyerahkan dagangannya bahkan uang meskipun Rp. 5.000 s/d Rp. 10.000.

Bagi para pedagang tentu saja kehadiran sekelompok pemuda bojong sangat meresahkan. Mau mengadu ke pihak kepolisian Sektor Majalaya pun tidak berani karena merasa khawatir semakin merajalela dan brutal. “Sebenarnya kami sangat resah perbuatan preman pasar, tapi mau bagaimana lagi kalau tidak ngasih dagangan saya bisa diobrak – abrik,” keluh Ella pedagang sayur.

Ening dan suaminya warga kampung bojong ketika dijumpai Analisapublik.com Selasa 19 Pebruari 2019 menceritakan prihal insiden tersebut. Dia membenarkan ke 14 orang warga kampung Bojong itu diamankan pihak kepolisian, lantaran mereka mengupload video konvoi saat melakukan penyerangan ke Desa Cigareleng. “Insiden itu yang kedua, sebelumnya dari Cigareleng menyerang Bojong jumlah banyak sekitar ratusan orang. Makanya Bojong nyerang balik kemarin itu, jadi kaya dalam film Saur Sepuh,” katanya.

Desa Bojong salah satu desa yang berada di Kecamatan Majalaya, desa ini sangat tersohor akan premannya. Hampir se Majalaya dikuasi oleh mereka, para preman konon dikabarkan ada yang memiliki ilmu Rawerontek warisan leluhurnya. Beberapa preman yang terkenal diantaranya Awan Rawun, Asep Gareng, Aju Jumara dan Herman Neon. Mereka memiliki pendukung yang banyak di Majalaya.

“Sejumlah desa di Kecamatan Majalaya pernah berurusan dengan Desa Bojong bahkan sampai sekarang pun masih banyak. Di setiap lokasi keramaian seperti pasar, swalayan, lingkungan pabrik disekitar Majalaya disana dipastikan ada sekelompok orang Bojong,” ujar suami Ening.

Pada dasarnya kami meminta kepada pemerintah dan jajarannya agar kabupaten Bandung khususnya Majalaya bersih dari Miras dan Preman. Nama Majalaya terkesan angker, karena sering muncul dipemberitaan perampokan, pembunuhan dan keribuatan.

Kapolres Bandung perintahkan tembak di tempat

Kapolres Bandung AKBP Indra Hermawan didampingi Kapolsek Majalaya Kompol Kurnia dan Kasatreskrim Polres Bandung Selasa 19 Pebruari 2019 di Mapolres Bandung Jl. Bhayangkara Soreang Kabupaten Bandung kepada wartawan mengatakan. Sejumlah 14 orang sudah diamankan 4 diantaranya ditetapkan sebagai tersangka.

“Situasi Cikancung dan Majalaya sudah kondusif, kami akan mempertebal keamanan dan memerintakan kepada anggota jika dan jangan segan – segan apabila ada masyarakat yang melakukan premanisme di wilayah hukum Kabupaten Bandung akan ditembak ditempat. Saya akan melakukan tindakan tegas kepada siapapun yang melakukan tindak premanisme. Karena kami wajib memberikan keamanan dan kenyamanan masyarakat,” tegasnya.

“Adapun motif masih kita
dalami bekerjasama dengan Polda, insiden ini harus benar – benar dituntaskan. Agar masyarakat merasa aman, tunggu nanti hasil pengembangan selanjutnya,” pungkas Indra. (Muhammad Yadi)


Loading...

Pos terkait

Loading...