Bersama Maknai Toleransi Dengan Bakti Sosial

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Cilacap – Bekerja sama dengan Rotary Club Cilacap Wijaya Kusuma, Sekolah Seni Lesbumi Majenang, Gusdurian Majenang dan Paroki Santa Theresia Majenang gelar pengobatan gratis dan Khitan Massal 2019 dalam rangka Memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Bertempat di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.

Program Bakti Sosial tersebut dilaksanakan dalam rangka “Bakti diri Cinta Nabi SAW; Maknai, Renungi, Peduli, Wujudkan Toleransi”. Dan Ratusan warga antusias mengikuti pengobatan gratis tersebut. Terdata sekitar 219 orang daftar baik konsultasi maupun memeriksakan kesehatan.

Salah satunya KH. Muhammad Wakidi Abdullah, Warga Kecamatan Wanareja berumur 66 tahun yang menyambut dengan senang agenda tersebut.
“Saya ucapkan terimakasih sudah memberi perhatian dan obat pada kami. Sekitar 3 jenis penyakit prioritas yang dicek oleh dokter tadi, yakni cek gula darah, cek kolestrol, dan cek asam urat. Hal ini membantu kami mengetahui kondisi kesehatan dalam upaya hidup sehat.” Akunya setelah usai diperiksa dalam pengobatan gratis tersebut, (08/12).

Nico W. Widyatmoko, Ketua pelaksana Bakti Sosial 2019 mengungkapkan bahwa diadakannya pengobatan gratis tersebut merupakan program kami bersama di bidang kesehatan dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang terdapat di wilayah Majenang Raya (Karang Pucung, Cimanggu, Majenang, Wanareja, Cipari dan Dayehluhur).

Selain daripada itu, di tempat dan waktu yang sama, Panitia Bersama Baksos 2019 ini menyelenggarakan sunatan massal, dengan diiringi musik religi dan tarian sufi dari Santri Sekolah Seni Lesbumi. Terdata sekitar 52 anak daftar mengikuti khitan massal.

Sementara itu Romo Bonifasius Abbas Pr, penanggung jawab kegiatan, menyampaikan bahwa bidang kesehatan, pengobatan gratis dan khitan massal ini merupakan program bersama dalam rangka peduli kemanusiaan, karena kita melihat banyak warga terutama orang tua yang belum mampu untuk cek penyakitnya ke dokter.

“kegiatan ini barangkali sebagai tanda bakti diri kita Cinta pada orang tua, pada rasul, pada guru kita mari bersama-sama Maknai, Renungi, Peduli, Wujudkan Toleransi.” Ungkapnya.

“Dengan hati tulus kami berterima kasih kepada para dokter yang terpanggil dan berpartisipasi dalam kegiatan, seperti dr. Nur Eko Hadi Sucipto,Sp.B, dr. Agus Suharto, dr. Ardean Bernandito, Sp.B, dr. Sugiyanto, dr. Maya Dewi, dr. Ishak Setiawan Nursalim, dr. Ria Rosalian Simbung, dr. Prasetya Justitia,dr. Yani Amaroh, Anastasia Suirianti, A.Md. Keb, dr. Leonardus Hartono dan cilacap farma”. lanjut sang Pastor.

Bintang Dwi Cahyono, Camat Majenang, sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, pasalnya kegiatan ini sangat membantu semua masyarakat. Selain itu juga dirinya berterimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat, yang bersinergi dalam acara tersebut.

“Saya ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang menginisiasi dan menyukseskan program baik ini. Pemerintah merupakan pemersatu semua elemen masyarakat dan hal tersebut yang mendasari kami menyambut, dan merasa perlu menfasilitasi tempat kegiatan berlangsung.” Ungkap Bintang dalam sambutannya.

Sedangkan H. Nur Eko Hadi Sucipto, selaku Dokter RSUD Majenang mengatakan, “kegiatan ini sangat membantu warga yang belum mampu membiayai anaknya untuk sepit/sunat. berharap kegiatan positif ini bisa berkelanjutan dan semakin banyak.” Ujarnya ketika diwawancarai dalam acara tersebut.

Pembina Gusdurian Majenang, KH Agus Salim, Salah satu Ulama Majenang dalam tausiyahnya mengatakan khitanan dikenal sebagai proses adat pembersihan diri sebelum beranjak dewasa.

Masyarakat terdahulu menjaga budaya dan menganggap proses ini salah satu menjalankan ibadah. Pasalnya, tujuan khitan (sunat). selain mengikuti sunnah Rasulullah dan Nabi Ibrahim, juga karena menghindari adanya najis pada anggota badan saat shalat. Karena, tidak sah shalat seseorang apabila ada najis yang melekat pada badannya.

Dengan khitan, maka najis kencing yang melihat disekitar kulfa (kulub) akan jauh lebih mudah dihilangkan bersamaan dengan saat seseorang membasuh kemaluannya setelah buang air kecil.

Sementara itu, dr. Yani Amaroh, salah satu fasilitator kesehatan keiatan bakti sosial 2019 menjelaskan bahwa khitan adalah kunci mencegah problem terkait dengan penyakit penis. “ Terkadang, kulit muka penis yang tidak dikhitan akan lengket yang sulit dipisah. Dan ini dapat berakibat radang pada kepala penis”. Ungkapnya.

Manfaat khitan bagi kesehatan, diantaranya mengurangi resiko infeksi yang berasal dari transmisi berhubungan intim, mencegah kanker penis (penile cancer), kanker penis tergolong jarang terjadi, apalagi pada penis yang disunat.

Di samping itu, kanker leher rahim (cervical cancer) lebih jarang terjadi pada wanita yang bersuamikan pria yang dikhitan.
“Lebih higienis (sehat) karena lebih mudah membersihkan kemaluan dari pada yang tidak sunat”. Akunya.

(hasan)


Loading...

Pos terkait