Peran Teknologi dalam Satu Data Kependudukan Indonesia

  • Whatsapp

DI era kemajuan teknologi dan disrupsi digital saat ini data merupakan hal sangat penting. Bahkan kini data dianggap lebih berharga dari minyak ketika kehadirannya memberikan manfaat bagi banyak orang. Hanya saja hal ini memerlukan beberapa peraturan terkait untuk menangani hal tersebut. Presiden Republik Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia. Satu Data Indonesia adalah kebijakan tata kelola data pemerintah untuk menghasilkan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan dibagipakaikan antar Instansi (Pasal 1 ayat 1). Salah satu kegiatan untuk menuju Satu Data Indonesia, khususnya data kependudukan, dimulai oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kegiatan Sensus Penduduk tahun 2020 (SP2020) dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada.

Saat ini rencana kegiatan SP2020 sudah mulai disosialisasikan ke berbagai stakeholder, walaupun proses tahap pendataan penduduk baru akan dilaksanakan tahun 2020. Pelaksanaan Sensus Penduduk sejak Indonesia merdeka telah dilakukan sebanyak 6 kali yaitu pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010. Sosialisasi ini penting dilakukan karena terdapat perbedaan dengan sensus penduduk periode sebelumnya seiring dengan kemajuan teknologi, SP2020 akan menggunakan metode baru. Berdasarkan rekomendasi United Nations tentang metode sensus, SP2020 berusaha mengakomodasi dan beralih menggunakan metode kombinasi (combine method). Sementara sensus pada periode sebelumnya masih mengadopsi metode tradisional yaitu petugas berkeliling untuk melakukan wawancara ke setiap penduduk. SP2020 akan memanfaatkan data yang dikelola oleh Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri sebagai bahan dasar berupa daftar catatan penduduk yang sudah teregistrasi di sistem tersebut. Daftar inilah yang digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan sensus penduduk dan sekaligus untuk menjembatani menuju Satu Data Kependudukan Indonesia.

Sementara terkait dengan kemajuan teknologi, SP2020 akan mengadopsi dua sistem pencatatan yaitu sensus penduduk mandiri dan pendataan oleh petugas. BPS menerapkan teknologi geospasial yang digunakan sebagai kerangka induk dalam mengumpulkan data dengan pendekatan satuan lingkungan setempat yang terkecil. Selain itu, sejalan dengan perkembangan era teknologi saat ini BPS dalam proses mengumpulkan data juga menggunakan beberapa metode/alat bantu yaitu Computer Aided Web Interviewing (CAWI), Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI), dan Pen and Paper Interviewing (PAPI). CAWI digunakan untuk kepentingan sensus penduduk mandiri atau sensus penduduk online, sedangkan CAPI dan PAPI merupakan alat bantu pada proses pendataan oleh petugas sensus bagi masyarakat yang belum melakukan sensus penduduk online. Tentu saja hal ini bukan perkara yang mudah. Tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaannya sangat besar baik dari sisi penduduk maupun dari sisi petugas lapangan sensus, terutama dalam penggunaan metode CAWI dan CAPI. Pertama, kesadaran penduduk yang memiliki literasi teknologi dan internet perlu dibangun untuk mau dengan sukarela mengisi kuesioner sensus secara mandiri dan kejujuran dalam pengisian data diri juga begitu menentukan kualitas output data kependudukan yang diperoleh. Kedua, kebutuhan akan akses internet menjadi kunci keberhasilan penggunaan metode ini. Sementara petugas pendata dengan sistem CAPI tidak hanya dituntut untuk menguasai teknologi android tetapi juga harus piawai dan familiar mengakses internet dalam proses pendataan di lapangan. Sisi positif kedua metode pendataan ini adalah mendapat output jauh lebih cepat diselesaikan, karena tidak memerlukan proses memasukkan data ke komputer.

Perlunya dukungan semua pihak

Pelaksanaan SP2020 sangat perlu melibatkan beberapa pihak dari berbagai kalangan yaitu masyarakat biasa, akademisi, instansi dan berbagai lembaga masyarakat baik formal maupun non formal agar sensus berjalan lancar. Hal ini terutama dalam tahap awal yakni sosialisasi pentingnya satu data kependudukan yang ingin diwujudkan. Jalinan koordinasi yang terintegrasi dengan baik akan dapat menjamin kualitas data kependudukan yang akurat sehingga mampu disajikan sampai level administrasi terkecil seperti desa/kelurahan.

Target SP2020 antara lain berupa penyediaan data jumlah penduduk, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk. Bila kita lihat hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 237.641.326 orang, Pertanyaan berikutnya berapakah jumlah penduduk Indonesia di tahun 2020? Bagaimana komposisi penduduknya? Apakah kesempatan emas berupa bonus demografi bisa dinikmati penduduk di negeri ini? Gambaran penduduk Indonesia di tahun 2020 akan terekam dari hasil Sensus Penduduk 2020.

Untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak, tentu sosialisasi harus dimulai sejak dini. Sosialisasi yang intensif dan terencana dimulai dari sekarang. Tujuan utama sosialisasi adalah memberikan informasi dan meyakinkan responden akan pentingnya hasil sensus, salah satunya berupa dirinya tercatat sebagai bagian dari penduduk dunia. Lebih lanjut data kependudukan yang baik selain dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah namun juga menjadi dasar pembentukan kerangka sampel berbagai survei untuk penyusunan indikator pembangunan yang dapat dipercaya. Kesuksesan pendataan SP2020 akan menentukan penghitungan indikator yang digunakan untuk monitoring dan evaluasi pembangunan yang dilaksanakan selanjutnya. Sebagian besar indikator pembangunan didapatkan berdasarkan data sampel yang memerlukan kerangka sampel yang kredibel dan terpercaya dari hasil Sensus Penduduk 2020.

Mewujudkan satu data kependudukan

Melihat perlu dan urgennya ketersediaan satu data kependudukan ini, suksesnya SP2020 bukanlah menjadi tanggungjawab BPS saja. Semua pihak mempunyai tanggung jawab sesuai dengan porsinya masing-masing. Dengan dukungan penuh berbagai pihak jalan mulus pendataan SP2020 terbuka lebar. Yang perlu mendapat perhatian hingga saat ini adalah penting ditekankan bahwa salah satu fungsi data kependudukan adalah sebagai dasar pijakan untuk kucuran program-program pembangunan yang dilaksanakan. Karakteristik penduduk akan memberikan petunjuk segmen mana yang pantas dan tepat mendapat kucuran dana pembangunan. Langkah inilah yang akan mampu mendorong masyarakat untuk mau melakukan update data kependudukannya melalui media berbasis teknologi web tanpa ada data yang disembunyikan dan tanpa kunjungan petugas sensus. Sementara dalam konteks pembangunan, terciptanya data kependudukan yang akurat akan memudahkan pemerintah, akademisi, lembaga masyarakat formal dan non formal bahkan masyarakat umum dalam ikut mensukseskan pencapaian target pembangunan dan mengucurkan program pembangunan yang tepat sasaran. Bahkan kita dapat melihat karakteristik sumber daya manusia yang sedang terlibat dalam pembangunan saat ini dan sejauh mana program pembangunan telah berjalan sesuai dengan koridor yang sesungguhnya.

Akhirnya kesuksesan SP2020 akan ditandai dengan terwujudnya satu data kependudukan Indonesia yang akurat, sehingga dapat dijadikan tolok ukur pembangunan. Hal ini karena SP2020 memiliki cakupan yang menyeluruh. Data kependudukan hasil sensus ini nantinya terutama dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kerangka sampel baik dalam penghitungan indikator-indikator pembangunan ataupun survei-survei yang dilakukan oleh berbagai pihak terutama survei tentang kependudukan. Tanpa satu data kependudukan yang baik tak akan bisa menyusun perencanaan pembangunan yang matang. Mensukseskan SP2020 berarti secara langsung berperan mengawal proses pembangunan di negeri ini. Kalau bukan masyarakat Indonesia, siapa lagi yang akan melakukannya. Mari selamatkan negeri ini demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.

Oleh : Suparna, Statistisi Madya BPS Provinsi DIY


Loading...

Pos terkait