Terkait Jamu Tradisional Cap Putri Sakti, Pelni Rompis Lapor Polisi

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Banyuwangi – Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Banyuwangi melakukan pemeriksaan terhadap Pelni Rompis. Dirinya diperiksa atas laporannya setelah melakukan penghadangan bersama sekelompok warga terhadap truck bernomor polisi (Nopol) DK 8024 GN lantaran mengangkut jamu tradisional yang diragukan keamanan, khasiat atau manfaat dan mutunya.

Menurut Pelni, dirinya diperiksa di Polres Banyuwangi sore kemarin, berkaitan dengan jamu tradisional cap Putri Sakti yang diproduksi di daerah Kecamatan Muncar.

“Saya bersama rekan-rekan membuntuti truck tersebut dari Muncar, kemudian kami hadang di daerah Bulusaan bersama warga dan kami langsung laporkan ke aparat kepolisian karena jamu yang dibawa truck tersebut diduga tidak layak dikonsumsi,” terangnya kepada Analisa Publik.

Adapun indikasi tersebut, masih Pelni, lantaran dalam produksinya diduga tidak sesuai standar produksi jamu sebagaimana yang telah ditentukan pada aturan yang berlaku, sehingga tingkat higienisnya diragukan.

“Produksi jamu tradisional harus mengacu pada prinsip Keamanan, khasiat atau manfaat, dan mutu dimana selain tingkat kehigienisannya juga dilarang mengandung BKO (Bahan Kimia Obat) lantaran ini menyangkut kesehatan hajat hidup orang banyak saat diedarkan/dijual belikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Pelni menjelaskan jika dalam surat jalan yang dibawa supir truck hanya ada lembar photocopy sertifikat merek Putri Sakti, hak kekayaan intelektual atau hak paten merek Putri Sakti, serta nomor ijin edar.

“Pada surat jalan yang dibawa supir truck tidak ada lampiran Registrasi obat tradisional produksi dalam negeri IOT, UKOT, atau UMOT, hanya ada lembar photocopy nomor ijin edar dengan nama obat tradisional Racik Sewu yang diproduksi oleh CV Putri Sakti Husada, kemudian lembar photocopy hak kekayaan intelektual atas nama berinisial MK yang diketahui sudah meninggal dunia, serta lembar photocopy sertifikat merek yang juga atas nama bernisial MK,” bebernya.

Padahal, lanjut Pelni, terkait produksi serta mengedarkan jamu tradisional secara rinci telah atur dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 12 Tahun 2014 Tenang Persyaratan Mutu Obat Tradisional, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 007 Tahun 2012 Tentang Registrasi Obat Tradisional, serta Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Pelni pun berharap agar aparat yang berwenang serius dalam mengungkap dugaan-dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh para produsen jamu tradisional yang nakal.

“kami berharap pihak kepolisian serius dalam mengawasi serta menindak produsen-produsen jamu tradisional yang nakal, karena ini menyangkut kesehatan konsumen dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Diwaktu terpisah, Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasatres Narkoba) Polresta Banyuwangi, Kompol Ponzi Indra membenarkan jika pihaknya memeriksa Pelni Rompis atas laporannya. “Kita masih introgasi aja,” singkatnya saat dikonfirmasi melalui pesan Whatshap, Sabtu (11/01/2020).

Sayangnya, sampai berita ini diterbitkan, pihak pemilik jamu tradisional tersebut masih belum dapat dikonfirmasi oleh awak media.

Sekedar diketahui, Pelni Rompis bersama rombongannya menghadang truck yang membawa jamu tersebut pada kamis lalu diwilayah Bulusan. Setelah menghadang Pelni Rompis langsung melaporkan adanya truck yang membawa jamu tradisional yang diduga melanggar ketentuan yang belaku itu ke Polsek setempat, namun pihak Polsek Kalipuro mengarahkan agar melapor ke Polresta Banyuwangi.

(Bud)


Loading...

Pos terkait

Loading...