Ketua Komisi A DPRD Palangka Raya Prihatin Kekerasan Terhadap Anak

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Palangka Raya – Peristiwa kekerasan terhadap anak kembali terjadi di wilayah hukum Kota Palangka Raya. Seperti yang menimpa seorang anak berusia 13 tahun, siswa sekolah dasar (SD) di Kelurahan Petuk Katimpun, dimana harus menerima perlakuan atau hukuman yang tidak wajar sebagai seorang anak yang masih sangat belia.

Adanya kekerasan kepada anak ini tentu memantik keprihatinan banyak pihak, terutama dari kalangan DPRD Palangka Raya.

Bacaan Lainnya

“Kami sangat menyayangkan masih ada kekerasan kepada anak yang masih duduk di sekolah dasar. Artinya membutuhkan bimbingan yang sepantasnya dari para orangtua atau orang dewasa,” ungkap Ketua Komisi C DPRD Palangka Raya, Beta Syailendra, Selasa (3/3/2020).

Disadari, dalam mendidik anak, lanjut Beta, bukanlah perkara yang mudah, diperlukan kesabaran yang ekstra. Hanya saja apabila si anak melakukan kesalahan, maka diusahakan jangan disalahkan dengan cara kekerasan.

Sebaliknya jika anak belum mau untuk melakukan hal yang disarankan, maka berikan hukuman yang masuk akal, bukan dengan cara kekerasan.

Perlu diketahui, mendidik anak dengan tegas dan keras adalah dua hal yang berbeda. Terkadang dengan berdalih mengajarkan anak mengenai disiplin, orang tua menjadi terlampau tegas sehingga yang muncul malah tindak kekerasan, baik secara fisik maupun verbal. Keduanya memiliki konsekuensi yang tidak baik bagi tumbuh kembang seorang anak.

“Intinya orang tua harus berpikir kembali dampaknya bagi psikologis anak, jika bisa hindari hal-hal tersebut diberlakukan pada seorang anak. Orang tua perlu melatih diri untuk mengungkapkan amarah tidak dengan cara membentak atau sebagainya,” bebernya.

Menurut politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Palangka Raya ini, bagi anak-anak yang terbiasa menerima perilaku kekerasan dari lingkaran keluarga, maka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri.

Kekerasan yang dilakukan kepada anak secara psikis telah menggerus kepercayaan dirinya, terlebih ketika masa keemasan pengembangan diri anak tengah berlangsung, maka mereka akan cenderung menjadi orang yang mudah berbohong, tidak memiliki pemahaman akan nilai baik dan buruk dalam dirinya.

“Semoga ke depan kasus kekerasan terhadap anak tidak terulang lagi, khususnya di wilayah Kota Palangka Raya. Ini harus dicamkan oleh semua orangtua,” tutup Betat.

(Sugian)


Loading...

Pos terkait

Loading...