Kehidupannya Susah, 7 Bulan Bekerja di Toko Baju, Kini, Santoso Jadi Dandim Labuhanbatu

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM I Labuhanbatu – Letnan Kolonel Infanteri Santoso, siapa sangka, dibalik kesuksesanya sebagai orang nomor satu di Kodim Labuhanbatu, sosok yang sering dipanggil pak Dandim ini mempunyai kisah perjalanan hidup yang begitu menginspirasi.

Santoso, merupakan pria kelahiran Boyolali 20 Agustus 1977. Menjadi seorang anggota TNI adalah cita-citanya sejak kecil.

Berawal dari keluarga dengan ekonomi tingkat bawah (kurang mampu), Santoso hidup bersama kedua orang tua serta keempat saudara kandungnya di sebuah pedesaan daerah lereng Merapi. Ayahnya (Yoto Mujio), sehari-hari bekerja sebagai buruh yang kadang bekerja kadang tidak, sedangkan ibunya (Binem) hanya sebagai ibu rumah tangga.

Santoso bersama rekan-rekan saat pendidikan Seskoad di Bandung Dikreg 53.

Seiring waktu berjalan, saat Santoso duduk dibangku kelas 3 SD, tepatnya saat dia masih berumur 10 tahun, Ayahnya meninggal dunia karena sakit struk, sehingga ekonomi keluarganya semakin tidak karuan.

Setelah kepergian sang ayah, Santoso tinggal bersama ibu dan kakaknya. Untuk makan sehari-hari, kakak Santoso yang nomor 3 harus banting tulang mencari uang dengan berjualan sebagai pedagang asongan di Terminal-terminal maupun di Bus. Sepulangnya dari sekolah, Santoso selalu berlatih mempersiapkan diri untuk bekal meraih cita-citanya.

Beberapa tahun berjalan, dengan kondisi yang pas-pasan, Santoso akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan tingkat SMA. Tak hanya sampai disitu saja, kepedihan perjalanan hidup harus ia rasakan kembali. Pasalnya, semenjak lulus sekolah, dirinya tidak sempat berfikir untuk melanjutkan pendidikan dibangku kuliah, sebab dia harus ikut membantu kakaknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu Santoso berniat mencari pekerjaan.

Santoso saat menjalin asmara dengan Noviana Dwi

Hari ke hari berjalan, usahanya mencari kerja membuahkan hasil, akhirnya Santoso diterima disalah satu Toko Fashion Dinasti Prambanan yang berada di di daerah Prambanan, tepatnya perbatasan antara Jogja dan Klaten. Ditoko yang menjual pakaian dan sepatu tersebut, Santoso bekerja sebagai pramuniaga dengan gaji perbulannya saat itu hanya Rp. 110.000.

7 bulan pekerjaan tersebut ditekuninya, akhirnya Santoso memutuskan berhenti, dan memberanikan diri mengikuti seleksi penerimaan anggota TNI AD.

Pada saat itu tahun 1997, Santoso mengikuti seleksi AKABRI, atas persiapan yang matang, kemudian dirinya dinyatakan lulus seleksi tersebut dan langsung pendidikan Akademi Militer (Akmil) di Magelang pada tahun 2000. Dirinya bersama satu angkatannya dilantik langsung oleh Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid pada 14 Desember tahun 2000.

Kelulusannya ini tentunya membuat Santoso tak henti-hentinya bersyukur, tangis airmata kebahagiaan terus mengalir dikedua matanya dan juga keluarganya.

Setelah kelulusan itu, Santoso pertama kali ditugaskan sebagai Danton SLT Kibant Batalyon 744 di Kupang, kemudian diberangkatkan penugasan di Batalyon 741 Bali, lalu dirinya diutus kembali penugasan ke Ambon pada saat kerusuhan tahun 2002-2003.

Wilayah kondusif, Santoso kembali. Berikutnya ada pembentukan Batalyon 900 Raider di Bali, dirinya dipercayakan untuk bergabung, setelah itu Santoso menduduki posisi sebagai Danton Ban Kipan C Yonif 900 Raider. Tak berlangsung lama, setelah pembentukan tersebut, ia kembali ditugaskan ke Aceh pada tahun 2004-2006 pada saat itu kondisi darurat militer diwilayah tersebut.

Setelah Aceh aman, Santoso kembali. Seiring berjalannya waktu, Santoso bertemu dengan salah seorang wanita kelahiran Surakarta 12-11-1985 bernama Noviana Dwi Nugraheni, Santoso pun menjalin hubungan asmara dengannya. Setahun berjalan, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk hidup bersama, hari kebahagiaan itu tepatnya pada 7 Desember tahun 2007.

Santoso bersama istri dan kedua anaknya saat menjadi Wadanyon 624/Kapuas sebelum berangkat tugas Satgas Pamtas ke Papua.

Setelah itu, kemudian ia pun sekolah Diklapa II. Selesai pendidikan, Santoso berpindah tugas ke Kalimantan Barat di Kodam XII Tanjung Pura dengan posisi Kasi Siaplahta pada September 2010.

Kemudian, Maret 2011, Santoso pindah posisi sebagai Pabandya Dik Spersdam XII/TPR. Pada Juni 2012, Santoso menduduki jabatan sebagai Wadanyonif 642/KPS.

Saat menjadi Wadanyonif, Santoso ditugaskan ke Papua Satgas Pamtas RI-PNG selama hampir 8 bulan pada tahun 2013-2014. Kembalinya dari penugasan, Santoso mengikuti seleksi Seskoad ditahun 2014, dan lagi-lagi membuahkan hasil yang baik, dirinya lulus dengan hasil peringkat ke 10 se Indonesia sehingga membuatnya kembali sekolah.

Pada saat pendidikan berjalan baru 3 bulan, Santoso harus mengikhlaskan kepergian Ibunya kembali ke pangkuan yang maha kuasa, hal ini membuat Santoso sangat terpukul.

Waktu terus berjalan, Santoso harus tegar menghadapi apapun yang terjadi. Sepulangnya menjalani pendidikan, dirinya harus bertugas kembali ke Semarang hingga 9 bulan lamanya.

Santoso bersama Agus Harimurti Yudhoyono saat acara temu kangen Korps Infanteri Pussenif Bandung

Berikutnya, Santoso ditugaskan kembali menjadi Danyonif Raider Khusus 136/TS di Batam, setelah itu sekolah lagi untuk menjadi Dandim.

Tetapi sebelum menduduki posisi itu, Santoso mengisi jabatan Dansecata A Rindam I/BB di Siantar, prestasi terbaik terus ia torehkan, hanya berjalan 4 bulan, Santoso menjadi pimpinan di Kodim Labuhanbatu.

Tak hanya sampai disini saja, kini semenjak menjadi Dandim, sejumlah prestasi kembali diperoleh. Dengan kepemimpinan yang sederhana namun begitu tegas, Santoso berfokus pada pembangunan dari segi materil pangkalan dan pembangunan personil. Selain itu, dirinya terus membuat inovasi baru serta menjadikan Kodim Labuhanbatu terus “memeluk” masyarakat yang ada di wilayah teritorialnya.

Yang diraih Santoso semenjak di Kodim Labuhanbatu :
– Berhasil menyelenggarakan TMMD 105 di Dusun Cinta Makmur tahun 2019.
– Cepat tanggap atasi banjir Bandang Labura
– Cekatan melakukan upaya cegah dini hadapi karhutla
– Berhasil mensertifikatkan 11 Koramil jajaran Kodim Labuhanbatu.
– Pemberitaan terbaik kedua tingkat Kodam/I Bukit Barisan.
– Hadir ditengah-tengah masyarakat kurang mampu disaat pandemi covid-19.

Santoso saat pertama kali memasuki Kodim Labuhanbatu.

Cerita indah miliknya :
Selama bertugas hingga saat ini, tentunya banyak cerita perjalanan karirnya yang akan selalu menjadi kenangan tak terlupakan.

Saat penugasan di Papua, saat itu kedua anak Santoso masih kecil, tinggal di Sintang Kalimantan Barat. Kabar yang cukup mengiris hati, ketika mendengar kedua anaknya di opname dirumah sakit, dengan gejala yang satu sakit DBD dan satunya lagi Tipus, karena dirinya bertugas, maka hanya istri yang merawatnya di Rumah Sakit

“Memang rasanya saat itu ingin pulang, tetapi karena tugas negara dan harus saya laksanakan, hanya bisa mendoakan agar anak-anak diberi kesehatan, kekuatan dan kesembuhan, sebenarnya meninggalkan anak istri penugasan merupakan cobaan yang sangat berat, tetapi itulah tugas yang mulai, puji syukur anak saya akhirnya sembuh,” ucap Santoso.

Selain itu, saat dirinya dirinya sebagai Danyonif Raider Khusus 136/TS di Batam. Dia harus mengikuti lomba Ton Tangkas di Bandung, sedangkan Batalyon tersebut baru dua tahun berjalan, tetapi hal itu tidak membuatnya gentar. Dengan persiapan yang cukup matang, maka berlomba dengan satuan Batalyon Raider se-Indonesia pihaknya mendapat hasil yang baik yaitu di urutan ke 9.

“Ini sebuah prestasi, karena Batalyon kami baru dua tahun, tetapi mampu mengalahkan Batalyon Rider lainnya se-Indonesia, ini sangat berkesan dengan kawan-kawan, anggota,” sebut Dandim.

Santoso intruksikan personel dilokasi Banjir Bandang Labura.

Selanjutnya saat bertugas ketika menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan banyaknya GAM disana, maka Batalyon Rider sebagai pasukan pemukul untuk mencari di perkampungan maupun dihutan.

“Ketegangan selalu muncul ketika kami harus kontak senjata dengan mereka, bagaimana kita harus mengeluarkan tembakan, berlindung, menjaga anggota, serta cara agar bisa mendapatkan lawan baik hidup ataupun mati beserta senjatanya, itulah yang kita amankan. Semua untuk mengamankan negara ini kami pertaruhkan nyawa, kekuatan, fikiran,” ujarnya.

Selain itu, kepergian sang ibu tercinta pada saat Santoso menjalani pendidikan juga menjadi cerita hidup yang tidak akan pernah terlupakan.

Agar lulus menjadi anggota TNI, ini yang Santoso katakan :

Selain kisah perjalanan hidupnya, pria yang hobby bercocok tanam ini juga memotivasi anak-anak yang mempunyai impian menjadi anggota TNI serta cara jika ingin menggapainya.

“Tentunya dengan mempersiapkan diri masing-masing, kalau kita sudah siap, fisik, kesehatan, psikologis, maka kalian pasti lulus menjadi anggota TNI, intinya, untuk menggapai apa yang kita cita-citakan, jangan pernah menunda untuk berlatih,” jelas Santoso.

(Randi)


Loading...

Pos terkait

Loading...