Rekening Nasabah BRI Dibobol, Rentang Waktu Dua Hari Uang Rp 203 Juta Lenyap

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Grobogan – Ahmad Imron Rosidi nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) warga Dusun Kanusan Desa Sembungharjo Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan tak menyangka uang simpanannya lenyap dari rekening. Uang simpanan sebesar Rp 203 juta itu lenyap dibobol orang tak dikenal.

Melalui kuasa hukum korban, Darda Syahrizal S.H, menyampaikan, peristiwa ini terjadi setelah 5 tahun korban menggunakan rekening BRI dan tidak pernah terjadi pembobolan. Setahun setelah korban menggunakan fasilitas BRImo atas tawaran customer BRI KC Purwodadi, barulah kasus ini terjadi.

Bacaan Lainnya

“Saat itu, korban menyampaikan laporan kehilangan ATM,” ucap Darda, Kamis (16/07/2020).

Untuk diketahui korban adalah seorang Founder sekaligus Pembina Keluarga Besar Ruqyah Aswaja (KBRA), yang memiliki pengurus cabang di penjuru Indonesia dan beberapa di luar negeri. Dirinya tercatat sebagai nasabah BRI KC Gresik yang tinggal di Dusun Kanusan RT 03/RW 01 Desa Sembungharjo Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Dia menjelaskan, Kyai Imron tidak bisa langsung bergerak ke BRI KC Purwodadi karena kejadian pembobolan itu terjadi saat hari libur, yakni 30 dan 31 Mei 2020.

“Yaitu Sabtu, Ahad dan Hari kesaktian Pancasila di hari Senin. Kemungkinan besar pembobol sudah merencanakan hal ini, dan baru hari Selasa beliau langsung mendatangi kantor BRI KC Purwodadi untuk melaporkan kejadian tersebut,” ungkapnya.

Darda mengaku telah melayangkan 2 kali somasi ke BRI KC Purwodadi yang ditembuskan ke BRI Pusat dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diperkuat dengan bukti-bukti pembobolan.

“Akan tetapi, tidak ada itikad baik untuk melakukan penyelesaian maupun pengembalian uang yang hilang dari rekening Kyai Imron. Mereka lepas tangan atas kasus tersebut, dan kekeh menyatakan kesalahan nasabah,” tambahnya.

Pihaknya menyayangkan jawaban dari BRI KC Purwodadi tersebut. Tidak adanya tanggung jawab atas transaksi yang terjadi pada rekening korban. Padahal terbukti, rekening korban telah dibobol melalui Internet Bangking.

“Kejanggalan kasus pembobolan ini, dilihat dari nomor kyai Imron yang tidak aktif pada saat kejadian. Bahkan, hingga saat ini nomor itu tidak aktif. Dugaan kuat ada oknum yang mengalihkan kepemilikan nomor kyai,” kata Darda.

Darda juga menyayangkan lemahnya sistem keamanan perbankan BRI, sehingga mudah untuk dijebol.

“Kami akan melakukan segala upaya terbaik untuk mendapatkan hak klien sekaligus Kyai dan guru kami. Uang harus kembali,” ujar pengacara asal Cepu Kabupaten Blora ini.

Sementara itu, di dalam kedua surat jawaban somasi yang bertandatangan Pimpinan Cabang BRI KC Purwodadi, Henny Sumardiyanti, dikirim kepada kuasa hukum korban, diantaranya untuk surat pertama bernomor R.907KC-VIII/LYI/06/2020 dan ke dua bernomor R.939/KC-VIII/LYI/06/2020.

Dalam surat tersebut, Henny menyampaikan hal yang sama, bahwa pengelolaan M-Token dan Password adalah rahasia pribadi dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya pemilik rekening.

“Bank BRI tidak pernah meminta nasabah untuk memberikan User/Password/Token/OTP dan Bank BRI mengimbau nasabah untuk selalu menjaga kerahasiaannya serta tidak mengikuti arahan dari pihak manapun. Sehingga jika terjadi kerugian, Bank BRI tidak dapat melakukan penggantian kerugian tersebut,” katanya dalam surat somasi tersebut.
(Arifin)


Loading...

Pos terkait

Loading...