Dulunya Tukang Parkir, Kumaedi Jadi Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM I Labuhanbatu
Kumaedi SH, sosok pria bersuku jawa ini adalah Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu. Dibalik kesuksesannya saat ini, Kumaedi telah melewati masalalu yang berliku. Bahkan dirinya juga pernah menjadi tukang parkir dan bekerja serabutan lainnya.

Kumaedi lahir di sebuah Pedesaan tepatnya di Dusun Druju Desa Plosogede Kabupaten Magelang Jawa tengah yang jauh dari kota sekitar 8 KM, yaitu dari Kota Muntilan dan sekitar 40 KM dari Kota Magelang.

Kumaedi lahir pada tanggal 10 April 1967 dari seorang Bapak yang bernama Much Asnawi. Bapak dan Ibu Kumaedi dulunya lahir di jaman penjajahan Belanda, bisa di bayangkan betapa susahnya masa kecil kedua orang tuanya yang pakaiannya dari bahan karung goni dan makannya sehari-hari dengan Tiwul dan saat itu Nasi adalah sebagai makanan yang mewah.

Kumaedi ikuti lomba baris-berbaris 17 Agustus pada saat di Papua.

Kumaedi mempunyai lima saudara dan dirinya terlahir paling bungsu. Kakak tertua/pertama adalah seorang perempuan yang bekerja sebagai Pedagang Warung, Kakak ke -2 seorang laki laki berprofesi Polisi, kakak ke- 3 adalah perempuan berprofesi sebagai Polisi Wanita dan kakak yang ke 4 berprofesi sebagai guru SD.

Dulunya, kedua orang tua Kumaedi bekerja sebagai Petani, yakni menanam padi dari 4 petak sawah dari warisan orang tuanya. Kumaedi sewaktu kecil beserta kelima saudaranya bila tidak sekolah atau sepulangnya dari sekolah selalu membantu kedua orang tuanya ke Sawah untuk menanam dan menjaga sawah, karena sawah mereka adalah satu-satunya tumpuan harapan untuk menghidupi dan membiayai seluruh kebutuhan.

Karena kondisi ekonomi orang tua yang hanya seorang petani, maka orang tua Kumaedi hanya sanggup untuk menyekolahkan seluruh keluarganya hanya sampai tingkat SLTA.

Setelah itu, kelima saudaranya berturut turut setelah lulus SLTA merantau Ke Ibu Kota Jakarta untuk berjuang merubah nasib agar menjadi lebih baik walaupun tidak punya saudara Pejabat, Polisi, Tentara ataupun apapun di tempat perantauan karena keluarganya semua asli dari latar belakang Petani.

Kumaedi waktu kecil, untuk ke Sekolah Dasar dirinya sudah terbiasa berjalan kaki melewati pematang sawah dan menyeberangi titian sungai kadang bersepatu dan kadang pula beralaskan sandal jepit. Sedangkan saat SMP, perjalanan sekolah yang harus ditempuh berjarak 7 km dengan naik sepeda ontel, dan ketika SMA pun yang berjarak seiktar 17 KM juga dilakukannya dengan bersepeda. Semua itu lakukan Kumaedi demi untuk bisa sekolah dan meraih hidup yang lebih baik. Kedua orang tuanya saat itu selalu menasehati anak-anaknya supaya penderitaan dan kesusahan itu hanya cukup untuk saya (Bapak/ Ibu) sedangkan anak anak harus lebih baik.

Kumaedi saat bertugas di Papua mengecek pembangunan jaringan irigasi yang pengerjaannya tidak sesuai bestek.

Kumaedi menamatkan Sekolah Dasar di SDN Negeri Druju Ds. Plosogede pada tahun 1981, kemudian menamatkan SMPnya di SMPN Negeri Gulon pada tahun 1984 dan SMA di SMAN Negeri Kota Mungkit Magelang Jawa Tengah pada tahun 1987.

Sejak kecil Kumaedi telah bercita-cita menjadi anggota TNI, untuk itu dirinya mencoba melamar AKABRI. Namun keberuntungan belum berpihak kepadanya, dua kali test AKABRI yakni di Ajendam di Semarang tahun 1988 dan Ajendam Jogjakarta tahun 1989 dirinya selalu gagal.

Di samping itu, pada tahun yang sama, Kumaedi juga pernah melamar masuk di APDN di semarang dan Akademi Pemasyarakatan di Jakarta, tetapi belum juga berhasil. Kegagalan beberapa kali ini tidak membuat Kumaedi berputus asa dan frustasi. Kedua orang tuanya terus memberi semangat dengan mengatakan harus sabar dan iktiar sertai di sertai doa, yang pada akhirnya semuanya harus di pasrahkan pada Allah karena Tuhan yang maha kuasa adalah Maha Tahu apa yang kita butuhkan dan cocok untuk kita.

Setelah gagal dan gagal mencari kerja, selanjutnya pada awal tahun 1989 Kumaedi memutuskan untuk merantau ke Jakarta numpang hidup sementara dirumah kakak perempuan yang sudah menjadi Polisi Wanita. Saat itu Kumaedi bekerja sedapatnya agar dirinya tidak hanya sekedar numpang tidur tapi berupaya mencari berbagai peluang kerja, yang penting kerja karena sangat malu kalau di cap sebagai pengangguran.

Untuk itu, di awal-awal merantau kerja di Jakarta, Kumaedi pernah menjadi penjaga mobil di pinggir jalan atau yang biasa disebut tukang parkir. Selain itu, dirinya juga bekerja sebagai Sales Perabotan Rumah Tangga, jadi tukang cuci mobil di Poll Perusahaan Taksi di daerah Senin Jakarta Pusat dan pernah menjadi buruh di Pabrik Furnitor Rotan di Komplek Industri Cakung Bekasi.

Ketika kerja serabutan tersebut, awal tahun 1990, Kumaedi mendapat informasi dari surat kabar bahwa Kejaksaan Agung Republik Indonesia membuka lowongan kerja sebagai PNS, selanjutnya dirinya pun bertekad mendaftar dengan ijazah sekolah yang dimilikinya.

Kumaedi bersama istri dan kedua anaknya.

Sesuai dengan pesan kedua orangtuanya, Kumaedi terus berusaha dan berdoa, akhirnya dirinya lulus sebagai PNS Kejaksaan dengan pangkat yang masih rendah. Walaupun demikian itu semua patut saya syukurinya.

Setelah menjadi Pegawai Kejaksaan di Kejaksaan Agung, Kumaedi pun mencoba mencari kontrakan tepatnya di daerah Ciputan Tangerang Selatan. Hal ini dilakukannya agar hidup mandiri dan tidak ingin menyusahkan kakaknya.

Merasa sebagai pegawai rendahan, Kumaedi termotivasi bagaimana caranya agar mendapat karier di Kejaksaan. Untuk itu, pada tahun 2002 Kumaedi mendaftar kuliah mengambil S.I Hukum di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dalam menjalani pendidikan juga tidak mudah, dimana Kumaedi harus membagi waktunya untuk belajar serta menjalankan pekerjaan pokoknya.

Kegigihan dan kerja keras Kumaedi berbuah manis, dirinya berhasil lulus dengan IPK.3.3 dan dapat diselesaikan dengan waktu tepat yakni 4 tahun. Dengan ijasah sarjana dimilikinya tersebut, pada tahun1989 Kumaedi mendaftar menjadi Jaksa. Lagi-lagi hal ini memperoleh hasil yang baik dan akhirnya di nyatakan lulus dan pada tahun 1999 saya mengkuti Pendidikan Jaksa, serta selanjutnya pada tahun 2000 Kumaedi telah lulus di lantik menjadi Jaksa.

Usia yang beranjak dewasa, Kumaedi pun mengenal seorang wanita yang kebetulan tinggalnya tidak jauh dari tempat kosnya. Wanita itu bernama Asmi Sarmakun, ketika hendak pergi dan sepulangnya bekerja, Kumaedi selalu melihatnya.

3 tahun saling mengenal, Kumaedi memutuskan untuk hidup bersama, dan pada tahun 2002 melangsungkan pernikahan di kediaman orang tua wanita yang bersuku Batak tersebut di daerah Ciputat. Kumaedi menikah diumur 34 tahun, sedikit terlambat karena Kumaedi mematangkan dirinya terlebih dahulu dari segi pendidikan dan pekerjaan. Kini, telah dikarunia 2 orang anak perempuan, Anak pertama Anissa Asmilah Safi sudah SMP dan anak kedua Najwa Nurbaiti masih duduk dibangku SD.

Kumaedi bersama anaknya yang pertama, Anissa Asmilah Safi.

Kini, Much Asnawi orang tua Kumaedi masih sehat dan saat ini telah berumur 93 tahun. Namun, Ibunya ibunya Khatimah sudah almarhumah.

Perjalanan Karir di Kejaksaan.
1. Staf pada Biro Umum Kejaksaan Agung RI di Jakarta pada 1 September 1990.
2. Staf Sekretaris Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung RI di Jakarta, 30 Agustus 1998.
3. Jaksa Fungsional pada Kejaksaan Negeri Temanggung, di Temanggung Jawa Tengah, 10 Januari 2001.
4. Kasubsi Sosial Polilitk pada Kejaksaan Negeri Larantuka di Larantuka Kab. Flores Timur NTT, 28 Juni 2001-18 September 2002.
5. Pj. Kasi Pidana Khusus pada Kejaksaan Negeri Kefamenanu di Kab Kefamenanu NTT, 14 Agustus 2004.
6. Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Sampit di Kasongan Kalimantan Tengah, 1 Juli 2007.
7. Kepala seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Wonosobo di Jawa Tengah, 28 Maret 2010.
8. Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Mempawah di Kalimantan Barat, 2 November 2011.
9. Satgas Penanganan Laporan Pengaduan pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat di Pontianak, Juni 2014.
10. Jaksa Fungsional pada bagian Intelijen Kejaksaan Agung RI, Koordinator pada Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Papua di Jayapura, Oktober 2015.
11. Kepala Kejaksaan Negeri Kep. Yapen di Papua, Oktober 2017.
12. Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu Rantauprapat, pada Oktober 2019.

Istri Kumaedi, Asmi Sarmakun beserta anaknya yang kedua, Najwa Nurbaiti.

Pengalaman yang paling berkesan bagi Kumaedi saat bertugas.

Kumaedi selalu bertugas di daerah Timur yang budaya dan kebiasan hidupnya sangat berbeda dengan kebiasan budaya dirinya sebagai orang dari suku jawa, walaupun masyarakat tempatnya bertugas berbeda agama, berbeda kebiasaan dan latarbelakang, tapi Kumaedi dapat diterima di tengah-tengah mereka dan bukan menjadi hambatan dalam pelaksanaan tugas. Kuncinya, menurut Kumaedi, adalah saling menghormati adanya perbedaan, karena itu Kumaedi bersyukur Indonesia Punya Pancasila yang bisa menjadi alat pemersatu bangsa dan perekat bangsa, walaupun berbeda agama, suku, ras, tetapi dapat hidup rukun dan damai.

Selain itu, Kesan yang paling berat yakni saat Kumaedi bertugas di Kalimantan Barat Kabupaten, Mempawa yang saat ini menjadi Kabupaten Pontianak, yang mana istrinya terkena struk sampai saat ini dirinya bertugas di Labuhanbatu. Adanya penugasan yang selalu berpindah-pindah, memaksa dirinya tidak selalu dapat menemani dan menjaga istri saya beserta anak-anaknya.

Meskipun begitu, Kumaedi memanfaatkan waktu waktu untuk berkomunikasi dengan WA untuk menjaga anak serta melepas rindu dengan istrinya. Meskipun pahit, semua itu dilakukannya demi tugas, demi bangsa, demi negara dan demi cita-citanya.

Kumaedi berkomitmen, tugas yang di embannya adalah sebagai ibadah, tugas dan kewajiban yang sudah dipercayakan kepadanya akan di fungsikan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya demi keadilan masyarakat.

Untuk itu, dirinya berusaha agar jangan sampai menyalah gunakan kewenangan, melainkan sebagai sarana ibadah baginya dan mengoptimalkan sebagai Kejaksaan yakni dalam bidang penuntutan, pendidikan bagaimana agar tercipta rasa keadilan kepastian hukum yang ada dimasyarakat.

Prinsip Kumaedi sebagai orang nomor satu di Kejaksaan Negeri Labuhanbatu.

Kebijakan prinsip selaku kejaksaan negeri ini adalah amanah yang dipercayakan Kepala Kejaksaan Negeri dan Kejaksaan Agung maupun dari tuhan yang maha kuasa.

“Maka jabatan yang saya emban ini akan saya gunakan sebaik-baiknya, dan kebijaksaan demi layanan prima kepada masyarakat dan melaksanakan serta fungsi kami secara transparan, tidak boleh menyalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Bekerja sungguh-sungguh adalah sebagian dari ibadah dan harus jadi contoh yang baik untuk pegawai kami dan melakukan pola hidup sederhana, mendekatkan diri dengan masyarakat, sehingga masyarakat merasa nyaman untuk datang kekantor kami sampaikan penjelasan dengan sebaik baiknya,” sebutnya.

Kumaedi saat mengantar tahanan teroris di Nusakambangan.

Hal hal yang menonjol dalam pelaksanan tugas.

1. Drs. Ferdi Meoldan Florensia Nenobeni, BA pada tahun 1998 s/d 1999 bertempat di Sekretarian Panitia Pemilihan Daerah/PPD Kab Kefamenanu (sekarang KPUD), para tersangka sebagai ketua PPD dan Bendahara PPD melakukan penyimpangan dalam biaya perjalanan dinas untuk kegiatan pemantauan dan Pengawasan Pemilu Legislatif tahun 1999 sehingga menimbulkan kerugian negara Rp.870.000.000,-

2. Pensertifikat tanah Fiktif di Kab. Timor Tengah Selatan NTT. Pada tahun 2003 bertempat di kantor BPN Kab. Kefamenanu tersangka selaku staf seksi Pendaftaran tanah melakukan pembuatan pensertifikatan fiktif dengan maksud untuk mendapatkan penggantian biaya pensertifikatan tanah pada program pensertifakatan tanah masal di kab Kefamenanu.

3. Korupsi pada Pengadaan Buku untuk SD, SMP dan SLTA di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Drs. Trimawan Nugrohadi dkk
Pada tahun 2004 bertempat di komplek kantor Bupati Wonosobo, tersangka selaku Bupati Wonosobo melakukan penunjukan langsung dalam pengadaan Buku untuk SD, SMP dan SMA yang dananya bersumbe dari APBD Kab. Wonosobo tahun 2004 sehingga berakibat adanya kerugian Negara/Daerah sebesar Rp. 4.000.000.000,-

Pada tahun 2004 bertempat di Komplek Kantor Bupati Wonosobo tersangka selaku Bupati melakukan penunjukan langsung dalam pengadaan Mobil Pemadam Kebakaran dengan nilai anggaran Rp.900.000.000,- dan sesuai perhitungan BPKP harga mobil tersebut ternyata hanya Rp.670.000.000,- sehingga menimbulkan kerugian negara sebesar Rp.230.000.000,-

4. Korupsi dana Bansos di Kab. Wonosobo dengan tersangka Yasir bin Sabichun, dkk
Pada awal tahun 2009 bertempat di Desa Kepil Kec. Kepil Kab. Wonosobo melakukan pemungutan terhadap desa-desa yang mendapat Bantuan Sosial/ Bansos dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan modus tersangka sebagai orang yang mengurus penganggaran dan pencairan dana tersebut.
Tersangka ditangkap ketika sedang menjalankan aksinya memotong dana tersebut terhadap para kepala desa.

Kumaedi melakukan Bhakti Sosial ke masyarakat.

5. Korupsi pada Pembangunan Sekolah di Kalimatan Barat dengan tersangka Drs. Busri Spd. Mpd. dkk
Pada bulan Juli 2007 s/d Desember 2007 Bertempat di Mempawah kab. Pontianak Kalimantan barat, tersangka selaku Kasi SMP telah melakukan pungutan liar terhadap Plt Kepala Sekolah SMPN.4 Kuala Mandor B Kab. Pontianak ketika menerima dana Rp.1.147.299.000, 00. Untuk membangun sekolah baru dengan alasan penggantian biaya pengusulan dan pengurusan anggaran tersebut, sehingga berakibat gedung sekolah tidak sempurna selesai dikerjakan.

6. Korupsi pada ganti rugi pembebasan untuk pembangunan Lapas Kelas I A Pontianak oleh para tersangka Drs. Sholikhin, Erfan Effendi SH, H. Muhammad Menos Erry MM, Drs. SudaryonoTeguh Wibowo, Sehono SH, Drs. M Yusuf Abdullah Prof. Abdul Bari Azed SH MH, saksiImam Santoso, SH, MM, Johanes Sri Triswoyo, SH, G Edy Suyanto Bc.Ip, Andi Tahadan Alfiansyah.

Para tersangka ini yang terdiri dari Pejabat di Rutan kelas II A Pontianak, Kanwil Kementrian Hukum dan HAM dan Pejabat teras di Kementrian Hukumdan HAM serta Broker Tanah, padabulan Mei 2008 sampai dengan bulan Februari 2011 telah bersekongkol untuk mengajukan anggaran pembayaran pembebasan tanah Rp. 12.380.775.000,- yang ditempati Lapas Kelas II Pontianak padahal tanah tersebut adalah sudah milik lapas Kelas II A Pontianak.

Ternyata setelah pemabayaran ganti rugi tanah tersebut, para pejabat di atas mendapatkan bagian dari Dana Ganti rugi yang diterima dari para broker. Kerugian Negara adalah total los.
Korupsi pada ganti rugi terminal di Sungai Raya Kalimantan Barat. Dengn tersangka Drs. Agus Salim (mantan Bupati Pontianak).

Pada tahun 2006 s/d 2007 tersangka Agus Salim selaku Bupati Pontianak telah melakukan pembayaran ganti rugi tanah eks Terminal sungai Raya sebesar Rp. 3.042.000.000,- padahal terhadap tanah tersebut sebelumnya telah dilakukan ganti rugi sebesarRp. 800.000.000,- dan akhirnya di temukan bahwa penerima ganti rugi tersebut ternyata bukan pemilik sebenarnya. Sehingga akibat perbuatan tersebut terjadi kerugian negara total los. tahun 2015 dengan nilai anggaran Rp.8.000.000.000,- pada Sekretaris Daerah Kab. Sarmi Tahun 2015.

7. Penyidikan tindak pidana korupsi dalam pembangunan Patung Usker Afatan tahun 2015 dengan tersangka Victor Pekpekai, Yulianus Mayor, Muh Hadi Kuswanto yang masing-masing diberkas terpisah.

8. Penyidikan tindak pidana korupsi dalam pengadaan Solar Cell pada Setda kab. Sarmi tahun anggaran 2015 dengan tersangka Victor Pekpekai, Mardiles Kiki Sembay dan Yulianti Dawling (masing masing diberkas terpisah).

9. Melakukan penuntutan perkara tindak pidana korupsi dalam pembangunan bendungan irigasi di Kab. Sarmi Th.2012 dengan terdakwa Robiyanto Salulinggi.

Motivasi bagi adik-adik yang ingin mengejar cita-citanya.

Jangan minder atau berkecil hati karena latar belakang yang serba kekuarangan, tapi raihlah apa yang di cita-citakan dengan perjuangan yang pantang menyerah di sertai doa kepada Allah, karena semua yang kita terima adalah bagian dari kekuasaan dan kemauan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sekali lagi harapan dan keinginan harus diperjuangkan, karena itu pada setiap pelajar harus sungguh-sungguh belajar agar memperoleh pengetahuan yang optimal.

Bila kita dapat pekerjaan dan jabatan, itu adalah amanah Tuhan yang Maha Kuasa, karena itu jangan sia-siakan dan kerjakan dengan sebaik baiknya dan sungguh sungguh sebagai ladang ibadah, jangan khianati kepercayaan/amanah itu. Jangan sekali lagi selewengkan Pekerjaan/amanah yang kita terima karena pemberian itu dasarnya adalah kepercayaan kepada kita. Ingat Pekerjaan/Jabatan itu sementara sewaktu waktu bisa di cabut atau di tarik oleh pemberi kepercayaan itu.

(Randi)


Loading...

Pos terkait

Loading...