Covid-19 Capai 125 Kasus, Dinkes Blora Targetkan 3.000 Swab Test

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Blora – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora menyatakan hingga saat ini masih terjadi penambahan kasus Covid-19 baru, karena terus dilakukan testing dan tracing melalui swab test.

“Hal itu menunjukkan masih terjadi penularan dimana-mana, dan kami menemukan klaster baru seperti di dukuh Blingi Kecamatan Tunjungan dan Kecamatan Blora, selain di Balongan Kecamatan Jiken,” ungkap Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora Lilik Hernanto, SKM, M.Kes, dalam konferensi pers di media center posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Blora, Kamis (23/07/2020).

Bacaan Lainnya

Berdasarkan monitoring data website corona.blorakab.go.id pada Kamis (23/07) pukul 11.01 WIB jumlah reaktif rapid test 57, sedangkan positif covid-19 mencapai 125. Dengan demikian, kata Lilik, masih ada penularan, yang artinya resiko-resiko ini masih akan terus terjadi kalau tidak mentaati protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.

“Untuk saat ini rapid sudah tidak direkomendasi, hanya pada kondisi-kondisi darurat, karena keakuratannya untuk diagnostik sudah tidak dipakai. Hanya dipakai untuk kegawatdaruratan saja. Kalau untuk diagnostik, tetap dilakukan melalui swab test PCR. Sehingga saat ini, hampir setiap hari petugas Dinkes Blora melakukan testing,” jelasnya.

Lilik menambahkan bahwa, kalau ada kasus tentu saja akan dicari, ditelusuri, kontak dengan siapa saja, dimana saja pernah bertemu dengan penderita yang positif Covid-19.

“Tracing dilakukan untuk mencegah penularan baru. Jadi testing dan tracing dilakukan sebanyak-banyaknya. Bahkan kita ditarget untuk bisa melakukan 3.000 swab test, dan saat ini kita masih sekitar di angka 30 persen,” ungkapnya.

Lilik mengatakan pihaknya tidak bisa mengklaim masih aman atau masih hijau, kalau belum melakukan testing dan tracing.

“Itupun secara epidemiologi hanya fenomena gunung es, yang terlihat di permukaan. Kita harus mencari sebanyak-banyaknya melalui testing dan tracing untuk memotret yang sebenarnya, penularannya sejauh mana,” tambahnya.

Pihaknya meminta kepada warga masyarakat untuk membantu dan mendukung adanya testing dan tracing yang dilaksanakan. Karena diakui masih sering mengalami kesulitan.

“Banyak warga yang tidak mau di swab test, atau pun di rapid tes pun tidak mau. Belum ada kesadaran yang tinggi,” kata Lilik.

Selanjutnya setelah dilakukan test dan tracing serta sudah diketemukan, pihaknya akan melakukan treatment.

“Kalau dia tanpa gejala, sesuai SOP baru, maka cukup isolasi mandiri di rumah, istirahat yang cukup, dengan gizi makanan yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh, pikiran yang baik selama minimal 10 hari,” lanjutnya.

Tetapi kalau saja ada gejala ringan hingga gejala berat setelah dilakukan treatment, maka harus dirawat di rumah sakit untuk dilakukan pengawasan dan perawatan oleh medis.

“Tetap kita lakukan evaluasi, minimal satu kali negatif tes nya. Kalau sudah tidak ada gejala sakit, tiga hari kemudian bisa pulang,” kata dia.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, jika ada tetangga yang positif supaya tidak didiskriminasi.
(Arifin)


Loading...

Pos terkait

Loading...