Puluhan Warga Tolak Aktivitas Tambang Pasir Darat

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Blora – Puluhan warga dari dua desa di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora melakukan aksi demo penolakan aktivitas penambangan pasir darat di desa mereka. Warga dua desa yakni Desa Kapuan dan Desa Cabean menyuarakan aksinya dengan mendatangi Balai Desa Kapuan, Senin (27/07/2020).

Para warga ini mendatangi Balai desa menyampaikan penolakan terkait aktivitas penambangan pasir darat yang berada di tengah areal persawahan produktif. Disamping itu, tidak ada sosialisasi dari pihak penanggung jawab kepada warga, mulai dari awal sampai sekarang ini.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, pihak penambang sejak kemarin, Sabtu (25/07) sudah mendatangkan alat beratnya. Akibatnya, Eskavator terpaksa dihentikan warga di tengah sawah. Sebelumnya, warga juga pernah menolak aktifitas ini pada bulan November tahun 2019 lalu.

Penolakan warga cukup beralasan, lantaran lokasi tambang tersebut berada di tengah sawah produktif. Ada kecurigaan, jika operasi tambang tersebut bakal meluas. Hingga membuat longsor lahan sekitar.

Camat Cepu, Luluk Kusuma Agung Ariadi mengaku sama sekali belum melihat secara fisik ijin penambangan tersebut.

“Untuk ijin saya belum melihat fisiknya, segera akan kita koordinasikan dengan Perijinan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Blora. Tapi, intinya warga Desa Kapuan dan Cabean tetap ingin pertambangan pasir dihentikan, suwun,” ucapnya.

Terpisah, Kepala DLH Kabupaten Blora, Dewi Tedjowati mengatakan terkait Amdal atau Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL), izin lingkungannya sudah dan dokumennya masuk kriteria UKL-UPL.

“UKL-UPL itu juga Dokumen Lingkungan seperti Amdal, berupa kajian utk memperoleh IL. Kalau izin operasionalnya saya kurang tahu, karena kalau izin operasionalnya bukan LH yg mengeluarkan,” jelasnya.

Sementara itu, Kades Kapuan, Hariyono beserta Kades Cabean, Kismiaty mengungkapkan hal yang sama ketika dikonfirmasi lewat WhatsApp, mereka mendukung warganya menolak kegiatan pertambangan tersebut.

“Bagaimanapun juga, saya sebagai kepala Desa ikut warga saya. Warga saya menolak, saya juga menolak,” terang mereka.

Lebih lanjut, pernyataan tegas disampaikan petani Desa Cabean. Mereka ingin aktifitas penambangan pasir tersebut tidak beroperasi dan segera ditutup

“Yang kami inginkan tambang ditutup. Jangan beroperasi,” tegas Kusyanto, yang mengaku sawah miliknya berada 100 meter dari lokasi tambang.

Menurutnya, kedalaman galian bisa mencapai 30 meter di bawah permukaan tanah. Sebab, pasir yang bagus jauh berada di bawah permukaan. Itu diketahui saat dia membuat sumur cubin untuk kebutuhan pengairan sawah.

“Saya sendiri tahu, karena di bawah tanah sawah saya terdapat pasir bagus untuk bahan bangunan,” kata Kusyanto.
(Jay/Gntr)


Loading...

Pos terkait

Loading...