SPI Labuhanbatu Tingkatkan Pelayanan Bagi Perempuan Korban Kekerasan

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM I LABUHANBATU
SPI Labuhanbatu bersama Forum Pengada Layanan (FPL) melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pelayanan bagi perempuan miskin korban kekerasan. Salah satu cara yang dikembangkan oleh anggota Forum Pengada Layanan (FPL) untuk mendekatkan akses layanan bagi perempuan korban kekerasan adalah dengan membangun layanan berbasis komunitas (LBK).

Berbeda dengan layanan berbasis institusi seperti Women’s Crisis Center yang memiliki struktur, prosedur, dan mekanisme layanan yang dikembangkan berdasarkan standar-standar tertentu dalam pendampingan perempuan korban kekerasan, LBK lebih bertumpu pada potensi lokal seperti sumberdaya, mekanisme-mekanisme dan cara yang khas pada tingkat komunitas.

Untuk itu, SPI Labuhanbatu melakukan pertemuan Pembelajaran Praktik Baik Layanan Berbasis Komunitas (LBK) yang dilaksanakan di Pantai Cermin Theme Park & Resort selama 2 hari, yaitu, Minggu (26/7) hingga Senin (27/7).

Peserta kegiatan ini di hadiri oleh 6 perwakilan LBK yang berasal dari Desa Tebing Linggahara, Pondok Batu, Perbaungan, Lingga Tiga, Kampung Dalam dan Tanjung Siram, dengan fasilitator kegiatan Lely Zailani selaku Ketua Dewan Pengurus HAPSARI.

Koordinator SPI Labuhanbatu, Henny Rahayu, kepada analisapublik.com, Kamis (30/7/2020) menyebutkan, tujuan dari pertemuan ini untuk meningkatkan kapasitas pengurus LBK, mengenali praktik-praktik baik yang sudah dilakukan LBK sebagai pembelajaran bersama, menghasilkan ide-ide baru yang akan dikembangkan serta membangun strategi bersama untuk keberlanjutan LBK.

Dilanjutkannya, dimulai pada tahun 2016 lalu, SPI Labuhanbatu telah mengembangkan pembentukan konsep LBK di 6 desa serta telah menginisiasi terbentuknya Forum LBK di tingkat kabupaten pada Agustus 2019 dan telah mempunyai Panduan Mekanisme Layanan dan Rujukan bagi Perempuan Korban Kekerasan di LBK.

“Keberhasilan pengembangan LBK merupakan salah satu tujuan lembaga dalam rangka meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan untuk ikut terlibat dalam pembangunan di Desa,” ujarnya.

Selain itu, hasil dari pertemuan ini, menurut Henny, adalah pembelajaran sebagai sumber pengetahuan bersama LBK dan anggota FPL dalam melakukan pengembangan LBK untuk mempermudah akses  perempuan korban kekerasan untuk mendapatkan keadilan. Selain memberikan layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan, selama ini LBK juga telah memberikan layanan kepada masyarakat dalam memenuhi layanan hak identitas warga serta berhasil mengadvokasi kebijakan dan anggaran di desa untuk perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan.

Diakhir kegiatan ini, LBK telah menghasilkan program-program untuk keberlanjutan LBK dalam menyikapi dampak dari pandemic covid-19 diantaranya soal krisis sosial, ekonomi dan kesehatan.

“Tujuan utama pengembangan LBK adalah untuk mendorong keikutsertaan komunitas dalam mendorong pemenuhan hak-hak perempuan korban kekerasan. Karena, pengembangan LBK mengandung proses-proses penguatan komunitas, menghargai dan memunculkan cara-cara spesifik komunitas dalam pendampingan perempuan korban kekerasan yang selaras dengan cara dan mekanisme khas komunitas,” jelasnya.

(Randi)


Loading...

Pos terkait

Loading...