Gerakan Jateng di Rumah Saja, Zainal Petir : Harus Dibarengi Solusi

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Semarang – Kebijakan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang akan menerapkan Gerakan Jateng Di Rumah Saja mendapat sorotan dari beberapa kalangan lantaran tidak dibarengi dengan solusi.

Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Jateng tanggal 2 Februari 2021 No. 443.5/0001933 tentang peningkatan kedisiplinan dan pengetatan protokol kesehatan pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tahap II di Jawa Tengah. Masyarakat di Jateng dilarang keluar rumah selama 2 hari, yakni tanggal 6 dan 7 Februari besok.

Bacaan Lainnya

Menurut Zainal Petir, selaku komisioner Komisi Informasi Jateng menilai kebijakan itu bagus karena untuk mencegah kerumunan massa yang bisa berdampak makin massifnya penularan Covid 19, namun mestinya harus diikuti solusi.

“Masyarakat tidak boleh keluar dua hari bagi warga miskin kasihan sekali. Mestinya warga diberi sembako untuk persiapan dua hari itu. Syukur-syukur diberi tambahan nasi kotak bagi warga miskin,” kata Zainal Petir, Jumat (05/02/2021).

Zainal Petir menambahkan untuk penutupan pasar tradisional atau pasar rakyat, dirinya tidak sependapat karena tempatnya transaksi jual beli rakyat kecil. Juga para pedagang yang kebanyakan mencari untung sedikit juga hidupnya dari jualan.

“Pemerintah melalui dinas perdagangan keluarkan anggaran untuk tanda jarak, uang dari negara. Ganjar bisa saja memberlakukan pengetatan, misal minta dinas perdagangan melakukan pemasangan tanda jarak 1 meter bagi pembeli. Jangan pedagang yang bikin sendiri, kondisi pedagang mengkis-mengkis,” jelasnya yang juga Wakil Ketua APPSI (asosiasi pedagang pasar Indonesia) Jateng.

Zainal Petir juga khawatir nanti justru terjadi benturan antara pedagang dengan aparat baik, Satpol PP, Polri maupun TNI ketika ada penertiban, karena Ganjar juga minta tolong mereka.

“Sebaiknya yang ditutup tempat-tempat karaoke, wisata, dan panti-panti pijat kecuali pijat tuna netra,” harapnya.

Pihaknya berharap PKL (pedagang kaki lima) jangan disuruh tutup dua hari, diperketat saja kalau tidak pakai masker dan tidak jaga jarak ditindak tegas. Kalau disuruh tutup, maka teman-teman PKL tidak akan bisa hidupi keluarga, kasihan anak isteri.

“Bagi Ganjar, bupati/Walikota, anggota dewan maupun ASN, suruh di rumah saja malah seneng. Selain tidak melayani masyarakat, kalau butuh makan tinggal go food karena uang tercukupi. Apalagi gubernur maupun Walikota/ bupati enak, wong makan disiapkan dari rumah tangga kantor dan pakai uang negara, lha rakyat kecil bisa klenger,” tandasnya. (Jay)


Loading...

Pos terkait

Loading...