Sudah Puluhan Tahun, Pabrik Di Wilayah Muncar Diduga Buang Limbah Ke Laut

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Banyuwangi – persoalan dugaan pembuangan limbah pabrik ke laut nampaknya sudah bergulir puluhan tahun di Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Hal ini dikatakan Asmuni, warga Muncar yang sejak dulu getol menyuarakan keluhan nelayan.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, saluran limbah yang berasal dari pabrik atau perusahaan pengalengan dan penepungan ikan di wilayah Kecamatan Muncar, Banyuwangi yang diduga dibuang ke laut dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan ekosistem biota laut di perairan setempat.

“Jadi disini pembuangan limbahnya ada yang saluran drainase dari perusahaan langsung ke laut, dan ada juga yang dibuang ke sungai kemudian sungai mengalir ke laut,” katanya kepada wartawan, Rabu, (31/3/2021).

Asmuni yang menjadi Ketua Kelompok Nelayan Jala Buang ini juga menyesalkan terhadap Pemerintah atas ketidak transparannya kepada warga masyarakat sekitar yang mencari nafkah hasil laut ini. Bahkan, kejadian yang sudah bertahun-tahun lamanya tersebut serasa dibiarkan.

“Pemerintah tutup mata, laporan ini menjadi labuhnya orang Muncar sendiri dan pengaduan kaitan limbah sudah sering terjadi, tetapi tidak ada solusi sampai sekarang, coba lihat dan turun aja di lapangan,” tegas Asmuni.

Asmuni juga membeberkan pabrik-pabrik yang diduga membuang limbah melalui saluran menuju ke laut maupun ke sungai. Yaitu, PT. Kama Pris, Sumber Asia, Pasifik Harvest, Hongkong, Blambangan Raya,  PT  Sari Laut, Sumberyala, Sareefid, Maya Muncar, PT. NP 1, Fising, dan PT. NP 2.

Semua perusahaan itu berada di wilayah Kecamatan Muncar.

“Jadi perusahaan itu diduga tidak transparan, mereka punya IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah, red) atau tidak dalam pengelolaan limbahnya. Kalaupun sudah ada IPAL kenapa tersedia saluran limbah menuju ke laut, kalau tidak ada IPAL nya sepertinya tidak mungkin, karena itu kan syarat pengurusan ijin perusahaan,” tegas Asmuni saat ditemui wartawan di Pelabuhan Muncar.

Diketahui, Muncar merupakan daerah penghasil ikan terbesar kedua di Indonesia. Asmuni menyesalkan atas limbah yang dibuang ke laut ini, dampak yang lebih signifikan adalah pendapatan ikan berkurang derastis.

Biasanya, lanjut Asmuni, para nelayan kecil hanya mencari disekitaran pesisir saja, kini harus menempuh jarak diatas lima mil dari bibir laut untuk mendapatkan hasil laut.

“Perbandingan itu sebelum dan sesudah ada pabrik lebih dari 50 persen selisihanya,” cetusnya.

Asmuni pun berharap agar Pemerintah membuat perusahaan BUMN atau BUMD yang bergerak dibidang pengolahan limbah, guna memberikan solusi terkait persoalan yang terjadi di wilayah muncar.

“Dulu sudah pernah mau dibuat IPAL terpadu, tetapi ditolak warga. Maka menurut saya solusinya adalah pemerintah harus membuat perusahaan BUMN atau BUMD yang khusus melakukan pengelolaan limbah. Ini kan bagus, sekalian dapat menyerap tenaga kerja juga,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, diberitakan sebelumnya, Fauzan Adzima, seorang nelayan asal Dusun Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, mengeluhkan adanya limbah pabrik yang diduga dibuang ke laut hingga mengakibatkan gatal-gatal dan bau tak sedap.

Sementara, hingga berita ini ditayangkan, pihak analisapublik.com belum bisa konfirmasi ke pihak-pihak perusahaan dan Dinas terkait.

Pewarta : Budi Rosiono


Loading...

Pos terkait

Loading...