Diduga Dibuang Setiap Malam Hari, Limbah Blandet Pabrik ‘Nakal’ Di Muncar Kotori Perahu Nelayan Tratas

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Banyuwangi – Adanya dugaan limbah pabrik yang dibuang ke laut terus dikeluhkan masyarakat. Setelah nelayan kecil lingkungan Sampangan yang mengeluhkan hal tersebut, kali ini muncul keluhan dari nelayan kecil wilayah Dusun Tratas, Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

“Dampak pembuangan limbah pabrik yang di alirkan ke laut juga kita rasakan mas,” kata MS, nelayan asal Dusun Tratas, Desa Kedungringin, Muncar kepada wartawan. Jum’at petang, (2/4/2021).

Bacaan Lainnya

Setiap libur mencari ikan, maka pada pagi harinya perahu yang diparkir di pinggiran laut pasti dikotori dengan limbah blandet (lemak dari minyak ikan,red).

“Kejadian ini sudah lama mas, parahnya lagi airnya kotor dan bau serta menyebabkan gatal – gatal ketika sudah kering pada tubuh kita,” ujarnya.

Menurutnya, limbah blandet tersebut ketebalannya hingga mencapai lebih dari 1 Centi meter (Cm) dalam kurun waktu satu minggu.

“Kalau pas libur mencari ikan semingguan, maka blandet yang menempel di perahu saya tebalnya bisa lebih dari 1 Cm.

“Dan sangat susah dibersihkan, harus digosok menggunakan solar baru bisa bersih.

“jika sudah terlanjur tebal maka harus di kikis menggunakan pisau,” keluhnya.

MS pun menerangkan jika tidak semua perusahaan pengalengan dan penepungan ikan yang saluran pembuangan limbahnya langsung menuju ke laut.

Tetapi sama saja, meskipun saluran limbahnya dialirkan menuju sungai, tetap saja semuanya akan menuju ke laut, lantaran sungai-sungai tersebut mengalir ke laut.

“Kalau sore seperti ini hingga jam 11 malam, tidak ada yg membuang limbah, tetapi setelah jam 12 malam pas orang-orang sudah pada tidur, barulah pabrik-pabrik itu membuang / mengalirkan limbahnya,” bebernya.

Atas kejadian ini, MS mengaku bersama nelayan yang lain sudah sering mengadu atau lapor ke desa namun juga tidak pernah ada respon sama sekali.

“Kami kan kurang mengerti aturan, jadi ya bisanya mengadukan ke pihak desa, sampai kami pun merasa capek, karena sudah sering mengadukannya tetapi ya tetap saja terjadi,” lanjutnya.

MS pun berharap agar limbah – limbah pabrik tersebut tidak lagi dibuang ke laut. Sehingga laut diwilayahnya menjadi bersih, aman dan tidak bau.

“Dulu kalau pas cuaca gerah, kami bisa mandi ke laut, tetapi sekarang kami sudah tidak berani mandi dilaut lagi,” jelasnya.

Ia pun menyesalkan atas kurang tegasnya para pihak terkait dalam persoalan limbah di wilayahnya.

“Kami nelayan kecil yang merasakan imbasnya. Setiap hari kehidupan kami mau tidak mau harus berdampingan dengan bau tidak sedap. Terus sekarang cari ikan juga semakin susah, harus berlayar jauh ke tengah, karena dipinggir sudah susah mendapatkan ikan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Dinas Lingkungan (DLH) Banyuwangi, Khusnul Khotimah menjelaskan, jika pihaknya sudah turun ke lapangan guna menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut.

“Kemarin staf bidang pengawasan sudah tinjau lapang dan ketemu warga serta Kades Kedungrejo. Melihat limbah yang ke pantai. Perlu telusuri sumbernya. Maka tim minta ke warga untuk membantu lakukan itu. Karena kasusnya di lakukan malam hari,” ungkapnya.

Saat ditanya terkait apakah ada pabrik di wilayah Muncar yang memiliki ijin membuang limbah ke lingkungan laut dengan syarat memenuhi baku mutu lingkungan hidup?, Khusnul dengan tegas menjawab belum ada.

“Untuk perusahaan yang outlet IPAL nya langsung laut, harus buat kajian untuk syarat IPLC (Ijin Pembuangan Air Limbah Cair) KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Di Muncar belum ada yang punya itu walaupun sudah ada IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah),” pungkasnya.

Pewarta : Budi Rosiono


Loading...

Pos terkait

Loading...