Banjir Bukan Dampak Pembangunan Bandara,Bupati Kediri Buatkan Solusi Saat Penghujan Tiba

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Kediri.Dalam waktu dekat Kabupaten Kediri sebagai kota yang akan memiliki bandara besar,dan saat ini masih dalam proses pembangunan bertahap hampir sekitar 51 persen pelaksanaanya,hal ini secara langsung mendapatkan perhatian baik dari berbagai kalangan mulai dari pemerintah tingkat bawah hingga pemerintahan pusat.

Proyek pelaksanaan yang tidak sedikit memakan anggaran ini secara sepenuhnya ditanggung oleh pihak swasta yaitu PT.Gudang Garam Tbk,melalui anak cabang perusahaan yaitu PT.SDHI(surya dhoho Investama)dengan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Sesuai rencana, lahan yang diperuntukkan pembangunan bandara sekitar 300-400 hektare.

Direktur PT.SDHI Maksin Arisandi menjelaskan”pada pelaksanan pembangunan Bandara kediri ini secara berjalan sesuai target,yang mana saat ini total pengerjaan sudah mencapai 51 persen,dan kita perkirakan sampai awal 2023 sudah selesai dan siap beroprasi”.sabtu(24/4)

“Ada sekitar 4 desa yang terdampak langsung itu meliputi Desa Jatirejo di Kecamatan Banyakan, Grogol di Kecamatan Grogol, Bulusari dan Tarokan di Kecamatan Tarokan,hal ini menjadi perhatian kami juga
untuk warga di daerah terdampak langsung proyek pembangunan bandara yang dilibatkan dalam pekerjaan tersebut”pungkas Maksin.

“Fokusnya pemberdayaan masyarakat sekitar.Kalau ada warga sekitar yang memenuhi kualifikasi pasti dilibatkan. Karena, kenapa harus mengambil yang jauh jika ada yang dekat”.

Terakhir disampaikan”untuk Groundbeaking atau tanda dimulainya proyek Bandara Kediri, dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan secara virtual, pada 15 April 2020 lalu. Agenda peletakan batu pertama itu terpaksa digelar secara daring karena masih dalam situasi pandemi Covid-19″.

Dilokasi yang sama Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau biasa di sapa Mas Dhito, saat meninjau lokasi bandara bersama Kementrian PUPR,saat ditemui awak media disinggung terkait banjir ia menyampaikan”banjir bukanlah menjadi alasan dari dampak pembangunan bandara,disini banjir terjadi karena kurangnya sumber mata air dan serapan air yang ada di wilayah atas sana,hal ini karena hutan sudah sudah beralih fungsi,seperti yang kita ketahui di Gunung wilis yang sudah berubah menjadi perkebunan bawang merah”.

“Didalam Bandara sendiri ada dua aliran sungai yaitu sungai kolokoso dan sungai Hadisingat,oleh pihak PT.Gudang Garam sudah dibuatkan alternatif sendiri yang mana juga fungsinya akan menahan banjir”.

” Alternatif lainya rencana di dekat bandara akan kita buatkan embung besar,secara fungsinya akan menampung aliran air disaat musim penghujan dan memanfaatkan di musim kemarau”ucap Mas Dhito di akhir wawancara dengan media.(pan)


Loading...

Pos terkait

Loading...