Pertemuan refreshing pemulasaran jenazah penyakit menular puskesmas karanggeneng

  • Whatsapp


ANALISAPUBLIK.COM, LAMONGAN — Puskesmas Karanggeneng menggelar pelatihan pemulasaran Jenazah penyakit menular dan yang terpapar Covid-19. Pelatihan dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Karanggeneng, dengan peserta perwakilan Bapak dan ibu modin  se-Kecamatan Karanggeneng.

Perawat Puskesmas Karanggeneng Asfiin mengatakan, kegiatan pelatihan pemulasaran jenazah covid-19 penting dilakukan sebagai antisipasi agar pihak Rumah Sakit  tidak kewalahan dalam menangani jenazah yang akan dikebumikan.

“Memang ini mendadak karena kemarin di Rumah Sakit Umum Kabupaten Lamongan ada kasus meninggal dengan jumlah yang Meningkat, dalam sehari saja agak kewalahan. Memang, harapannya tidak ada lagi yang meninggal karena kasus covid, namun hanya  mengandalkan RSUD tentu tidak mungkin,” ujarnya dalam keterangan yang didapat,Jum’at(2/7/2021).

drg Poeji hariyani, sebagai narasumber acara menjelaskan, kriteria pasien meninggal dengan protokol Covid-19 adalah, pasien meninggal dalam status suspek covid-19 dengan atau tanpa komorbid yang belum sempat SWAB/RT PCR tetapi sudah ada hasil laboratorium dan hasil rontgen.

Lalu, pasien meninggal dalam probable covid-29 dengan atau tanpa komorbid yang belum sempat SWAB/RT PCR tetapi sudah ada hasil laboratorium dan hasil rontgen pasien DOA (death on arrival) yang memiliki riwayat kontak dengan pasien suspek/probable/konfirmasi, dan pasien yang meninggal dengan status konfirmasi covid-19.

“Selanjutnya urutan pemulasaraan jenazah dengan protokol covid-19 adalah, menutup lubang lubang tubuh dengan kapas yang dibasahi klorin, jeazah dimandikan (disemprot dengan klorin bagi yang tidak boleh dimandikan), jenazah dikafani, dibungkus dengan plastik (kantong jenazah), jenazah dimasukkan ke dalam peti dengan lapisan alumunium voil, peti jenazah dilakukan disinfektan, selanjutnya dimasukkan ke mobil jenazah,” imbuhnya.

Tambah Penjelasan drg.Poeji Hariyani kepala KUPT Puskesmas Karanggeneng  mengungkapkan  petugas minimal dua orang yang melakukan pemulasaraan, tapi kalau yang meninggal berbadan besar tentu harus menyesuaikan. Sedangkan yang melaksanakan pemakaman bisa 6 orang lebih.

“Yang meninggal di rumah karena isolasi mandiri, kita beri bantuan peti, APD, mori, sabun, cotton bud, shampo, dan non muslim kita tambah bantal dan  guling kecil. Kalau ada di masyarakat yang meninggal karena dimungkinkan covid-19 ajukan bantuan. Tapi Kalau meninggal di RSUD kita menerima sudah rapi dalam peti. satu peti mati kami berikan 10 APD, asumsinya 2 untuk yang memandikan, dan 8 untuk yang menguburkan,” terangnya.

Menjawab beberapa pertanyaan dialog dari peserta, terungkap kecemasan para modin karena risiko terpapar, Kabag Kesra Jumiarto menjelaskan jika pelatihan adalah sifatnya memberikan edukasi, dan untuk pelaksanaan di lapangan masih harus ada skema dan alur yang harus dilakukan.

“Pelatihan ini masih bersifat memberikan informasi terkait pemulasaraan jenazah terpapar Covid-19, selanjutnya menularkan ilmu yang didapatkan, bukan berarti jika terjadi KLB pemerintah mengajukan Modin untuk menangani semua, tidak. Tanggung jawab tetap pada pemerintah. Kegiatan ini juga sebagai antisipasi kejadian RSUD over load,” katanya.

“Relawan pemulasaraan jenazah terpapar Covid-19 di Kecamatan Karanggeneng juga ada setiap saat akan membantu beserta ambulan disediakan. Namun lonjakan pasien di Kecamatan Karanggeneng sungguh luar biasa, maka informasi terkait pemulasaraan jenazah terpapar covid perlu kami informasikan kepada masyarakat, utamanya tokoh masyarakat seperti modin,” tambahnya.(Red/Nur).


Loading...

Pos terkait

Loading...