Kemunculan Buaya, BKSDA Pasang Spanduk Peringatan di Parengan Lamongan

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK .COM LAMONGAN   – Demi menghindari terjadinya konflik bahaya antara manusia dengan buaya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jatim telah memasang spanduk peringatan, bahwa Buaya mulai menampakan diri di sungai Bengawan Solo di Desa Parengan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan.Penampakan buaya ini merupakan kali kedua, setelah pada Oktober 2019 di Glagah.
Rabu (30/6/2021) sore kemarin.

Dengan dipasangnya spanduk peringatan tersebut, warga setempat yang kerap melakukan aktivitas di lokasi munculnya buaya itu diharapkan bisa lebih waspada dan berhati-hati. Dalam  beraktifitas yang biasanya dilakukan oleh warga di sekitar sungai yang menjadi habitat buaya itu tinggal meliputi aktivitas memancing, mandi dan mencuci kain tenun.

“Tujuan dipasang spanduk peringatan tersebut adalah agar masyarakat setempat lebih berhati-hati dalam beraktivitas, karena di lokasi ini sering muncul buaya, baik yang berukuran besar maupun kecil,” kata Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) Gresik X Lamongan, Agus Ariyanto saat dihubungi.

Dari data yang dihimpun sebelumnya, diketahui panjang buaya yang muncul tersebut mencapai 1,5 hingga 4 meter. Agus Ariyanto juga menyebutkan, buaya yang muncul ke permukaan sungai itu diperkirakan berjumlah 4 ekor dan muncul di empat lokasi berbeda.

“Tentunya kemunculan buaya dengan ukuran 4 meter tersebut sangat meresahkan masyarakat setempat, apalagi di lokasi ini ada 44 kepala keluarga yang sering mencuci kain tenun di sekitar lokasi,” paparnya.

Agus menjelaskan, bahwa buaya yang muncul ke permukaan itu merupakan buaya liar yang tinggal di muara sungai. Terjadinya penampakan buaya tersebut adalah fenomena tahunan. Sementara itu, terkait penyebab kemunculan dari buaya muara di lokasi tersebut, pihak BKSDA mengaku masih mengkaji lebih mendalam dengan ahli reptil.

Menariknya, meski buaya-buaya itu sering muncul ke permukaan, namun binatang reptil tersebut tidak pernah menganggu maupun memangsa hewan peliharaan warga setempat. Bahkan, buaya tersebut cenderung lari jika dipergoki oleh warga.

“Buaya-buaya itu biasanya muncul antara pukul 10 hingga 11 pagi, dan buaya ini bukan termasuk buaya peliharaan warga yang sengaja dilepas. Buaya ini adalah buaya liar, karena ketika ketemu dengan manusia dia agresif dan lari,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Parengan Slamet Rosyidin mengaku, lantaran saking seringnya terjadi penampakan buaya di bantaran sungai desa, para warga desanya mengaku cemas dengan kemunculan binatang reptil tersebut. Pasalnya, di lokasi kemunculan buaya tersebut sering dijadikan tempat mancing dan mencuci kain tenun, bahkan dijadikan tempat bermain anak-anak.

“Kita khawatir mas, apalagi buaya yang muncul ini berukuran besar. Dari informasi yang saya terima, buaya-buaya itu sudah 8 atau 9 kali muncul ke permukaan. Dan saya juga berterima kasih kepada BKSDA yang sudah merespon keluhan kami,” kata Slamet saat diwawancarai.(*/Nur).


Loading...

Pos terkait

Loading...