Kasus di Rutan Blora Dinilai Banyak Kejanggalan, Begini Tanggapan Pengamat Sospolbud

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Blora – Mencuatnya kasus yang terjadi di Rumah Tahanan (rutan) Kelas II B Blora dinilai banyak pihak terdapat kejanggalan. Salah satunya Gus Asim, pengamat Sosisal, Budaya dan Politik yang mendukung agar diungkap hingga tuntas.

Menurutnya, kasus yang menimpa korban (Sutono) ini harus dilihat dari berbagai aspek. Tak hanya dugaan pungli, tapi juga karena mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.

Bacaan Lainnya

“Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dan jadi catatan penting dalam kasus ini. Pertama tindak kekerasan, dan pungli terkait uang blok Rp 3.500,000. Uang apa ini, untuk siapa uang ini harus jelas, serta dikirim ke rekening siapa penerima uang ini. Dikarenakan warga binaan sudah ditanggung oleh Negara. Kalau sampai kasus ini, tidak terungkap akan menjadi insiden buruk bagi hukum, dan HAM,” katanya melalui sambungan teleponnya, Sabtu (24/07).

Gus Asim menegaskan, fakta hukum di Indonesia harus ditegakkan dan dijalankan serta tidak tebang pilih bagi siapapun pelakunya. Apalagi menurutnya, korban adalah warga binaan titipan Pengadilan Negeri (PN) Blora seharusnya mendapat perlakuan yang baik meskipun sebagai warga binaan.

“Kasus ini harus diungkap sesuai fakta serta harus dipublikasikan oleh media agar masyarakat tahu. Warga binaan kalau sudah bebas bisa kembali ke masyarakat dan berubah lebih baik,” tambahnya.

Dirinya menyarankan kepada pihak keluarga korban, LBH, aktivis hukum, dan awak media di Blora, supaya melayangkan surat resmi ke Kementrian Hukum dan HAM yang menaungi Rutan kelas llB Blora, untuk membentuk tim penemu fakta, serta tembusannya diberikan ke Presiden RI, Kapolri, Komnas HAM, Kapolda Jateng, Gubenur Jateng, Bupati Blora, DPRD Blora, dan Kapolres Blora, terkait kasus ini, dikarenakan menyangkut nyawa seseorang.

Sementara itu, Dedi Cahyadi selaku Kalapas Kelas II B Blora sebelumnya mengatakan bahwa korban titipan PN dan baru ditahan di rutan baru 10 hari. Pihaknya enggan disebut lalai dalam penanganan kesehatan para napi. Menurutnya, dirinya sudah melakukan semaksimal mungkin menangani para napi, mulai dari awal masuk hingga penempatan kamar serta kesehatan.

“Penanganan terhadap almarhum ini kami sejak awal sudah sangat maksimal, penanganan medisnya, kemudian penempatan kamarnya, kemudian memfasilitasi tim PH (pendamping hukum) nya untuk ketemu kliennya. Kalau untuk diagnosa (korban) kemarin itu ganguan elektrolit dan penyakit gula yang sudah cukup parah informasi dari dokter,” terangnya.

Terkait dengan informasi intimidasi dan permintaan uang oleh oknum petugas atau napi lain, Dedi menegaskan langsung mengkroscek ke seluruh anggotanya terkait hal itu. Dedi pun membantah adanya uang setoran di dalam blok rutan. Pihaknya menduga permintaan uang dari korban kepada keluarganya untuk memenuhi kebutuhan korban di dalam rutan. Bahkan, dirinya mengimbau kepada para napi agar tidak saling menipu.

“Karena kondisinya dia (korban) itu lemah, ya mungkin (uang) untuk (kebutuhan) bantu-bantu dia nyuci bajunya,” tambah Dedi.

Sebelumnya diberitakan, LBH Kinasih Cepu meminta pertanggungjawaban dari Rutan Kelas II B Blora lantaran dinilai ada kelalaian atas meninggalnya Sutono alias Barongan saat menjalani perawatan di RSUD Blora pada Jumat (16/07). Klien LBH Kinasih Cepu yang ditahan selama 10 hari itu didakwa atas dugaan penebangan kayu hutan dan sidang lanjutannya akan digelar oleh PN Blora pada tanggal 28 Juli 2021 nanti.

Sebelum menjalani perawatan di RS, korban sempat meminta uang kepada keluarga sebanyak 3,5 juta rupiah dari rutan. Korban juga bercerita jika ia mendapat intimidasi untuk membayar uang blok di dalam rutan. Akan tetapi, korban tidak memberitahu siapakah yang meminta uang tersebut. (Jay)


Loading...

Pos terkait

Loading...