Pencemaran Limbah PT. AKS, Warga Mau Mengadu ke DLH Blora Terjegal Ketua RT

  • Whatsapp

ANALISAPUBLIK.COM | Blora – Sejumlah warga Desa Kamolan Kecamatan Blora kota sempat mau mengadu ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) lantaran terdampak adanya pencemaran lingkungan akibat limbah penggilingan padi dan jagung milik PT. Angkasa Karya Sejahtera (AKS).

Sulastri selaku pengadu yang rumahnya berdampingan dengan tembok pabrik mengaku pada tanggal 13 Oktober 2020, dirinya sempat berusaha untuk mengadu ke DLH Blora. Namun usahanya itu terjegal lantaran tidak mendapatkan tanda tangan ketua RT 001, sehingga tidak dilanjutkan meminta persetujuan kepala desa setempat. Padahal, dirinya sudah mendapatkan 10 tanda tangan tetangganya dari rencana total 20 warga yang terdampak akibat pencemaran limbah itu.

Bacaan Lainnya

“Pernah ditanyakan pak Toha dari DLH jadi mengajukan apa tidaknya. Lha mau gimana, pak RT gak mau tanda tangan ya tidak saya lanjutkan,” ucapnya, Rabu (11/08).

Dirinya menambahkan, ketua RT tidak mau tanda tangan ketika dimintai persetujuan dengan alasan tidak usah melaporkan permasalahan ini. Masyarakat menduga ketua RT 001 mendapatkan kompensasi tiap bulannya dari PT. AKS sehingga enggan menandatanganinya.

“Gak usah lapor-laporan gitu. Ya mungkin pak RT dapat (kompensasi) tiap bulan dari pabrik,” tambah Sulastri.

Ia yang tinggal di situ sejak 1993 dan tidak pernah dimintai pembahasan atau persetujuan dengan kegiatan pabrik. Dia juga sempat protes kepada pihak pabrik PT. AKS lantaran debu (abu sekam) sampai di lantai rumahnya yang dimulai sejak 29 September 2020. Sedangkan puncak pencemaran, lanjutnya terjadi pada tanggal 3-8 Oktober dengan jumlah abu sekam dan slawer/slamper yang sangat banyak.

“Dulu yang pertama-tama di lantai saya juga ada debu sekam sampai kayak gitu (foto dokumen aduan warga), tiap hari nyapu bersihkan. Pas ketika cerobongnya rusak gitu, kita mengadu ke pak Bere (HRD PT. AKS) dan jawabnya sedang perbaikan dan mohon maaf. Masak perusahaan sebesar itu memperbaiki cerobong kok bertahun-tahun,” ujanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh warga setempat berinisial A yang mengatakan bahwa sempat ada yang akan mengadukan pencemaran lingkungan akibat limbah PT. AKS, namun tidak mendapatkan rekomendasi dari ketua RT. Dia mengaku pasrah lantaran pengaduan itu ditolak oleh RT.

“Kemarin dari warga ada yang mau melaporkan ke DLH, tapi ndak bisa masuk karena gara-gara gak ada rekomendasi dari RT. Bingung mau mengadu kemana, jadinya pasrah saja,” kata warga yang enggan disebut namanya.

Akibat adanya limbah sejak 2013 itu, dirinya mengaku merasakan gatal-gatal dan sesak napas. Selama ini, ia juga tidak pernah dimintai persetujuan atau pembahasan apapun mengenai kegiatan PT. AKS. Ia hanya mengetahui bahwa pabrik memiliki 2 mesin oven.

“Sering merasakan gatal-gatal, kadang ya sesak napas juga. Setahu saya, pabrik punya dua oven dan warga hanya mintai tanda tangan kehadiran saat ada acara makan-makan. Itu dipakai buat apa juga aku ndak tahu,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah masyarakat mengeluh adanya limbah dari pabrik penggilingan padi dan jagung di Kamolan Kecamatan Blora kota. Mayoritas warga mengeluhkan mata kelilipan, sesak napas dan kulit gatal jika melewati pabrik saat beroperasi. Berdasarkan pantauan di sekitar pabrik, banyak partikel-partikel warna hitam yang menumpuk tebal di selokan (abu sekam) dekat pembuangan limbah. Sedangkan dedaunan pohon di dekatnya, tampak warnanya putih (slawer). (Jay)


Loading...

Pos terkait

Loading...